Dari Budaya hingga Digital Humanities, ENLITE Fest 2026 Perkuat Wawasan Global Mahasiswa
UIN Alauddin Online — International Office (IO) UIN Alauddin Makassar terus memperkuat komitmennya dalam mendorong internasionalisasi kampus melalui International Talkshow ENLITE Fest 2026 bertema Digital Humanities: A Breakthrough. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat Senat Lantai 4 Gedung Rektorat UIN Alauddin Makassar, Kamis, 9 Juli 2026, merupakan kolaborasi antara International Office UIN Alauddin Makassar, ENLITE (English Literature Community), Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora (FAH), serta Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK).
Sebelum memasuki sesi utama, peserta disuguhi penampilan seni yang merefleksikan semangat keberagaman budaya. Mahasiswa internasional asal Thailand menampilkan tarian tradisional dan modern Thailand, dilanjutkan dengan Exhibition Parade oleh mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris yang menampilkan representasi budaya Australia, Amerika Serikat, Mesir, serta budaya lokal masyarakat Kajang, Kabupaten Bulukumba.

Rangkaian kegiatan juga dimeriahkan dengan Culture Exhibition bertema Halal Tourism Destination in Makassar. Melalui maket, media visual, dan standing banner, mahasiswa memperkenalkan potensi wisata halal Kota Makassar sekaligus menyajikan informasi mengenai do's and taboos atau etika sosial dan budaya dari berbagai negara dan daerah sebagai bentuk edukasi lintas budaya.
Mengawali rangkaian acara, Chief of Community ENLITE sekaligus dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris UIN Alauddin Makassar, Syahruni Junaid, S.S., M.Pd., menceritakan perjalanan ENLITE yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Ia mengungkapkan bahwa komunitas tersebut berkembang melalui berbagai tantangan dan keterbatasan, namun tetap konsisten menghadirkan ruang belajar yang mendorong kreativitas, kepemimpinan, dan kolaborasi mahasiswa.

"ENLITE Fest bukan sekadar pertunjukan seni. Ini adalah laboratorium kepemimpinan, laboratorium tanpa dinding yang menghadirkan pembelajaran yang jauh lebih bermakna. Di balik setiap pementasan sastra, mahasiswa belajar memimpin tanpa jabatan, membangun kepercayaan, bekerja sama di tengah perbedaan, menyelesaikan persoalan ketika keterbatasan datang, hingga mengambil keputusan di bawah tekanan. Mereka juga belajar bernegosiasi, berbicara di depan publik, mengelola konflik, serta saling menghormati dan membimbing satu sama lain. Nilai-nilai inilah yang kami yakini akan menjadi bekal penting bagi mereka di masa depan," ujarnya.
Selanjutnya, mewakili Rektor UIN Alauddin Makassar, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora, Prof. Dr. Barsihannor, secara resmi membuka kegiatan. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada Konsulat Jenderal Australia di Makassar atas dukungan dan kesediaannya berbagi wawasan dengan sivitas akademika UIN Alauddin Makassar.
Prof. Barsihannor menegaskan bahwa Digital Humanities merupakan salah satu ruang strategis yang mempertemukan perkembangan teknologi dengan disiplin ilmu humaniora. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk melahirkan lulusan yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya dan kemanusiaan.
"Perkembangan teknologi harus menjadi ruang untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, bukan menggantikannya. Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan generasi yang mampu mengintegrasikan teknologi dengan kekayaan budaya, bahasa, dan peradaban. Forum seperti ini menjadi bagian penting dalam membangun wawasan global mahasiswa tanpa kehilangan identitasnya," ujarnya.
Sebagai narasumber utama, Konsul Jenderal Australia di Makassar, Mr. Todd Dias, memaparkan pentingnya pengembangan Digital Humanities dalam memperkuat kolaborasi internasional. Ia menyoroti hubungan historis antara masyarakat Makassar dan komunitas Yolngu di Australia Utara sebagai bukti bahwa pertukaran budaya telah menjadi bagian dari hubungan kedua negara sejak ratusan tahun lalu.
Todd Dias menjelaskan bahwa transformasi digital telah membuka peluang baru dalam bidang pendidikan, penelitian, dan kolaborasi akademik lintas negara. Namun, perkembangan tersebut juga perlu diimbangi dengan peningkatan literasi digital agar masyarakat mampu menghadapi tantangan misinformasi dan disinformasi.
Pada kesempatan itu, ia turut memperkenalkan Australia Awards Scholarships, program beasiswa Pemerintah Australia yang membuka kesempatan bagi mahasiswa, akademisi, dan profesional Indonesia untuk melanjutkan studi jenjang magister, doktor, maupun mengikuti berbagai program pengembangan kapasitas di Australia.
"Hubungan Indonesia dan Australia terus berkembang melalui pendidikan, riset, dan pertukaran budaya. Kami berharap semakin banyak mahasiswa UIN Alauddin Makassar memanfaatkan peluang seperti Australia Awards Scholarships untuk memperluas pengalaman akademik sekaligus membangun jejaring internasional," katanya.

Sementara itu, Kepala International Office UIN Alauddin Makassar, Dr. Serliah Nur, S.Pd., M.Hum., M.Ed., membawakan materi mengenai Cross-Cultural Understanding sebagai kompetensi yang semakin penting di era global.
Menurutnya, kemampuan lintas budaya bukan sekadar memahami kebiasaan masyarakat dari negara lain, tetapi juga membangun komunikasi yang efektif, menghargai keberagaman, serta mampu beradaptasi dalam lingkungan internasional yang multikultural.
"Internasionalisasi bukan hanya tentang belajar di luar negeri, tetapi bagaimana kita membangun cara berpikir yang terbuka, menghargai keberagaman, serta mampu berkolaborasi dengan masyarakat dari berbagai latar belakang budaya. Di era Digital Humanities, penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan kecakapan lintas budaya agar mampu melahirkan kolaborasi yang inklusif dan berkelanjutan," jelasnya.
Melalui penyelenggaraan International Talkshow ENLITE Fest 2026, International Office UIN Alauddin Makassar bersama para mitra kolaborasi kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung internasionalisasi universitas melalui penguatan jejaring global, pengembangan kompetensi lintas budaya, serta penyediaan ruang akademik yang mempertemukan teknologi, humaniora, dan kolaborasi internasional.