UIN Alauddin Online – Pertukaran budaya, dialog lintas negara, dan penguatan wawasan global mewarnai partisipasi International Office UIN Alauddin Makassar dalam Global Cultural Immersion Program (GCIP) yang diselenggarakan oleh UIN Palopo pada 11–14 Juni 2026 dan berlangsung di sejumlah lokasi di Kota Palopo serta Desa Adat Rinding Allo, Kecamatan Rongkong, Kabupaten Luwu Utara. Program ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk saling belajar, berinteraksi, dan mengenal kekayaan budaya lokal Sulawesi Selatan secara langsung.
Program ini diikuti oleh mahasiswa internasional dan mahasiswa Indonesia yang berasal dari UIN Alauddin Makassar, UIN Palopo, Universitas Hasanuddin, Universitas Bosowa, dan Universitas Muhammadiyah Palopo. Para peserta berasal dari delapan negara, yaitu Thailand, Sudan, Pakistan, Bangladesh, Nigeria, Timor Leste, Suriah, dan Indonesia, sehingga menciptakan ruang interaksi yang mempertemukan beragam latar belakang budaya, bahasa, dan pengalaman dalam satu wadah pembelajaran bersama.
Kegiatan diawali dengan acara pembukaan yang dirangkaikan dengan academic seminar session. Pada kesempatan tersebut, Kepala International Office UIN Alauddin Makassar yang juga dosen Pendidikan Bahasa Inggris, Serliah Nur, menjadi narasumber dengan membawakan materi bertajuk Cross-Cultural Understanding for Global Citizenship.
Dalam pemaparannya, Serliah menekankan pentingnya pemahaman lintas budaya (cross-cultural understanding) di era globalisasi. Ia menjelaskan bahwa kemampuan memahami keragaman budaya (cultural diversity), membangun kesadaran budaya (cultural awareness), serta beradaptasi terhadap perbedaan, termasuk menghadapi culture shock, menjadi keterampilan penting dalam membentuk warga dunia (global citizen) yang mampu hidup berdampingan di tengah masyarakat yang beragam.
"When you're in Rome, do as the Romans do. To be a global citizen, we do not need to abandon our own culture. Instead, we learn to respect, understand, and adapt to other cultures while maintaining our identity," ungkap Serliah.
Usai sesi akademik, peserta bersama mahasiswa dari berbagai negara juga belajar membuat kapurung dan mengikuti heritage tour dengan mengunjungi masjid, gereja, dan kawasan Kerajaan Luwu sebagai upaya mengenalkan keberagaman budaya, sejarah, dan nilai toleransi yang hidup di tengah masyarakat.
Pada hari kedua, peserta mengunjungi Kecamatan Rongkong dan disambut dengan tarian adat penyambutan serta melihat secara langsung proses pembuatan kain tenun tradisional. Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan budaya lokal dengan perspektif internasional.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke sekolah dasar pada 13 Juni 2026 untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dan ditutup dengan cultural performance yang menghadirkan beragam pertunjukan seni dan budaya. Penampilan tersebut melibatkan mahasiswa, komunitas seni, serta peserta internasional, di antaranya penampilan dari Universitas Cokroaminoto Palopo, sanggar seni Desa Adat Rinding Allo, Tari Kipas yang dibawakan oleh mahasiswa asal Thailand, pertunjukan tari oleh mahasiswa asal Sudan dan Suriah, serta penampilan menyanyi dari mahasiswa asal Pakistan dan Timor Leste. Beragam penampilan tersebut menjadi ruang dialog budaya yang mempererat kebersamaan sekaligus memperkenalkan keberagaman tradisi dari berbagai negara dan daerah.
Partisipasi dalam GCIP menjadi salah satu upaya International Office UIN Alauddin Makassar dalam memperluas jejaring internasional sekaligus menghadirkan pengalaman belajar lintas budaya yang berdampak bagi mahasiswa. Melalui interaksi langsung dengan berbagai budaya dan komunitas, program ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat kewargaan global serta memperkuat peran UIN Alauddin dalam mendorong internasionalisasi kampus yang inklusif dan berkelanjutan.
Alat AksesVisi