Gambar Disiplin Tanpa Kekerasan, Warek IV UIN Alauddin Dorong Pendidikan Humanis

Disiplin Tanpa Kekerasan, Warek IV UIN Alauddin Dorong Pendidikan Humanis

UIN Alauddin Online – Pendidikan yang bebas dari kekerasan bukan berarti menghapus aturan dan kedisiplinan. Bagi Wakil Rektor IV UIN Alauddin Makassar, Prof. H. Muhammad Amri, disiplin tetap dibutuhkan dalam pembentukan karakter peserta didik, tetapi penerapannya harus mengedepankan pendekatan humanis dan tidak merendahkan martabat anak.

Pandangan tersebut disampaikan Prof. Muhammad Amri saat menjadi narasumber dalam Kampanye Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan bertema “Stop Kekerasan, Lindungi Anak, Wujudkan Pendidikan Bermartabat” yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Boulevard Makassar, Minggu (9/8/2026).

Prof. Muhammad Amri yang juga Direktur Pesantren IMMIM Putra dan Dewan Pakar ICATT menilai aturan tetap menjadi bagian penting dalam pendidikan. Namun, pelanggaran terhadap aturan tidak semestinya direspons dengan hukuman fisik maupun tindakan yang dapat merendahkan peserta didik.

“Disiplin tetap penting, tetapi penerapannya harus humanis. Anak perlu memahami aturan dan mengetahui konsekuensi logis ketika melakukan pelanggaran, bukan menerima hukuman fisik,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan konsekuensi logis dapat membantu peserta didik memahami hubungan antara tindakan dan akibat yang ditimbulkannya. Dengan demikian, pembinaan tidak semata-mata diarahkan agar anak takut terhadap hukuman, tetapi mendorong tumbuhnya kesadaran dan tanggung jawab.

Pendekatan tersebut, lanjutnya, memungkinkan pendidikan tetap memiliki ketegasan tanpa menjadikan kekerasan sebagai instrumen pembinaan. Ketegasan dan kasih sayang tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan dalam mendidik anak.

Persoalan kekerasan dalam pendidikan juga mendapat perhatian dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar, H. Muhammad. Ia mengingatkan bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Di lingkungan madrasah, kekerasan verbal seperti ejekan dan bullying juga perlu mendapat perhatian serius.

“Di madrasah, kekerasan yang sering muncul lebih banyak dalam bentuk verbal, seperti saling mengejek dan bullying. Karena itu, kepala madrasah dan pengawas harus terus melakukan pembinaan dan memastikan lingkungan madrasah benar-benar ramah bagi anak,” katanya.

Sementara itu, Founder Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC) yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Alauddin Makassar, Prof. Hj. Nur Hidayah, menyoroti aspek lain dalam pencegahan kekerasan, yakni pentingnya kasih sayang dan kepekaan terhadap kondisi anak.

Menurutnya, peran guru tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan. Lingkungan pendidikan juga perlu menghadirkan rasa aman dan perhatian agar peserta didik merasa dihargai dan diperhatikan.

“Guru tidak cukup hanya datang mengajar. Harus ada cinta dan kasih sayang kepada anak-anak. Kalau tangki cinta dan kasih sayang kita kosong, bagaimana kita bisa membagikannya kepada anak-anak?” ujarnya.

Prof. Nur Hidayah juga mengingatkan orang tua dan guru agar peka terhadap perubahan perilaku anak. Perubahan yang muncul secara tiba-tiba, seperti anak menjadi lebih pendiam, sering menyendiri, menangis tanpa sebab yang jelas, atau mengalami perubahan emosi secara drastis, menurutnya, perlu mendapat perhatian dan tidak boleh diabaikan.

Kampanye tersebut merupakan hasil kolaborasi Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT), Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC), Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Makassar, Permabudhi, Pelita Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Selatan, serta Kelompok Kerja Pengawas Pendidikan Agama Provinsi Sulawesi Selatan.

Selain talk show pendidikan, rangkaian kegiatan juga menghadirkan pemeriksaan kesehatan, donor darah, dan edukasi kesehatan. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya bersama memperkuat kepedulian terhadap perlindungan anak dan membangun lingkungan pendidikan yang aman serta bermartabat.

Previous Post Dekan FSH UIN Alauddin Dorong Kader Ulama Berpikir Kontekstual Hadapi Era Disrupsi
Next Post Diperkenalkan Wamen HAM, Lulusan FSH UIN Alauddin Jadi Penggerak HAM di Makassar