Start typing & press "Enter" or "ESC" to close
Home
Profil
Pimpinan
Sejarah
Lambang
BLU
Visi Misi & Tujuan
Struktur Organisasi
Fasilitas Kampus
Peta Kampus
Fakultas
Syariah & Hukum
Ekonomi & Bisnis Islam
Tarbiyah & Keguruan
Ushuluddin & Filsafat
Dakwah & Komunikasi
Adab & Humaniora
Sains & Teknologi
Kedokteran & Ilmu Kesehatan
Program Pascasarjana
Lembaga
LEMBAGA
Penjaminan Mutu
Penelitian & Pengabdian Masyarakat
UPT
Pusat Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
Perpustakaan
Pusat Bahasa
Pusat Pengembangan Bisnis (P2B)
Satuan Pengawas Internal (SPI)
International Office (IO)
Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID)
Character Building Program (CBP)
Carier Development Center (CDC)
Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP)
Unit Pengelola Zakat (UPZ)
Poliklinik Asy-Syifaa
Biro
Biro AUPK
Kepegawaian
Perencanaan
Keuangan
Biro AAKK
Akademik
Umum
Kemahasiswaan
Kerjasama
Sistem Informasi
Portal Mahasiswa Dan Dosen
Portal Alumni Dan Karir
Portal Kepegawaian/SDM
E-Kinerja
Pustipad Helpdesk
Sister
Kuliah di UIN
Penerimaan Mahasiswa Baru
Unit Kegiatan Mahasiswa
Kartu Indonesia Pintar (KIP)
Agenda
🌐 ID
🇮🇩 Indonesia
🇬🇧 English
🇸🇦 Arabic
Dari Dua-Tiga Buku, Anak-anak Nasrullah Pun Bersekolah
07 Agustus 2010
Penulis: .
Facebook
Twitter
Linkedin
WA
BANYAK jalan menuju Roma, demikian kutipan peribahasa untuk menggambarkan begitu banyaknya jalan atau cara untuk bisa menuju ke tujuan. Dan Nasrullah, seorang pedagang buku yang menghabiskan hari-harinya di Kampus I, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin, Makassar, sangat percaya dengan hal itu. Yang membuatnya juga bertambah yakin, Tuhan tak akan membuat umatnya sengsara. "Begitu banyak memberi rezeki di dunia ini, dan manusia tinggal memilih pintu rezeki yang mana dipilihnya," ujar Nasrullah. Dari keyakinan itu, 10 tahun lalu, Nasrullah mengawali perjalanannya menjual buku. Pertama, ia hanya menjual beberapa buku saja --sejalan dengan modal seadanya. Lalu yang laku hanya dua atau tiga buku. Meski sedikit, Bapak tiga anak ini tak pernah mengeluh atau menyerah. "Bagaimana tidak, saat itu hanya dengan jualan buku ini, saya berharap bisa makan," jelasnya. Lambat laun, jualannya makin beragam. Dari buku-buku umum hingga yang khusus berisi soal-soal keagamaan, ada di lapak jualannya. Apalagi ia menjualnya di lingkungan UIN yang saat itu masih bernama IAIN Alauddin. "Buku-buku tentang Islam banyak yang suka. Tapi peminat untuk buku yang isinya soal politik atau pengetahuan umum juga ada," tambahnya. Jenis buku yang dijualnya berbagai macam. Tidak hanya berbau pendidikan, tetapi juga buku sosial, umum, sains murni, bahkan buku komputer pun ada di deretan koleksi Nasrullah. Karena jenis buku yang variatif, banyak mahasiswa dan dosen memilih mencari buku di tempat Nasrullah, los yang diberi nama Eka Islamika --nama dari salah seorang anaknya. Tahun berganti tahun, omzet Nasrullah dari menjual buku di emperan kampus I UIN makin besar --kadang di fakultas syariah, kadang di tarbiyah. Ia pun mengaku mampu menyekolahkan anak-anaknya. "Alhamdulillah, dari jual buku ini, anak saya bisa sekolah, meski yang paling tua baru kelas enam SD," ujar Narsullah penuh kebanggaan. *** Jumat (06/08/2010) sore, dua orang mahasiswi UIN berjalan tergesa-gesa menuju depan masjid di samping fakultas tarbiyah dan keguruan. Mereka bukan mau salat atau bertemu teman. Sesampainya di depan mesjid, keduanya pun saling bertukar kalimat. "Ah yang mana, kamu bilang tadi ada," tanya perempuan jilbab ungu sambil membolak-balik buku. "Ada tadi di bagian atas-atas. Buku yang warnanya biru dan ada gambar bulan Sabit," jawab perempuan berhidung mancung dengan kacamata bening berframe hitam. Tak berselang lama, perempuan berkacamata itu mendapatkan buku yang dicari. Dan ia pun segera memberi tahu temannya. "Nih, ada," ucapnya singkat Tak berapa lama, mahasiswi berjilbab ungu bertanya," berapa harganya ini Pak." Dialog pun berlangsung dan akhirya buku tersebut dibeli seharga Rp 28 ribu. Percakapan dan aktivitas seperti itulah yang kerap dialami Nasrullah. Dan bagi dia, kondisi seperti itu sudah dihapalnya saat menghadapi mahasiswa-mahasiswi di Kampus Hijau, UIN Alauddin Makassar. "Saya sudah lama menjual buku dan itu sudah biasa," kata Nasrullah sambil menunggu mahasiswa yang ingin membeli buku berikutnya. Nasrullah pun menjelaskan, kenapa ia memilih menjual buku di depan mesjid UIN. Menurutnya, berdagang buku di tempat peribadatan merupakan tempat strategis. Sebab tak pernah sepi dan tentu akan membuat bukunya laris. "Ya, dalam sehari rata-rata buku yang terjual berkisar 10 buah. Dan kebanyakan pembelinya dosen dan mahasiswa. Apalagi mahasiswa pasca, akhir-akhir ini mereka paling banyak membeli buku saya," bebernya. Saat mengetahui kampus UIN akan pindah, Nasrullah pun sudah berniat akan pindah ke Kampus II UIN, Samata, Gowa. "Jika nanti mahasiswa sudah menjalankan aktivitas kuliah di sana, saya akan tetap menjajakan buku tapi dengan bantuan teman yang ada di kampus II," pungkasnya. (uin online/latifah ulfa)
Kategori:
Pengembangan Mahasiswa dan Karir
2.4K
Tags:
Kegiatan Kampus
4.6K
Please enable JavaScript to view the
comments powered by Disqus.
Previous Post
Dosen BSA UIN Alauddin Juara I MTQ KORPRI Sulsel, Siap Wakili Sulsel ke Tingkat Nasional
Next Post
Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Dalami Proses Penerbitan Surat Kabar di Harian Fajar
Berita Terbaru
Berita Populer
Dosen BSA UIN Alauddin Juara I MTQ KORPRI Sulsel, Siap Wakili Sulsel ke Tingkat Nasional
19 Juni 2026
Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Dalami Proses Penerbitan Surat Kabar di Harian Fajar
19 Juni 2026
Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin Dalami Industri Media di Tribun Timur
19 Juni 2026
Wisuda Angkatan 118, Rektor UIN Alauddin Berpesan: Jadilah Sarjana No Limit
19 Juni 2026
UIN Alauddin dan UIN Datokarama Palu Perkuat Kolaborasi Perpustakaan
19 Juni 2026
3 Makna Dasar Hidup Dalam Al-Quran
11 Agustus 2011
Tahun Akademik 2019/2020, Ini Jumlah Kuota Maba Setiap Prodi di UIN Alauddin
18 Februari 2019
Berikut ini Jalur Masuk UIN Alauddin Makassar T.A. 2019/2020
18 Februari 2019
Dosen Keperawatan UIN Alauddin Loloskan 23 Soal pada Try Out UKNI ke-XXX
02 Oktober 2024
Prof Abustani Kaji Kelompok Mutaqaddimah dan Mutaakhirin
26 Mei 2011
Lewati ke konten
Buka bilah alat
Alat AksesVisi
Fokus Lebih Jelas
Perbesar Teks
Perkecil Teks
Spasi Teks
Grayscale
Kontras Tinggi
Kontras Negatif
Latar Terang
Nonaktifkan Animasi
Tautan Garisbawah
Mudah Dibaca
Reset