Wakil Dekan III FST UIN Alauddin Dorong Arsitektur Nusantara untuk Pembangunan Berkelanjutan
UIN Alauddin Online — Perkembangan arsitektur tidak dapat dilepaskan dari konteks budaya, lingkungan, dan dinamika kehidupan perkotaan. Perspektif tersebut menjadi salah satu bahasan dalam Seminar Nasional bertajuk “Perkembangan Arsitektur dalam Konteks Budaya, Lingkungan, dan Tantangan Perkotaan Masa Kini” yang berlangsung di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Kampus II UIN Alauddin Makassar, Romangpolong, Gowa, Senin (17/8/2026).
Seminar yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan TKI MAI XXXVII tersebut menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi, salah satunya Wakil Dekan III Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Alauddin Makassar, Dr. Ir. Ar. Zulkarnain AS., S.T., M.T., IAI.
Dalam pemaparannya yang mengangkat tema “Perkembangan Arsitektur dalam Konteks Budaya, Lingkungan, dan Tantangan Perkotaan Masa Kini: Dari Pengetahuan Lokal Menuju Arsitektur Berkelanjutan dan Berkesadaran”, Zulkarnain menekankan pentingnya melihat arsitektur sebagai hasil dialog antara manusia, masyarakat, dan alam.
Menurutnya, arsitektur tidak semata-mata berbicara mengenai bentuk fisik bangunan, tetapi juga mencerminkan pengetahuan dan nilai yang berkembang dalam suatu masyarakat. Pengetahuan tersebut, kata dia, dapat terlihat dari cara masyarakat merespons iklim, struktur bangunan, serta kondisi ekologis lingkungan.
“Arsitektur bukan hanya bentuk yang kita lihat, tetapi juga pengetahuan yang ada di baliknya. Ketika kita berbicara tentang arsitektur berkelanjutan, pengetahuan lokal tentang bagaimana manusia beradaptasi dengan alam menjadi sesuatu yang penting untuk dipelajari,” jelasnya.
Zulkarnain juga menyoroti pentingnya memperluas perspektif dalam upaya pelestarian arsitektur. Menurutnya, pelestarian tidak seharusnya berhenti pada aspek visual atau bentuk fisik, tetapi juga perlu mempertahankan pengetahuan yang melatarbelakangi lahirnya suatu karya arsitektur.
“Yang perlu diwariskan bukan hanya bentuknya, tetapi juga knowledge di baliknya, bagaimana masyarakat membangun, beradaptasi dengan iklim, memahami lingkungan, dan menjaga keseimbangan ekologis,” lanjutnya.

Dalam konteks tersebut, Zulkarnain mengetengahkan arsitektur Nusantara sebagai bagian dari sistem pengetahuan yang memiliki keterkaitan dengan nilai budaya, fungsi, estetika, hingga spiritualitas masyarakat di berbagai lokalitas. Pemahaman terhadap aspek tersebut dinilai penting untuk menghasilkan rancangan arsitektur yang tetap relevan dengan kebutuhan masa kini tanpa kehilangan keterhubungan dengan identitas dan lingkungan setempat.
“Penting bagi generasi arsitek dalam menghasilkan rancangan yang kontekstual dan berkelanjutan berbasis pada kearifan lokal,” tandas penulis buku Arsitektur Nusantara: Negosiasi Budaya dalam Arsitektur Rumah Adat Komunitas Kaluppini tersebut.
Perspektif mengenai identitas lokal turut disampaikan Ar. M. Sudjar Adityadjaja, IAI melalui materi “Membangun Nusantara: Identitas Lokal di Tengah Globalisasi”. Ia mengulas perkembangan arsitektur Indonesia dari era candi, arsitektur tradisional, kolonial, pascakemerdekaan hingga neo-vernakular.
Sudjar menyoroti risiko “kreativitas yang ambigu” dalam arsitektur eklektik ketika unsur tradisional dan modern hanya dipadukan melalui penambahan ornamen tanpa memahami nilai yang melatarbelakanginya. Pemahaman terhadap aspek tangible berupa bentuk dan struktur serta aspek intangible berupa filosofi dan nilai lokal menjadi bagian penting dalam merancang arsitektur pada masa kini.
Sementara itu, Ir. H. Mohammad Ramdhan Pomanto membahas strategi penataan kota yang adaptif dan tangguh (resilient city) dalam menghadapi tantangan lingkungan serta pertumbuhan populasi perkotaan.
Ketiga perspektif tersebut mempertemukan gagasan mengenai pentingnya identitas lokal, pengetahuan ekologis, dan strategi pembangunan kota dalam perkembangan arsitektur masa kini. Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa arsitektur Nusantara tidak hanya menyimpan bentuk visual masa lalu, tetapi juga pengetahuan dan nilai yang dapat menjadi pijakan dalam menjawab kebutuhan pembangunan masa kini.
Seminar nasional tersebut diikuti mahasiswa arsitektur, akademisi, dan praktisi dari berbagai daerah. Sebagai bagian dari rangkaian TKI MAI XXXVII, forum tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan dan pemikiran kolaboratif dalam merespons tantangan pembangunan perkotaan yang tetap memperhatikan aspek lingkungan dan kebudayaan.