Gambar Undang Tiga Tokoh Perempuan, PBAK FST UIN Alauddin Tekankan Integrasi Agama, Sains, dan Teknologi

Undang Tiga Tokoh Perempuan, PBAK FST UIN Alauddin Tekankan Integrasi Agama, Sains, dan Teknologi

UIN Alauddin Online — Integrasi agama, sains, dan teknologi menjadi pesan utama dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Alauddin Makassar. Mahasiswa baru didorong tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter serta landasan moral yang kuat.

Pesan tersebut mengemuka dalam PBAK FST UIN Alauddin Makassar yang berlangsung di Auditorium UIN Alauddin Makassar, Kamis (3/9/2026). Kegiatan ini diikuti 748 mahasiswa baru dari sembilan program studi di lingkungan FST.

Untuk memperkuat pesan tersebut, FST menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang berbeda, yakni Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Hj. Fatmawati Rusdi, S.E., M.M., yang diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Pemprov Sulsel, Dr. dr. M. Ishaq Iskandar, M.Kes., M.M., M.H.; Wakil Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Nurkanaah, S.H., M.Si.; serta Ketua Program Studi Statistika Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia, PM. Dr. Normi Abdul Hadi.

Mewakili Wakil Gubernur Sulsel, Ishaq mengulas pentingnya membangun sinergi antara penguasaan sains dan teknologi dengan nilai-nilai agama. Menurutnya, kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter.

“Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi harus mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai agama. Keduanya harus berjalan beriringan agar ilmu yang dimiliki tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar menjadikan masa perkuliahan sebagai ruang untuk membangun integritas dan karakter.

“Jangan hanya mengejar prestasi akademik. Bangun integritas, disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian sosial sejak sekarang, karena karakter itulah yang akan menjadi bekal ketika kalian memasuki dunia profesional,” tuturnya.

Pesan tentang penguatan karakter diperkuat Nurkanaah. Wakil Bupati Sidrap tersebut mendorong mahasiswa baru untuk berani mengenali potensi diri, mencoba hal-hal baru, dan melahirkan inovasi sejak di bangku kuliah.

“Jangan menunggu menjadi sarjana untuk mulai berinovasi. Bangku kuliah adalah tempat yang tepat untuk belajar, mencoba, bahkan mengalami kegagalan. Dari proses itulah lahir pengalaman dan keberanian untuk menciptakan sesuatu yang baru,” kata Nurkanaah.

Menurutnya, keberanian mengembangkan potensi harus dibangun sejak mahasiswa memasuki lingkungan akademik.

“Kenali potensi diri kalian, kembangkan, dan jangan minder dengan kemampuan yang dimiliki. Setiap orang punya kesempatan untuk menjadi hebat ketika mau belajar dan terus bergerak,” pesannya.

Sementara itu, Normi Abdul Hadi membawa perspektif internasional mengenai perkembangan teknologi, khususnya artificial intelligence (AI). Ia mengajak mahasiswa melihat AI sebagai bagian dari perubahan zaman yang harus dipahami dan dimanfaatkan secara bijak.

“Artificial intelligence bukan sesuatu yang harus ditakuti. Mahasiswa harus belajar memahami dan memanfaatkannya sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan, kreativitas, dan produktivitas,” jelasnya.


Namun, ia menekankan bahwa kemajuan teknologi tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis dari penggunanya.

“Teknologi boleh semakin canggih, tetapi mahasiswa tetap harus menjadi manusia yang berpikir. Jangan menerima semua informasi yang diberikan AI begitu saja. Periksa, analisis, dan gunakan teknologi secara bertanggung jawab,” tegasnya.

Rangkaian materi tersebut memperlihatkan bahwa PBAK FST tidak sekadar menjadi agenda pengenalan lingkungan akademik bagi mahasiswa baru. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menanamkan cara pandang bahwa penguasaan teknologi perlu dibarengi nilai agama, karakter, dan tanggung jawab sosial.

Melalui bekal tersebut, mahasiswa baru diharapkan mampu menjadi generasi yang adaptif menghadapi perkembangan teknologi, sekaligus tetap memiliki fondasi moral dalam mengembangkan dan menerapkan ilmu pengetahuan.

Previous Post UIN Alauddin Gelar Sertifikasi Pembimbing Haji dan Umrah, Rektor Tekankan Penguatan Profesionalitas
Next Post KKN 79 UIN Alauddin Gelar Aksi Bersih Pantai dan Tanam hingga 1.000 Mangrove di Laiyolo Baru