Pascasarjana UIN Alauddin Makassar Bekali Mahasiswa Baru dengan Pemahaman Akademik dan Integritas
UIN Alauddin Online — Pascasarjana UIN Alauddin Makassar menggelar Orientasi Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2026/2027 bagi mahasiswa Program Magister (S2) dan Doktor (S3) di Ruang Rapat Senat Lantai IV Gedung Rektorat UIN Alauddin Makassar, Rabu (2/9/2026). Kegiatan ini menjadi ruang awal bagi mahasiswa untuk memahami tata kelola akademik, budaya perkuliahan, serta berbagai ketentuan yang perlu dipahami selama menempuh pendidikan di jenjang pascasarjana.
Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya yang berlangsung satu hari, orientasi mahasiswa baru tahun ini dilaksanakan selama dua hari. Penambahan waktu tersebut dilakukan untuk memberikan ruang yang lebih luas dalam menyampaikan berbagai hal yang berkaitan dengan proses akademik dan tata cara perkuliahan di Pascasarjana UIN Alauddin Makassar.
Wakil Direktur Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Hasyim Haddade, S.Ag., M.Ag., mengatakan orientasi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa agar memahami sistem akademik sejak awal masa studi.
Menurutnya, pengalaman menunjukkan masih terdapat mahasiswa yang menjelang penyelesaian studi belum sepenuhnya memahami aturan dan mekanisme akademik di Pascasarjana. Karena itu, orientasi dirancang agar mahasiswa baru memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai proses pendidikan yang akan dijalani.
“Makanya kita buka kesempatan seluas-luasnya agar mahasiswa baru paham betul seperti apa tata cara kuliah di pascasarjana,” ujarnya.
Ia berharap mahasiswa dapat menjalani studi sesuai target waktu sekaligus mencapai capaian akademik terbaik. Untuk itu, pemahaman terhadap aturan dan budaya akademik menjadi salah satu hal yang perlu dibangun sejak awal.
Pada tahun akademik 2026/2027, Pascasarjana UIN Alauddin Makassar mencatat penerimaan mahasiswa baru lebih dari 900 orang melalui dua kali penerimaan. Jumlah tersebut disebut sebagai salah satu capaian penerimaan mahasiswa pascasarjana terbesar di kawasan Indonesia Timur.
Hasyim menilai tingginya jumlah mahasiswa baru tersebut menunjukkan besarnya kepercayaan masyarakat terhadap UIN Alauddin Makassar dalam menyelenggarakan pendidikan pascasarjana.
Kepercayaan tersebut juga terlihat dari latar belakang pendaftar yang beragam. Pada periode penerimaan kali ini, terdapat sekitar 15 hakim yang mendaftar sebagai mahasiswa pascasarjana, termasuk hakim tinggi dan hakim pada lingkungan peradilan agama.
Menurut Hasyim, keberadaan mahasiswa dari kalangan hakim menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. Ia juga menyampaikan komitmen untuk mengupayakan proses perkuliahan yang efektif bagi mahasiswa yang memiliki tanggung jawab profesional, tanpa mengurangi standar akademik yang ditetapkan.
“Bagaimana memberikan kuliah semaksimal mungkin, seefektif mungkin sehingga tidak menghalangi pekerjaan-pekerjaan mereka,” jelasnya.
Selain pengenalan sistem akademik, orientasi juga menjadi momentum untuk menegaskan karakter perkuliahan di jenjang pascasarjana yang menuntut kemandirian mahasiswa.
Hasyim menjelaskan, pola pembelajaran di pascasarjana berbeda dengan jenjang sarjana. Mahasiswa dituntut lebih aktif dalam mengembangkan pengetahuan dan pemikirannya, sementara dosen berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan, melengkapi, dan mengoreksi pembahasan mahasiswa.
Dalam proses tersebut, mahasiswa akan memperoleh Rencana Pembelajaran Semester (RPS) sebagai acuan perkuliahan dan mengetahui materi yang akan dibahas selama 16 kali pertemuan. Mahasiswa kemudian diharapkan mempersiapkan materi, menyusun makalah, serta aktif dalam proses pembelajaran.
Di tengah perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Hasyim turut mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan teknologi sebagai jalan utama dalam menyelesaikan tugas akademik.
Ia menekankan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan sebagai pelengkap, tetapi proses berpikir, membaca, menganalisis, dan menyusun argumentasi harus tetap berasal dari kemampuan mahasiswa sendiri.
“Bolehlah sekali-kali melihat AI itu, tapi bukan menjadikan sebagai sumber utama. Tapi itu hanyalah sifatnya pelengkap,” tegasnya.
Ia mengingatkan, penggunaan AI secara berlebihan berpotensi membuat mahasiswa kehilangan proses pembentukan kemampuan akademiknya. Menurutnya, kualitas pendidikan pascasarjana tidak hanya diukur dari hasil tulisan yang terlihat baik, tetapi juga dari kemampuan mahasiswa mempertanggungjawabkan gagasan yang ditulisnya.
Karena itu, ia bahkan mengaku lebih menghargai karya mahasiswa yang masih memiliki kekurangan dalam bahasa maupun kelengkapan data, tetapi menunjukkan hasil pemikiran sendiri, dibandingkan karya yang tampak sempurna namun tidak mencerminkan kemampuan akademik penulisnya.
“Kenapa? Tentu adik-adik mahasiswa nanti kalau keluar dan ternyata tidak seimbang titel dengan kemampuannya, maka menjadi pertanyaan,” pungkasnya.
Melalui orientasi tersebut, Pascasarjana UIN Alauddin Makassar tidak hanya memperkenalkan sistem perkuliahan kepada mahasiswa baru, tetapi juga menanamkan pemahaman mengenai kemandirian, tanggung jawab, dan integritas sebagai bagian penting dalam menjalani pendidikan di jenjang magister dan doktor.