Gambar Kapoposang Jadi Ruang Belajar BIPA Mahasiswa Internasional

Kapoposang Jadi Ruang Belajar BIPA Mahasiswa Internasional

UIN Alauddin Online — Laut, budaya, dan Bahasa Indonesia berpadu menjadi pengalaman belajar yang berkesan bagi mahasiswa internasional UIN Alauddin Makassar. Melalui program Pengenalan Budaya dan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), mahasiswa asal Thailand dan Sudan diajak menyelami kekayaan budaya bahari Sulawesi Selatan di Pulau Kapoposang, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), pada Sabtu–Minggu, 18–19 Juli 2026.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh International Office (IO) UIN Alauddin Makassar ini mengusung konsep outing class, yaitu pembelajaran bahasa yang dipadukan dengan pengalaman budaya secara langsung. Program ini turut dihadiri Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. H. Muhammad Amri, Lc., M.Ag., sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan internasionalisasi kampus melalui pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia bagi mahasiswa asing.

Selama dua hari, peserta tidak hanya mempraktikkan kemampuan berbahasa Indonesia dalam situasi sehari-hari, tetapi juga mengenal kehidupan masyarakat pesisir, kekayaan ekosistem laut, serta nilai-nilai budaya yang tumbuh di Kepulauan Kapoposang. Interaksi langsung dengan masyarakat dan lingkungan sekitar menjadi bagian penting dari proses belajar yang memperkaya pemahaman mereka tentang Indonesia sekaligus mempererat hubungan lintas budaya.

Kepala International Office UIN Alauddin Makassar, Dr. Serliah Nur, M.Hum., M.Ed., menjelaskan bahwa program BIPA dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual, sehingga mahasiswa internasional tidak hanya mempelajari Bahasa Indonesia di ruang kelas, tetapi juga memahami budaya dan kehidupan masyarakat secara langsung.

"Belajar bahasa akan lebih bermakna ketika dipadukan dengan pengalaman nyata. Melalui kegiatan ini, mahasiswa internasional tidak hanya belajar berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, tetapi juga memahami kehidupan masyarakat serta kekayaan budaya bahari yang menjadi bagian dari identitas Sulawesi Selatan," ujarnya.


Antusiasme peserta terlihat dari kesan yang mereka sampaikan setelah mengikuti rangkaian kegiatan. Bagi mereka, program BIPA di Pulau Kapoposang bukan sekadar pembelajaran bahasa, melainkan juga kesempatan untuk mengenal Indonesia lebih dekat melalui budaya, alam, dan kehidupan masyarakat pesisir.

Mahasiswa internasional asal Thailand, Saadah Hayyida-O, mengaku memperoleh pengalaman yang sangat berharga selama mengikuti kegiatan tersebut.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu beserta seluruh pimpinan yang telah menyelenggarakan kegiatan ini. Melalui kegiatan ini, saya memperoleh pengalaman yang sangat berharga, mulai dari mengenal budaya masyarakat di Kepulauan Kapoposang, mempelajari berbagai hal baru, hingga menyaksikan secara langsung keindahan alam yang masih terjaga berkat kepedulian masyarakat setempat. Kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memberikan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Besar harapan saya agar kegiatan seperti ini dapat terus diselenggarakan pada masa yang akan datang sehingga semakin banyak peserta yang dapat merasakan manfaat dan pengalaman yang sama. Terima kasih," ungkapnya.

Hal senada disampaikan oleh mahasiswa internasional asal Sudan, Muzammil, yang berharap kegiatan serupa dapat kembali diselenggarakan.

"Saya sangat menikmati kegiatan ini. Terima kasih atas undangan yang luar biasa ini. Terima kasih kepada seluruh panitia, pimpinan universitas, serta Rektor UIN Alauddin Makassar yang telah mendukung terselenggaranya program ini. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat kembali diadakan dalam waktu dekat," tuturnya.

Melalui pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), peserta diajak menjadikan bahasa sebagai jembatan untuk memahami budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakat Indonesia. Program BIPA ini menjadi salah satu wujud komitmen International Office UIN Alauddin Makassar dalam mendukung internasionalisasi kampus melalui pembelajaran Bahasa Indonesia yang adaptif, kontekstual, dan berorientasi pada pengenalan budaya. Diharapkan, pengalaman ini tidak hanya memperkuat kemampuan berbahasa mahasiswa internasional, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam tentang keragaman budaya Indonesia selama menempuh studi di UIN Alauddin Makassar.

Previous Post Gelar AAESF 2026, DEMA FST UIN Alauddin Dorong Inovasi Pertanian Hadapi Era Polikrisis
Next Post Dekan FSH UIN Alauddin Makassar Wakili Indonesia di Program Umrah Tamu Raja Arab Saudi