Gambar Guru Besar UIN Alauddin Tawarkan Tafsir Sufi Nusantara sebagai Jawaban atas Krisis Spiritual Modern

Guru Besar UIN Alauddin Tawarkan Tafsir Sufi Nusantara sebagai Jawaban atas Krisis Spiritual Modern

UIN Alauddin Online - Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar menggelar Sidang Senat Terbuka Luar Biasa Pengukuhan Guru Besar pada Senin, 18 Mei 2026, di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar. Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Firdaus, M.Ag. dikukuhkan sebagai Guru Besar melalui orasi ilmiah berjudul “Tafsir Sufi Nusantara: Paradigma dan Urgensinya dalam Membumikan Spiritualitas Al-Qur’an pada Konteks Lokal.”

Dalam orasinya, Prof. Firdaus menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks suci yang statis, melainkan firman hidup yang senantiasa berdialog melintasi ruang dan waktu, serta menyentuh dimensi spiritual dan batin manusia. Namun, menurutnya, pemahaman Al-Qur’an di era modern kerap terjebak dalam pendekatan formalistik, legalistik, dan mekanistis yang hanya berorientasi pada persoalan halal dan haram.

Kondisi tersebut, lanjutnya, telah melahirkan berbagai problem kehidupan umat, seperti kekosongan spiritual, krisis makna hidup, hingga keterasingan batin manusia modern. Berangkat dari realitas itu, ia menawarkan sebuah paradigma penafsiran yang lebih menyentuh sisi terdalam manusia.

Pendekatan tersebut ia sebut sebagai Tafsir Sufi Nusantara, yakni paradigma penafsiran Al-Qur’an yang memadukan spiritualitas sufistik dengan kearifan lokal Nusantara. Dalam perspektif ini, Al-Qur’an tidak hanya dipahami secara normatif, tetapi juga dihayati sebagai sumber transformasi batin yang hidup dan relevan di setiap zaman.

Salah satu contoh yang dikemukakan Prof. Firdaus ialah nilai birrul walidain atau penghormatan kepada orang tua. Nilai universal Al-Qur’an tersebut, menurutnya, diekspresikan secara khas dalam budaya Nusantara melalui tradisi memanggil orang tua dengan gelar haji maupun sapaan seperti ambo, etta, atau bapak-ibu. Hal tersebut menunjukkan bahwa budaya lokal sejatinya dapat menjadi media efektif dalam membumikan nilai-nilai Al-Qur’an.

Dalam menghadapi berbagai persoalan kontemporer, seperti skripturalisme sempit, literalisme berlebihan, hingga kecenderungan radikalisme, Prof. Firdaus menawarkan Tafsir Sufi sebagai pendekatan yang humanis, inklusif, dan penuh rahmah. Pendekatan ini diyakini mampu menumbuhkan sikap toleran, mendorong keterbukaan dialog, serta menjauhkan umat dari egoisme dan eksklusivisme beragama.

Di tengah derasnya arus globalisasi, Prof. Firdaus juga menegaskan pentingnya menghadirkan kembali ruh spiritual dalam setiap ibadah umat Islam. Menurutnya, tanpa dimensi spiritual yang mendalam, ibadah berpotensi menjadi rutinitas kosong yang kehilangan makna sejatinya.

Lebih lanjut, Tafsir Sufi Nusantara dinilai memberikan kontribusi penting bagi perkembangan ilmu tafsir. Pendekatan tersebut dinilai mampu memperkaya khazanah tafsir kontekstual, memperkuat kajian interdisipliner dalam studi Al-Qur’an, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi berkembangnya kajian tafsir berbasis tradisi lokal di Indonesia.

Pengukuhan Prof. Dr. Firdaus, M.Ag. menjadi momentum penting bagi UIN Alauddin Makassar dalam memperkuat posisinya sebagai pusat kajian Islam yang progresif dan kontekstual. Gagasan Tafsir Sufi Nusantara yang ditawarkan diharapkan dapat menjadi jembatan spiritual bagi masyarakat dalam menghadapi tantangan zaman modern.

Previous Post Kolaborasi UIN Alauddin dan BPVP Bantaeng Hadirkan Pelatihan Digital Marketing bagi Mahasiswa
Next Post Mahasiswa Akuntansi UIN Alauddin Unjuk Inovasi di Kompetisi Internasional Malaysia