Dosen Teknik Informatika UIN Alauddin Bahas Kedaulatan Teknologi dalam Diskusi Kemerdekaan
UIN Alauddin Online — Kemerdekaan di era digital tidak cukup dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan fisik. Kedaulatan dalam berpikir, kemampuan menghasilkan inovasi, dan mengurangi ketergantungan teknologi juga menjadi bagian dari tantangan kemerdekaan di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Gagasan tersebut disampaikan Dosen Teknik Informatika UIN Alauddin Makassar, Dr. Ir. A. Muhammad Syafar, A.Md., S.T., M.T., IPM., saat menjadi salah satu narasumber dalam diskusi publik bertajuk “Hakekat Kemerdekaan dalam Perspektif Intelektual Muslim” yang digelar Forum Akademisi Muslim Indonesia (FAMI) Sulawesi Selatan di Ruang Studio AI, Jalan Taman Makam Pahlawan, Makassar, Sabtu (15/8/2026).
Diskusi tersebut menghadirkan narasumber dari latar belakang akademik, perencanaan pembangunan daerah, dan dakwah untuk membahas kemerdekaan dari berbagai perspektif. Kegiatan dipandu Adi Wijaya, S.T., M.T.
Dalam pemaparannya, Dr. Muhammad Syafar menyoroti pentingnya kedaulatan teknologi dan integritas pemikiran di tengah perkembangan era digital. Menurutnya, intelektual Muslim perlu memiliki kemampuan untuk mengembangkan pemikiran yang mandiri sekaligus menghasilkan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pandangan tersebut menempatkan kemerdekaan tidak hanya sebagai persoalan sejarah dan politik, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan suatu bangsa untuk mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan karya yang lahir dari kapasitas intelektualnya sendiri.
Selain sebagai akademisi, Dr. Muhammad Syafar dikenal sebagai penemu metode Pembelajaran SAVAR dan penulis buku Jejak Takdir.

Perspektif lain disampaikan Dr. Sri Hidayat, S.Si., M.PWK., M.Si., yang membahas kemerdekaan dari sudut pandang perencanaan pembangunan daerah. Ia menekankan pentingnya kebijakan publik yang presisi, adil, dan inklusif sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemerdekaan dalam kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Dai Kota Makassar, Ust. Haeruddin Al Marusy, S.Pd., M.Pd., memberikan perspektif spiritual dan tauhid. Menurutnya, kemerdekaan manusia pada hakikatnya berkaitan dengan terbebasnya jiwa dari berbagai bentuk penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan kepada Allah SWT.
Beragam perspektif tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai kemerdekaan dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, mulai dari kedaulatan intelektual dan teknologi, pembangunan yang berkeadilan, hingga kebebasan spiritual.
Melalui diskusi tersebut, FAMI Sulawesi Selatan mendorong pertukaran gagasan lintas sektor mengenai makna kemerdekaan dan relevansinya terhadap persoalan masyarakat di tengah perkembangan zaman.