Gambar Warek II UIN Alauddin Tekankan Pentingnya Kedewasaan Spiritual di PKU MUI Sulsel

Warek II UIN Alauddin Tekankan Pentingnya Kedewasaan Spiritual di PKU MUI Sulsel

UIN Alauddin Online – Wakil Rektor II UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. KH. Andi Aderus, Lc., M.A., mengingatkan pentingnya memahami dan mengamalkan ajaran agama sesuai maqam atau kapasitas pemahaman. Menurutnya, setiap orang memiliki pengetahuan dan pengalaman spiritual yang berbeda sehingga tidak semua hal dalam pengalaman keagamaan dapat dipahami maupun disampaikan dengan cara yang sama.

Hal tersebut disampaikan Prof. Andi Aderus saat memberikan materi Ushul Fikih pada Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI Sulawesi Selatan di Alauddin Hotel & Convention, Makassar, Jumat (7/8/2026).

Prof. Andi Aderus menjelaskan, terdapat tingkatan pemahaman manusia dalam menghayati ajaran agama. Sebagian orang memahami agama berdasarkan keterangan dalam Al-Qur’an dan hadis sahih, sementara ada pula orang yang memiliki tingkat pemahaman atau pengalaman spiritual yang lebih mendalam.

Karena itu, menurutnya, setiap orang perlu menempatkan diri sesuai kapasitas keilmuannya. Pemahaman agama tidak perlu dipaksakan melampaui kemampuan seseorang, terutama bagi masyarakat awam.

“Kalau kita berdoa, yang awam-awam ini, tak usah berdoa dengan macam-macam. Cukup kita menggunakan nama yang disebutkan oleh Allah SWT untuk dirinya atau yang ada dalam Al-Qur’an,” jelasnya.

Ia menilai, kesesuaian antara kapasitas seseorang dan cara mengamalkan agama penting agar praktik keagamaan tidak justru menimbulkan kebingungan. Seseorang yang memiliki pengalaman spiritual pada tingkat tertentu memiliki hubungan personal dengan Allah SWT yang tidak serta-merta harus menjadi ukuran bagi orang lain.

“Orang yang memiliki maqam spiritual tertentu, itu urusan dia dengan Tuhan. Tapi kita yang awam ini, janganlah menggunakannya sebagai ukuran,” katanya.

Prof. Andi Aderus juga mengingatkan bahwa pengetahuan dan pengalaman batin seseorang tidak selalu harus disampaikan kepada khalayak. Menurutnya, pengalaman spiritual merupakan sesuatu yang sangat personal dan membutuhkan kehati-hatian ketika dikomunikasikan kepada masyarakat.

“Sesuatu yang dipahami oleh seseorang dengan kedalaman pengalaman spiritual tertentu, belum tentu dapat dipahami dengan cara yang sama oleh masyarakat awam”, pungkasnya.

Dalam konteks tersebut, Prof. Andi Aderus menyinggung kisah Al-Hallaj dalam sejarah tasawuf. Ia menjelaskan bahwa pengalaman kedekatan spiritual yang dialami seseorang dapat melahirkan ungkapan tertentu, tetapi ungkapan tersebut berpotensi ditafsirkan berbeda ketika disampaikan kepada masyarakat dengan tingkat pemahaman yang beragam.

Karena itu, kedewasaan spiritual dan kemampuan membaca konteks dan kapasitas audiens menjadi bagian penting dalam menyampaikan pengetahuan keagamaan.

“Begitu juga yang mungkin maqamnya sampai, tidak semua yang kita ketahui dan kita rasakan harus diungkapkan,” tandasnya.

Previous Post Dekan FSH UIN Alauddin Dorong Kader Ulama Berpikir Kontekstual Hadapi Era Disrupsi
Next Post Diperkenalkan Wamen HAM, Lulusan FSH UIN Alauddin Jadi Penggerak HAM di Makassar