Gambar Tiga Guru Besar UIN Alauddin Soroti Moderasi, Ekologi, dan Kepemimpinan

Tiga Guru Besar UIN Alauddin Soroti Moderasi, Ekologi, dan Kepemimpinan

UIN Alauddin Online - Tiga guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar menyampaikan gagasan strategis dalam Sidang Senat Terbuka Luar Biasa Pengukuhan Guru Besar yang digelar di Auditorium Kampus II, Kamis, 2 April 2026.

Ketiga akademisi tersebut, yakni Prof. Dr. H. Afifuddin, Lc., M.Ag., Prof. Dr. Hj. Gustia Tahir, M.Ag., dan Prof. Dr. Siradjuddin, S.E., M.Si., mengangkat isu-isu krusial mulai dari pendidikan Islam multikultural, krisis ekologis, hingga tantangan kepemimpinan di era modern.

Prof. Afifuddin dalam orasi ilmiahnya bertajuk “Mangaji Tudang: Model Pendidikan Islam Multikultural dan Deradikalisasi Berbasis Keluhuran Akhlak Pesantren” menegaskan bahwa pesantren merupakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan nilai toleransi.

Ia menjelaskan, tradisi mangaji tudang—belajar dengan duduk melingkar dalam relasi egaliter antara guru dan santri—merepresentasikan konsep ta’dib, yakni penanaman adab sebelum pengetahuan. Tradisi ini, menurutnya, menjadi ruang sosial yang menumbuhkan empati, solidaritas, serta kemampuan hidup dalam keberagaman.

Sementara itu, Prof. Gustia Tahir melalui orasinya tentang Eco-Sufisme dan Tobat Ekologis menyoroti krisis lingkungan global yang membutuhkan pendekatan spiritual, bukan sekadar solusi teknologis. Ia menegaskan bahwa relasi manusia dengan alam harus dibangun atas dasar cinta dan tanggung jawab, bukan eksploitasi.

“Merusak lingkungan bukan hanya pelanggaran ekologis, tetapi juga kegagalan spiritual,” ungkapnya.

Di sisi lain, Prof. Siradjuddin mengangkat tema Reorientasi Kepemimpinan di Tengah Krisis Keteladanan dan Politik Pragmatis, yang menyoroti pergeseran nilai kepemimpinan dari pengabdian menuju kepentingan transaksional. Ia menekankan pentingnya mengembalikan kepemimpinan pada nilai amanah, integritas, dan tanggung jawab moral.


Dalam kesempatan tersebut, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., turut menyampaikan apresiasi atas kehadiran para tokoh penting serta memberikan tanggapan reflektif terhadap ketiga orasi ilmiah.

Menanggapi orasi Prof. Afifuddin, Rektor mengapresiasi konsep mangaji tudang sebagai model pendidikan yang sarat nilai, seraya mempertanyakan relevansinya di tengah arus modernisasi.

“Apakah mangaji tudang ini masih bisa dipertahankan di era modern?” ujarnya.

Kepada Prof. Gustia Tahir, ia menyoroti gagasan eco-sufisme yang disebutnya sebagai jalan yang suci namun radikal, sekaligus mengajukan refleksi apakah pendekatan tersebut dapat diposisikan sebagai bagian dari ekoteologi.

Sementara itu, terhadap orasi Prof. Siradjuddin, Rektor memberikan catatan kritis terhadap penggunaan istilah politik pragmatis.

“Apakah politik pragmatis itu selalu buruk? Menurut saya tidak. Yang keliru adalah ketika keputusan pragmatis mengorbankan nilai demi popularitas,” tegasnya.

Lebih jauh, Rektor menyimpulkan bahwa ketiga orasi tersebut sejatinya bermuara pada satu tujuan besar, yakni pembentukan pribadi yang telah “selesai” dengan dirinya—atau dalam istilahnya, pribadi yang telah bertransformasi menjadi sosok transformatif.

Ia pun membagikan tiga prinsip sederhana sebagai refleksi bersama. Pertama, jika ingin dipercaya, tunjukkan bukti. Kedua, jika ingin dicintai, tunjukkan aksi. Dan ketiga, jika ingin dimaafkan, tunjukkan perubahan.

“Ini menjadi perenungan bagi kita semua bahwa transformasi diri adalah kunci dalam menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya.

Sidang pengukuhan ini menegaskan peran strategis perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu sekaligus ruang refleksi dalam menjawab persoalan global dan kebangsaan.

Previous Post Kemenag Siapkan Langkah Strategis Tingkatkan Kesejahteraan Guru
Next Post KKN UIN Alauddin dan KWT Kembangkan TOGA, Dorong Kesehatan Mandiri Warga Dusun Ele