Gambar Gagasan Tiga Guru Besar UIN Alauddin dalam Orasi Ilmiah: Dari Nafs hingga Islam Berkebudayaan

Gagasan Tiga Guru Besar UIN Alauddin dalam Orasi Ilmiah: Dari Nafs hingga Islam Berkebudayaan

UIN Alauddin Online - Tiga guru besar UIN Alauddin Makassar menyampaikan gagasan keilmuan yang mendalam melalui orasi ilmiah dalam Sidang Senat Terbuka Luar Biasa. Ketiganya mengangkat isu strategis mulai dari pemahaman kepribadian manusia dalam Al-Qur’an, relasi agama dan budaya, hingga respons pemikiran Islam terhadap modernitas.

Ketiga guru besar yang dikukuhkan berasal dari Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, dengan bidang kepakaran yang beragam dan saling melengkapi.


Prof. Dr. Hj. Rahmi Damis, M.Ag dalam orasinya mengangkat tema pemahaman nafs dalam Al-Qur’an melalui pendekatan tafsir tematik berbasis tasawuf. Ia menjelaskan bahwa nafs merupakan representasi kepribadian manusia yang memiliki dua potensi, yakni kebaikan dan keburukan.

Menurutnya, perbedaan kualitas manusia terletak pada kemampuan mengendalikan potensi buruk tersebut. Dalam perspektif tasawuf, manusia dapat berada pada tingkat terendah (nafs ammarah) hingga mencapai derajat tertinggi sebagai insan kamil. Untuk itu, diperlukan proses penyucian diri melalui tahapan takhalli, tahalli, dan tajalli sebagai jalan pembinaan spiritual.


Sementara itu, Prof. Drs. Wahyuddin Halim, M.A., M.A., Ph.D mengangkat tema “Siri’ na Sara’: Moralitas Lokal, Paradoks Kesalehan dan Ikhtiar Penubuhan Islam” dalam perspektif antropologi agama. Ia menekankan pentingnya menempatkan kemanusiaan sebagai fondasi utama dalam beragama.

Mengutip gagasan “humanity first, tribe second”, ia menjelaskan bahwa nilai-nilai lokal seperti siri’, pessé/paccé, dan konsep al-?ay?’ dalam Islam memiliki titik temu dalam membentuk karakter manusia yang utuh. Perpaduan antara budaya dan iman, menurutnya, melahirkan pribadi yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga berintegritas secara moral.

Ia juga menegaskan pentingnya membangun “agama yang berkebudayaan”, yakni ajaran yang tidak terlepas dari konteks sosial dan mampu menjawab tantangan zaman, sekaligus menjaga keseimbangan antara identitas keagamaan dan nilai kemanusiaan.


Di sisi lain, Prof. Dr. Hj. Marhaeni Saleh M., M.Pd mengangkat tema Pemikiran Islam Modern dalam merespons dinamika modernitas dan perubahan sosial. Ia menegaskan bahwa pemikiran Islam modern merupakan medan intelektual yang terus berkembang dan menuntut pembacaan ulang secara kritis.

Menurutnya, tantangan zaman tidak dapat direspons dengan sikap defensif, melainkan melalui refleksi, reinterpretasi, dan dialog yang berkelanjutan. Pemikiran Islam modern hadir sebagai upaya menjaga relevansi ajaran Islam dengan mengedepankan rasionalitas, kontekstualitas, dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan.

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, ia menilai bahwa pemikiran Islam modern memiliki peran penting dalam memperkuat nilai kebinekaan, keadilan sosial, dan kehidupan demokratis. Islam tidak hanya diposisikan sebagai identitas, tetapi sebagai kekuatan moral yang berkontribusi bagi kehidupan bersama.

Secara keseluruhan, ketiga orasi tersebut mencerminkan kontribusi strategis para guru besar dalam mengembangkan keilmuan Islam yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga responsif terhadap realitas sosial. Gagasan yang disampaikan diharapkan dapat menjadi pijakan dalam membangun tradisi akademik yang relevan, inklusif, dan berdaya guna bagi masyarakat.

Previous Post Kemenag Siapkan Langkah Strategis Tingkatkan Kesejahteraan Guru
Next Post KKN UIN Alauddin dan KWT Kembangkan TOGA, Dorong Kesehatan Mandiri Warga Dusun Ele