Gambar Katarina, Lulusan Katolik yang Menulis Kisahnya di UIN Alauddin

Katarina, Lulusan Katolik yang Menulis Kisahnya di UIN Alauddin

UIN Alauddin Online — Katarina Leba Tukan datang ke UIN Alauddin Makassar tanpa keluarga dan tanpa kenalan. Lingkungan kampus Islam itu awalnya asing baginya. Namun, ia memilih bertahan hingga akhirnya berdiri sebagai salah satu wisudawan Angkatan ke-121.

Lulusan Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora tersebut menyelesaikan studinya dalam waktu tiga tahun sebelas bulan. Ia juga tercatat sebagai seorang penganut Katolik yang memilih UIN Alauddin Makassar sebagai tempat menempuh pendidikan tingginya.

Dalam prosesi wisuda di Auditorium Kampus II UIN Alauddin Makassar, Selasa (15/9/2026), Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., mengundang Katrina untuk berbincang di hadapan para wisudawan dan orang tua.

Katarina tidak datang hanya membawa toga dan ijazah. Ia membawa sebuah buku yang ia tulis sendiri.

Buku berjudul Aku Datang Sendiri: Catatan Kehidupan Perempuan Minoritas di Kampus Islam itu menjadi catatan atas pengalaman yang ia jalani selama berada di lingkungan kampus.

Ketika Hamdan menanyakan makna judul tersebut, Katarina menjelaskan bahwa “datang sendiri” bukan hanya tentang perjalanan secara fisik.

“Saya datang ke sini tidak ada keluarga, tidak ada kenalan, terus saya tiba di tempat ini dengan lingkungan yang asing, tapi saya masih mau memilih bertahan sampai sekarang, Pak,” tuturnya.

Meski datang dalam lingkungan yang berbeda dari latar keyakinannya, Katrina justru menyimpan pengalaman yang menurutnya berkesan selama menjadi mahasiswa UIN Alauddin.

Ia mengingat masa awal kuliah ketika jam perkuliahan yang padat masih memberinya kesempatan untuk beristirahat di musala dan menemani teman-temannya melaksanakan salat.

Ia juga bercerita tentang teman-temannya yang mengajaknya berkunjung ke rumah saat Lebaran hingga pengalaman menerima zakat fitrah dari kampus.

Pengalaman tersebut membuat Katrina memiliki kesan berbeda tentang kehidupan sebagai mahasiswa di kampus Islam.

Ketika Hamdan bertanya mengenai tantangan terberat yang ia hadapi sebagai penganut Katolik selama kuliah di UIN Alauddin, jawabannya justru sederhana.

“Kalau dibilang tantangan terberat, saya rasa tidak ada, Pak Prof,” jawabnya.

Menurut Katarina, keputusan berkuliah di UIN Alauddin merupakan pilihan yang tepat. Ia merasa diperlakukan seperti keluarga, baik oleh pimpinan fakultas maupun ketua program studi, sekretaris program studi, pegawai, dan staf.

“Menurut saya UIN itu adalah keluarga,” katanya.


Buku yang dibawa Katarina kemudian mendapat perhatian Hamdan. Setelah mengetahui buku tersebut dijual seharga Rp100 ribu, Rektor membelinya dan memberikan tambahan Rp100 ribu kepada Katrina.

Hamdan juga menyampaikan rencana untuk membelikan buku tersebut bagi jajaran pimpinan UIN Alauddin Makassar agar dibaca dan menjadi inspirasi.

Bagi Hamdan, kisah Katarina sejalan dengan pesan yang ia sampaikan kepada para wisudawan tentang menjadi “sarjana anak tangga”—seseorang yang memahami bahwa perjalanan menuju keberhasilan dibangun melalui berbagai proses dan perjumpaan dengan banyak orang.

Katarina pun menjadi salah satu dari 750 lulusan yang menutup masa studinya pada Wisuda Angkatan ke-121. Bedanya, ia meninggalkan kampus bukan hanya dengan gelar sarjana, tetapi juga sebuah buku yang merekam perjalanan dirinya sebagai perempuan minoritas di kampus Islam.

Previous Post Pertahankan Capaian Informatif, UIN Alauddin Benahi Data PPID Jelang Penilaian
Next Post Mahasiswa FEBI UIN Alauddin Raih Empat Penghargaan di Kompetisi Ekonomi Internasional