Halal Fair 2026: Mendorong UIN Alauddin Jadi Pelopor Ekosistem Halal
UIN Alauddin Online — UIN Alauddin Makassar memiliki potensi besar untuk menjadi pelopor pengembangan ekosistem halal melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu dan penguatan peran Lembaga Pemeriksa Halal (LPH). Potensi tersebut menjadi sorotan dalam pembukaan Halal Fair 2026 bertema “Living the Halal Way” di halaman Masjid Agung Sultan Alauddin, Kampus II UIN Alauddin Makassar, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung hingga Jumat (23/10/2026) ini menjadi ruang edukasi dan kolaborasi untuk memperluas kesadaran masyarakat tentang pentingnya halal, sekaligus mendorong kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan produk halal.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga UIN Alauddin Makassar, Prof. Dr.H.Kamaluddin Abunawas, M.Ag., menegaskan bahwa perguruan tinggi Islam seharusnya mengambil peran utama dalam pengembangan ekosistem halal. Menurutnya, UIN Alauddin memiliki modal keilmuan yang kuat melalui berbagai bidang, mulai dari syariah, farmasi, kedokteran, biologi hingga kimia.
Keberagaman disiplin ilmu tersebut dapat menjadi kekuatan apabila dikembangkan melalui kolaborasi lintas program studi. Karena itu, pengembangan ekosistem halal tidak semestinya hanya bergantung pada satu atau dua program studi, tetapi melibatkan seluruh potensi akademik yang tersedia.
“Harusnya kitalah yang harus leading, bukan mereka,” ujarnya, menekankan pentingnya posisi UIN Alauddin dalam pengembangan kehalalan produk dan layanan.
Ia juga mendorong LPH UIN Alauddin untuk terus memperluas jangkauan kontribusinya, termasuk melalui kerja sama dengan berbagai pihak dan keterlibatan dalam proses pemeriksaan halal bagi pelaku usaha. Penguatan peran tersebut diharapkan menjadikan LPH semakin berkembang, tidak hanya di tingkat regional, tetapi juga hingga tingkat internasional.
Keberadaan LPH menjadi salah satu modal strategis UIN Alauddin untuk berkontribusi dalam pengembangan ekosistem halal, termasuk mendukung pelaku usaha yang membutuhkan layanan pemeriksaan halal sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, Dr. Cut Muthiadin, M.Si, dalam sambutan penyelenggara menjelaskan bahwa Halal Fair 2026 kembali mengusung tema “Living the Halal Way”. Tema tersebut dipertahankan meskipun terdapat penyesuaian jadwal tahapan kewajiban sertifikasi halal hingga 2028.

Menurut Cut, Halal Fair tidak hanya dimaksudkan untuk menyambut penerapan kewajiban sertifikasi halal, tetapi juga membangun pemahaman bahwa halal merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Kami ingin melihat bagaimana beberapa tingkatan generasi ini menilai bagaimana halal itu menjadi penting, bukan karena mandatory,” ungkapnya.
Untuk memperluas pemahaman tersebut, Halal Fair 2026 menghadirkan sejumlah kegiatan, antara lain Halal Talk selama dua hari, lomba esai bertema halal, serta lomba nasyid bagi pelajar SMA. Rangkaian kegiatan ini dirancang untuk memperkenalkan nilai-nilai halal kepada berbagai kelompok usia, termasuk generasi muda.
Cut Muthiadin juga menyampaikan bahwa jangkauan akun Instagram kegiatan Halal Fair telah mencapai sekitar 88.000 penonton dalam hampir dua minggu. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator perhatian publik terhadap kegiatan yang diselenggarakan.
Selain diskusi dan perlombaan, Halal Fair menghadirkan tenant yang melalui proses seleksi dan verifikasi. Menurut Murniati, sejumlah peserta yang mendaftar telah memiliki sertifikat halal.
Pelaksanaan kegiatan ini didukung sejumlah mitra kolaboratif, di antaranya Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Bank Indonesia, Bank Syariah Indonesia (BSI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), serta mitra lainnya. Kegiatan ini juga terlaksana melalui kerja sama dengan Pusat Pengembangan Bisnis UIN Alauddin Makassar.
Melalui Halal Fair 2026, UIN Alauddin diharapkan dapat memperkuat kontribusinya dalam membangun ekosistem halal yang inklusif dan berdaya saing. Kolaborasi keilmuan, penguatan kelembagaan, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi bagian penting untuk menjadikan halal bukan sekadar kewajiban sertifikasi, melainkan juga praktik yang terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Reporter: Nadia Shafira - Mahasiswa Magang Humas UIN Aladdin Makassar