UIN Alauddin Online - Ketua Komisi II DPR RI, Dr. Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, S.H., M.H., menghadiri Wisuda Angkatan ke-117 UIN Alauddin Makassar yang digelar pada Rabu, 1 April 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan orasi ilmiah bertema “Menjadi ASN atau Wirausahawan: Menyoal Masa Depan Sarjana di Era Disrupsi.”
Dalam sambutannya, Dr. Rifqinizamy menyapa jajaran pimpinan dan tamu undangan, termasuk Ketua DPRD Sulawesi Selatan, drg. Andi Rachmatika Dewi, serta Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., beserta seluruh sivitas akademika.
Ia mengungkapkan kedekatan emosionalnya dengan dunia perguruan tinggi keagamaan Islam. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang keluarganya, di mana almarhum ayahnya merupakan alumni Fakultas Syariah IAIN Antasari Banjarmasin yang menempuh pendidikan dengan penuh keterbatasan, bahkan sempat menjadi pengayuh becak untuk membiayai kuliah.
Menurutnya, kisah tersebut menjadi bukti nyata bahwa pendidikan merupakan jalan penting dalam mengubah nasib seseorang. Ia pun menilai UIN sebagai representasi kelompok masyarakat marginal (mustad’afin) yang berperan dalam mengangkat harkat dan martabat melalui pendidikan.
“Tidak ada jalan yang lebih efektif untuk mengubah kehidupan selain melalui ilmu pengetahuan,” tegasnya di hadapan para wisudawan.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa para lulusan saat ini tengah memasuki era disrupsi eksponensial, yakni fase perubahan yang berlangsung cepat, dinamis, dan penuh ketidakpastian. Dalam kondisi tersebut, masa depan dunia kerja tidak lagi memiliki satu bentuk yang pasti, melainkan terus berkembang seiring dinamika teknologi, ekonomi, dan sosial.
Ia mengutip pandangan dalam buku The Handbook for the Future of Work yang menegaskan bahwa masa depan pekerjaan bersifat terbuka dan terus berubah, serta membawa berbagai tantangan seperti pengangguran, penurunan upah, dan ketidakpastian kerja.
Menurutnya, yang membedakan individu saat ini bukan lagi sekadar pilihan profesi, melainkan kemampuan untuk beradaptasi dan merespons perubahan.
Dr. Rifqinizamy juga menegaskan bahwa profesi Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak lagi sepenuhnya identik dengan stabilitas. Sebaliknya, wirausahawan yang dahulu dianggap tidak menentu, kini justru menjadi simbol kemampuan beradaptasi.
“Keduanya berada pada arena yang sama, yaitu arena disrupsi yang menuntut adaptasi, kreativitas, dan keberanian,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan generatif, telah mendorong transformasi besar di berbagai sektor, termasuk pendidikan dan dunia kerja. Oleh karena itu, wisuda tidak lagi dapat dimaknai sebagai akhir perjalanan akademik, melainkan awal dari perjuangan intelektual yang berkelanjutan.
Dalam perspektif ekonomi nasional, ia juga menyoroti tantangan yang dihadapi Indonesia, termasuk keterbatasan peluang kerja di sektor formal akibat tekanan fiskal dan dinamika global. Kondisi ini, menurutnya, menuntut lulusan untuk lebih mandiri dan kreatif dalam menciptakan peluang.
“Jangan malu untuk memulai dari bawah. Lebih baik mandiri daripada bergantung pada orang lain,” pesannya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya membangun ekosistem talenta yang terintegrasi antara pendidikan, dunia kerja, dan kebijakan publik. Menurutnya, lulusan tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga mampu berkontribusi sebagai agen perubahan dan social engineer di tengah masyarakat.
Pada bagian akhir orasinya, Dr. Rifqinizamy mengingatkan pentingnya dimensi spiritual dalam menghadapi ketidakpastian global. Ia menegaskan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh usaha, tetapi juga oleh kehendak dan rahmat Allah Swt.
Ia mengajak para wisudawan untuk terus meningkatkan kualitas diri dari waktu ke waktu serta menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.
“Masa depan bukan sesuatu yang ditunggu, tetapi harus diusahakan dan dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.
Ia pun menutup orasinya dengan optimisme bahwa lulusan UIN Alauddin Makassar akan mampu menjadi generasi adaptif, responsif, dan visioner yang siap menghadapi tantangan zaman.
Alat AksesVisi