Gambar Wisuda Perdana 2026, Rektor UIN Alauddin Serukan Lahirnya “Sarjana Penakluk”

Wisuda Perdana 2026, Rektor UIN Alauddin Serukan Lahirnya “Sarjana Penakluk”

UIN Alauddin Online - Sidang Senat Terbuka Luar Biasa Wisuda Angkatan ke-116 Program Sarjana, Magister, dan Doktor Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar berlangsung khidmat di Auditorium Kampus II UIN Alauddin, Samata-Gowa, Kamis, 12 Februari 2026. Suasana haru dan bangga menyelimuti ruangan saat ratusan wisudawan resmi dikukuhkan di hadapan para pimpinan universitas, anggota senat, dosen, tenaga kependidikan, serta orang tua dan keluarga yang memenuhi auditorium. Turut hadir dalam prosesi tersebut Kapolsek Somba Opu sebagai tamu kehormatan, bersama jajaran sivitas akademika UIN Alauddin Makassar.

Sebanyak 750 wisudawan dan wisudawati resmi dikukuhkan pada wisuda kali ini. Mereka berasal dari delapan fakultas dan Program Pascasarjana. Fakultas Syariah dan Hukum meluluskan 138 orang, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 58 orang, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat 68 orang, Fakultas Adab dan Humaniora 71 orang, Fakultas Dakwah dan Komunikasi 115 orang, Fakultas Sains dan Teknologi 63 orang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam 79 orang, serta Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan 38 orang. Sementara itu, Program Magister meluluskan 96 orang dan Program Doktor sebanyak 24 orang.


Dalam sambutannya, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. H. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D., mengawali dengan mengajak para wisudawan memberikan apresiasi kepada orang tua mereka. Ia meminta seluruh lulusan mempersembahkan tepuk tangan meriah sebagai bentuk penghormatan atas doa dan pengorbanan yang mengantarkan mereka hingga hari pengukuhan.

Rektor menyampaikan ucapan selamat kepada para wisudawan dan orang tua yang dinilainya telah berhasil melewati fase penting dalam perjalanan akademik. Ia menegaskan bahwa wisuda ini merupakan wisuda perdana tahun 2026, sekaligus penanda semangat baru dalam tata kelola akademik yang lebih progresif. Ke depan, wisuda direncanakan akan dilaksanakan lebih rutin sebagai bagian dari optimalisasi layanan akademik kepada mahasiswa.

Dalam refleksi personalnya, Prof. Hamdan mengungkapkan bahwa setiap kali menandatangani ijazah, ia selalu mengiringinya dengan basmalah dan doa. Baginya, tanda tangan tersebut bukan sekadar formalitas administratif, melainkan simbol tanggung jawab moral seorang pemimpin perguruan tinggi terhadap masa depan lulusannya.

“Yang saya tunggu dari kalian adalah berita pencapaian kehidupan kalian, bagaimana kalian bisa memberi dampak terbaik bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kebahagiaan seorang pendidik tidak berhenti pada prosesi wisuda, melainkan pada kabar keberhasilan alumni di tengah masyarakat. Sebagai dosen yang akan tetap mengabdi di kampus meski kelak tak lagi menjabat rektor, ia menyebut dirinya akan terus menunggu cerita-cerita keberhasilan para lulusan UIN Alauddin di berbagai lini kehidupan.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Hamdan juga menyampaikan kabar strategis terkait pengembangan institusi. Rumah Sakit UIN Alauddin tengah dalam proses kerja sama dengan BPJS Kesehatan. Langkah ini diharapkan memperluas akses pelayanan kesehatan sekaligus memperkuat peran kampus sebagai institusi yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Memasuki bagian reflektif sambutannya, Rektor menyampaikan satu pesan kunci: menjadi “sarjana penakluk”. Istilah itu lahir dari pengalamannya menghadiri pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto dalam agenda taklimat pendidikan tinggi menyongsong bonus demografi 2045. Ia menggambarkan arahan Presiden bukan sekadar pencerahan biasa, melainkan sebuah “penaklukan ide” yang membangkitkan keberanian berpikir dan bertindak. Dari peristiwa itulah ia merumuskan pesan bagi para lulusan: sarjana penakluk bukan hanya mereka yang berhasil menyelesaikan studi, tetapi mereka yang mampu menaklukkan tantangan kehidupan.

Sarjana penakluk, menurutnya, bukan hanya mereka yang berhasil menyelesaikan proses akademik, tetapi mereka yang mampu menaklukkan tantangan kehidupan dengan kreativitas, keberanian, dan keteguhan hati. Pribadi yang memiliki kreativitas dalam membaca persoalan, keberanian menghadapi risiko, serta kemampuan mematikan keraguan dalam diri. Mereka memahami bahwa kehidupan adalah arena yang menuntut kecerdasan nalar, bukan sekadar rutinitas.


Sebagai ilustrasi konkret, Prof. Hamdan melakukan eksperimen sederhana di hadapan para wisudawan. Sebuah jeruk ditenggelamkan ke dalam wadah berisi air, lalu seorang wisudawan diminta mengambilnya tanpa menumpahkan air. Tantangan itu berhasil diselesaikan bukan dengan cara biasa, melainkan dengan memanfaatkan prinsip pusaran air yang secara ilmiah dapat mengangkat benda ringan ke permukaan.

Eksperimen tersebut menjadi metafora kuat: tantangan hidup tidak selalu diselesaikan dengan tenaga, tetapi dengan pengetahuan, teori, dan pemahaman hukum alam.

“Itulah sarjana penakluk mampu menggunakan pengetahuan dan nalar untuk menyelesaikan persoalan,” tegasnya.

Wisuda Angkatan ke-116 ini pun tidak hanya menjadi seremoni akademik, tetapi momentum peneguhan identitas lulusan UIN Alauddin Makassar sebagai generasi yang siap menaklukkan tantangan zaman dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

Previous Post Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1447 H Bertepatan 21 Maret 2026
Next Post Sampaikan Selamat Hari Suci Nyepi, Menag: Satu Bumi, Satu Keluarga