Gambar RS UIN Alauddin Gelar Rapat Kerja 2026, Perkuat Layanan dan Matangkan Kerja Sama BPJS

RS UIN Alauddin Gelar Rapat Kerja 2026, Perkuat Layanan dan Matangkan Kerja Sama BPJS

UIN Alauddin Online - Rumah Sakit (RS) UIN Alauddin menggelar Rapat Kerja Tahun 2026 yang berlangsung di Lantai 4 Gedung RS UIN Alauddin, Rabu, 5 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam merumuskan arah kebijakan, melakukan evaluasi kinerja, serta menyusun strategi pengembangan layanan rumah sakit ke depan.

Rapat kerja tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan UIN Alauddin, di antaranya Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum dan Perencanaan Keuangan Prof. Dr. H. Andi Aderus, Lc., M.A., Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan H. Anwar Abubakar, S.Ag., M.Pd., Dewan Pengawas RS UIN Alauddin Ali B. Ismail, SE., AK., CA., MM., CRBD.., serta seluruh jajaran manajemen RS UIN Alauddin.

Direktur RS UIN Alauddin, dr. Purnamaniswaty, M.Kes., dalam sambutannya menegaskan bahwa rapat kerja bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan ruang konsolidasi dan refleksi atas perjalanan rumah sakit yang masih tergolong baru.

“Rapat kerja ini bukan hanya agenda tahunan yang kita lakukan secara berkala, tetapi juga menjadi momentum konsolidasi, refleksi, sekaligus penyusunan arah dan tujuan rumah sakit ke depan,” ujarnya.

Ia mengingat kembali fase awal berdirinya rumah sakit yang diwarnai keterbatasan sumber daya manusia serta fokus utama pada pengurusan perizinan.

“Saya masih ingat, tahun lalu di bulan yang sama, kita masih sangat terbatas. Tim kecil bekerja mengurus perizinan operasional. Bahkan sempat ada yang bertanya, ‘Mana karyawannya?’, karena memang saat itu kita harus memaksimalkan SDM yang ada,” ungkapnya.

Izin operasional RS UIN Alauddin resmi terbit pada Maret tahun lalu dan dilanjutkan dengan grand opening pada Juli yang diresmikan oleh Menteri Agama. Meski layanan yang tersedia saat itu masih terbatas, rumah sakit berhasil meraih capaian membanggakan berupa akreditasi paripurna.

“Awalnya ekspektasi kita hanya bisa terakreditasi, tetapi Alhamdulillah kita mampu meraih akreditasi paripurna. Ini adalah hasil kerja keras seluruh tim dan dukungan pimpinan,” tambahnya.

Pada tahun 2026, salah satu fokus utama manajemen RS UIN Alauddin adalah menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan guna memperluas akses layanan kepada masyarakat.

“Untuk memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat, kita harus bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Di sisi lain, kita juga sudah mulai bekerja sama dengan beberapa asuransi umum, termasuk asuransi kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja,” jelas Direktur RS UIN Alauddin.

Namun demikian, ia mengakui bahwa kesiapan layanan masih perlu terus ditingkatkan. Dari 24 jenis layanan yang dipersyaratkan, rumah sakit baru mampu mengoperasikan sekitar 12 layanan.

“Kita masih membutuhkan banyak dukungan, baik dari sisi SDM maupun peralatan kesehatan. Karena itu, kami sangat mengharapkan dukungan pimpinan universitas dan dewan pengawas, terutama dalam penguatan anggaran dan fasilitas,” tegasnya.


Ketua Dewan Pengawas RS UIN Alauddin, Ali B. Ismail, SE., AK., CA., MM., CRBD., menekankan bahwa keberadaan rumah sakit merupakan bagian dari tanggung jawab pengelolaan aset universitas agar lebih produktif dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

“Salah satu tanggung jawab kita adalah bagaimana memberdayakan aset yang telah diamanahkan pemerintah kepada UIN Alauddin. Rumah sakit ini adalah bagian dari upaya itu,” ujarnya.

Sambil menunggu terwujudnya kerja sama dengan BPJS Kesehatan, ia menilai rumah sakit perlu memperkuat sistem internal, terutama dalam tata kelola administrasi dan pengelolaan data pasien.

“Pengelolaan data pasien sangat krusial. Selain itu, proses coding dan grouping diagnosis sesuai sistem yang berlaku juga menjadi hal penting. Ini membutuhkan keterampilan, pemahaman, dan pembaruan yang berkelanjutan,” jelasnya.

Menurutnya, ketidaksesuaian dalam pengelolaan data dan klaim berisiko menyebabkan penolakan klaim pembiayaan.

“Jika tidak mengikuti aturan yang dinamis, risikonya klaim bisa ditolak dan rumah sakit yang menanggung kerugiannya. Karena itu, diperlukan pelatihan, bahkan pendampingan langsung saat implementasi,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor II UIN Alauddin, Prof. Dr. H. Andi Aderus, Lc., M.A., menegaskan bahwa rapat kerja harus dimanfaatkan sebagai forum evaluasi dan perencanaan strategis yang terukur.

“Rapat kerja adalah kesempatan untuk mengevaluasi apa yang sudah kita lakukan, melihat kelemahan yang ada, serta merancang program prioritas ke depan,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa detail kecil dalam pelayanan juga berpengaruh pada penilaian eksternal, termasuk dari BPJS Kesehatan.

“Hal-hal kecil seperti kebersihan dan ketersediaan fasilitas dasar jangan dianggap sepele. Saat ada penilaian atau kunjungan, semua itu ikut menentukan,” katanya.

Menutup arahannya, Prof. Andi Aderus menekankan bahwa pengembangan rumah sakit membutuhkan komitmen dan pengorbanan bersama.

“Membangun rumah sakit yang kuat tidak bisa instan. Dibutuhkan kerja keras, kebersamaan, dan kesabaran. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, rapat kerja RS UIN Alauddin secara resmi saya buka,” pungkasnya.

Melalui rapat kerja ini, RS UIN Alauddin diharapkan mampu merumuskan langkah-langkah strategis yang realistis dan berkelanjutan dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan, sekaligus memperkuat perannya sebagai rumah sakit pendidikan dan rujukan di Kota Makassar.

Previous Post Menag: Idulfitri Momentum Menjaga Nyala Kepedulian
Next Post Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1447 H Bertepatan 21 Maret 2026