UIN Alauddin Online - Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dihadapkan pada tantangan serius dalam dinamika pendidikan tinggi, salah satunya tren penurunan jumlah pendaftar dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut menuntut PTKIN untuk melakukan penguatan identitas kelembagaan (DNA) serta distingsi program studi agar tetap relevan dan kompetitif di tengah persaingan global.
Hal tersebut disampaikan Koordinator Pokja Penjaminan Mutu PMB PTKIN 2026, Prof. Zulfahmi Alwi, S.Ag., M.Ag., Ph.D., dalam Sharing Session bertajuk Penguatan DNA dan Distingsi Prodi di PTKIN Menghadapi Tantangan Pendidikan Tinggi, Rabu, 28 Januari 2026.
Menurut Prof. Zulfahmi, penurunan minat pendaftar tidak dapat disikapi secara administratif semata, melainkan perlu dibaca sebagai tantangan strategis yang menuntut refleksi mendalam dari seluruh pengelola PTKIN dan program studi.
“Pilihan calon mahasiswa terhadap perguruan tinggi sangat dipengaruhi oleh persepsi masa depan, relevansi keilmuan, serta kepercayaan publik terhadap institusi,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya penguatan identitas PTKIN yang tidak hanya berhenti pada aspek simbolik, tetapi harus terinternalisasi dalam kebijakan, kurikulum, budaya akademik, dan layanan pendidikan. Identitas tersebut, menurutnya, menjadi fondasi utama dalam membangun daya saing dan kepercayaan masyarakat.
Salah satu kekuatan utama PTKIN yang perlu terus diperkuat adalah integrasi ilmu, yakni perpaduan antara ilmu keislaman dan ilmu umum. Konsep ini, lanjut Prof. Zulfahmi, tidak cukup dimaknai sebagai slogan, tetapi harus diwujudkan secara nyata dalam proses pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ia juga menyinggung bahwa setiap UIN memiliki karakter integrasi keilmuan yang khas. Dalam konteks UIN Alauddin Makassar, integrasi tersebut direpresentasikan melalui konsep Rumah Peradaban, yang menegaskan sinergi antara nilai keislaman, keilmuan modern, serta kearifan lokal dalam pengembangan pendidikan tinggi.
Selain itu, Prof. Zulfahmi mengingatkan pentingnya penyesuaian narasi dan pendekatan PTKIN dengan karakter generasi muda saat ini. Generasi Z, menurutnya, cenderung mempertimbangkan peluang masa depan, fleksibilitas keilmuan, serta keterkaitan pendidikan dengan dunia kerja dan kebutuhan global.
Menutup pemaparannya, Prof. Zulfahmi mengajak seluruh PTKIN untuk berani keluar dari zona nyaman, memperkuat keunggulan program studi, serta menghadirkan inovasi yang berdampak nyata bagi mahasiswa dan masyarakat.
“PTKIN harus tampil bukan hanya unggul secara administratif dan akreditasi, tetapi juga dipercaya publik sebagai ruang pembentukan masa depan,” pungkasnya.
Alat AksesVisi