UIN Alauddin Online — Wisuda Angkatan 116 UIN Alauddin Makassar pada Kamis, 12 Februari 2026 menghadirkan tiga wisudawan terbaik universitas dengan kisah perjuangan yang menginspirasi. Sitti Nurannisa Arman sebagai Wisudawan Terbaik I, Nur Islah Kurnila sebagai Wisudawan Terbaik II, dan Muhammad Fajar Alamsyah sebagai Wisudawan Terbaik III membuktikan bahwa ketekunan, konsistensi, dan ketangguhan mampu mengantarkan pada puncak prestasi.
Predikat Wisudawan Terbaik I diraih oleh Sitti Nurannisa Arman dari Jurusan Hukum Keluarga Islam. Mahasiswi asal Bombana ini mencatatkan IPK sempurna 4,00 dalam waktu 3 tahun 4 bulan 8 hari. Fokus sepenuhnya pada akademik, Nisa mengandalkan metode pembuatan rangkuman materi dosen agar dapat memahami inti pelajaran secara mendalam.
“Alhamdulillah, rasanya seperti menuai apa yang telah ditanam. Semua proses panjang, perjuangan, pengorbanan, serta ketekunan selama kuliah akhirnya terbayar,” ujarnya. Nisa diketahui didukung beasiswa “Berani Berprestasi” dari Pemda Bombana.
Sementara itu, Wisudawan Terbaik II diraih oleh Nur Islah Kurnila, S.Pd., dari Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Lulusan asal Bulukumba ini mencatatkan IPK 3,99 dengan predikat Cumlaude, menunjukkan konsistensi akademik yang hampir sempurna sepanjang masa studinya.
Adapun Wisudawan Terbaik III diraih oleh Muhammad Fajar Alamsyah dari Jurusan Manajemen Dakwah dengan IPK 3,97. Ia menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun 3 bulan 24 hari. Prestasi tersebut diraih di tengah ujian berat; sang ayah wafat tepat sehari sebelum keberangkatannya menjalani KKN di Lombok Tengah.
Meski sempat menunda keberangkatan selama tujuh hari untuk masa berkabung, Fajar tetap berangkat mengabdi. “Walaupun sempat menunda karena ayah meninggal, itu tidak menghalangi saya untuk tetap mengabdi dan bermakna bagi masyarakat,” ungkapnya. Selain disiplin sebagai ketua tingkat, aktif di Paduan Suara Mahasiswa dan menjadi relawan di sekolah mimpi, Fajar memanfaatkan waktu tengah malam atau sebelum subuh untuk belajar.
Ketiganya menitipkan pesan bagi mahasiswa yang masih menjalani proses akademik. Fajar mengingatkan pentingnya kerendahan hati dan kolaborasi. “Jangan pernah pelit ilmu dan selalu tolong-menolong,” pesannya singkat.
Nisa menambahkan penguatan mental agar tetap bertahan hingga garis akhir. “Tetaplah semangat dan selesaikan apa yang menjadi tanggung jawabmu. Ingatlah ada orang tua dan keluarga yang menunggu dengan penuh harapan. Nikmati prosesnya, karena momen ini hanya sekali dan akan menjadi kenangan berharga,” tuturnya.
Kini, baik Fajar maupun Nisa membidik jenjang magister (S2) melalui jalur beasiswa. Fajar bertekad menjadi seorang dosen, sementara Nisa berencana mencari pengalaman kerja terlebih dahulu sebelum melanjutkan studi guna membantu ekonomi keluarganya. Kisah ketiganya membuktikan bahwa melalui ketangguhan menghadapi ujian, konsistensi akademik, dan disiplin belajar, kesuksesan akan tetap menemukan jalannya.
Alat AksesVisi