Gambar Dari Pendidikan hingga Ushul Fikih, Tiga Guru Besar UIN Alauddin Teguhkan Arah Keilmuan Islam

Dari Pendidikan hingga Ushul Fikih, Tiga Guru Besar UIN Alauddin Teguhkan Arah Keilmuan Islam

UIN Alauddin Online - Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka Luar Biasa dalam rangka pengukuhan Guru Besar yang berlangsung di Auditorium Kampus II Samata-Gowa, Senin, 9 Februari 2026. Sidang senat tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Mardan, M.Ag., dan secara resmi menetapkan pengukuhan tiga akademisi sebagai Guru Besar UIN Alauddin Makassar.

Adapun para Guru Besar yang dikukuhkan, yakni Prof. Dr. H. Andi Achruh, M.Pd.I. sebagai Guru Besar dalam bidang Pendidikan Islam Kontemporer, Prof. Dr. Hj. Indo Santalia, M.Ag. sebagai Guru Besar dalam bidang Teologi Kebudayaan Islam, serta Prof. Dr. H. Abd. Rauf Muhammad Amin, Lc., M.A. sebagai Guru Besar dalam bidang Ushul Fikih.

Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Dr. H. Andi Achruh, M.Pd.I. menegaskan pentingnya paradigma pendidikan Islam yang humanis, inklusif, dan adaptif. Menurutnya, pendidikan Islam harus mampu menjawab tantangan globalisasi dan era digital, tanpa kehilangan pijakan pada nilai-nilai keislaman. Pendekatan tersebut dinilai strategis dalam memperkuat moderasi beragama serta membangun peradaban yang berkeadilan.

Ia menyimpulkan bahwa pendidikan Islam yang humanis memuliakan martabat manusia, pendidikan Islam yang inklusif menghargai pluralitas tanpa melemahkan keteguhan iman, sementara pendidikan Islam yang adaptif menjaga relevansi nilai-nilai Islam dalam merespons perubahan zaman dan tantangan global.

Sementara itu, Prof. Dr. H. Abd. Rauf Muhammad Amin, Lc., M.A. dalam orasi ilmiahnya menjelaskan pentingnya pembaruan Ushul Fikih yang berlandaskan pada maq??id al-syar?‘ah. Pembaruan tersebut, menurutnya, harus dilakukan melalui metodologi ilmiah yang sistematis dan kontekstual, serta divalidasi dengan prinsip kemaslahatan agar hukum Islam tetap relevan, objektif, dan selaras dengan tujuan syariat.

Di sisi lain, Prof. Dr. Hj. Indo Santalia, M.Ag. membahas secara mendalam hubungan antara agama, budaya, dan masa depan kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa agama dan budaya merupakan dua entitas yang saling membutuhkan dan tidak dapat dipisahkan secara kaku. Agama tanpa budaya berpotensi kehilangan bahasa kemanusiaannya, sementara budaya tanpa agama akan kehilangan orientasi transendennya.

Menurutnya, dalam realitas sosial, hubungan antara agama dan budaya hampir menjadi sebuah keniscayaan. Dalam konteks Indonesia, Islam memiliki potensi besar untuk mendukung kehidupan demokrasi dan keberagamaan yang majemuk. Dengan demikian, seluruh warga masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai tanpa diskriminasi atas dasar perbedaan agama maupun budaya, karena keduanya saling membentuk dan menguatkan.


Pada kesempatan tersebut, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Hamdan Juhannis, turut memberikan tanggapan atas orasi ilmiah para Guru Besar. Ia menekankan pentingnya nilai-nilai moral, integritas keilmuan, dan tanggung jawab akademik, sehingga pengukuhan Guru Besar tidak sekadar menjadi seremoni formal, tetapi juga sarat dengan pesan keilmuan dan kemanusiaan yang bermakna.

Pengukuhan Guru Besar ini menjadi momentum strategis bagi UIN Alauddin Makassar dalam memperkuat peran dan kontribusi keilmuan Islam yang relevan dengan perkembangan zaman. Gagasan dan pemikiran para Guru Besar diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan, hukum, serta kehidupan sosial-keagamaan yang berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

Previous Post Pemerintah Tetapkan 1 Syawal 1447 H Bertepatan 21 Maret 2026
Next Post Sampaikan Selamat Hari Suci Nyepi, Menag: Satu Bumi, Satu Keluarga