Setiap Jumat, Ustad Mimbar berdiri tegak di atas podium masjid, dengan suara lantang dan diksi yang tertata rapi. Ia mengutip ayat, hadis, dan pendapat ulama klasik dengan presisi yang mengesankan. Jamaah terdiam; bukan semata karena khidmat, tetapi karena jarak yang kian terasa antara wacana moral yang disampaikan dan realitas hidup yang mereka jalani.
Dalam khutbahnya, Ustad Mimbar mengecam keras praktik korupsi sebagai dosa struktural yang merusak sendi-sendi keadilan sosial. Namun, pada hari yang sama, ia menerima “amplop coklat” dari panitia pembangunan masjid tanpa pernah mempertanyakan asal-usul dana tersebut.
Fenomena ini mencerminkan apa yang dalam kajian etika sosial disebut sebagai disonansi moral: ketidaksinkronan antara norma yang dikhotbahkan dan tindakan yang dipraktikkan.
Di mimbar, ia menyerukan kesederhanaan hidup dan mengecam konsumerisme sebagai bentuk penghambaan modern. Akan tetapi, di luar masjid, Ustad Mimbar dikenal sebagai figur yang enggan hadir tanpa fasilitas eksklusif: mobil nyaman, hotel berbintang, dan honorarium yang dinegosiasikan dengan ketat.
Dalam konteks sosiologis, hal ini menunjukkan bagaimana simbol kesalehan dapat bertransformasi menjadi modal sosial dan ekonomi. Tidak mengherankan kalau Ustad Mimbar hidup dalam hedonisme, punya rumah istana, mobil premium, cincin permata, jam tangan mahal, bahkan terkadang istrinya banyak, maksud saya istrinya banyak anaknya, ha ha.
Kritik paling tajam justru muncul dari hal yang paling sederhana. Ustad Mimbar sering menasihati jamaah agar bersabar menghadapi kerasnya hidup, sembari mengutip pahala orang miskin yang tabah. Namun ia jarang terlihat duduk bersama tukang parkir masjid atau menyapa Marbot yang gajinya kerap terlambat. Kesabaran, dalam praktiknya, menjadi tuntutan sepihak, dibebankan pada mereka yang tidak memiliki kuasa.
Dalam kajian pendidikan moral, figur seperti Ustad Mimbar merepresentasikan kegagalan pedagogis: ajaran yang tinggi secara normatif tetapi rendah secara aplikatif. Agama direduksi menjadi retorika vertikal, hubungan manusia dengan Tuhan, tanpa keberanian untuk menyentuh dimensi horizontal, yaitu keadilan, empati, dan konsistensi perilaku sosial.
Mimbar, yang seharusnya menjadi ruang transformasi nilai, berubah menjadi panggung reproduksi simbol. Ustad Mimbar tidak sepenuhnya salah dalam ucapannya; yang bermasalah adalah ketidakhadiran refleksi diri. Sebab, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat tidak hanya belajar dari apa yang dikatakan seorang ustad, tetapi terutama dari apa yang ia lakukan ketika turun dari mimbar.
Alat AksesVisi