Setiap kali mendengar kabar ada keluarga atau kerabat yang meninggal dunia, hampir selalu hati kita bertanya:
“Karena apa ia meninggal?”
“Sakit apa?”
“Bagaimana kondisinya saat menghembuskan napas terakhir?”
Sepertinya, kita memang selalu penasaran bagaimana akhir kehidupan seseorang. Mungkin karena jauh di dalam diri, kita tahu: suatu hari nanti, pertanyaan itu akan tertuju kepada diri kita sendiri.
Manusia terlahir dengan satu cara yang sama, yaitu melalui persalinan dari rahim ibu kita.
Tetapi kehidupan berakhir dengan banyak cara.
Ajal adalah penutup kisah kita. Akhir dari permainan. Hanya saja, cara malaikat menjemput kita berbeda-beda. Ada yang lewat sakit panjang, ada yang mendadak, ada yang sempat berpamitan, ada pula yang pergi tanpa aba-aba.
Sebagai seorang muslim, tentu kita berharap “tutup buku” kehidupan ini terjadi dalam keadaan husnul khatimah, akhir yang indah.
Ini impian bagi semua orang beriman. Tetapi pertanyaannya:
apakah kita sudah menyiapkan caranya?
apakah usaha kita sudah maksimal?
Orang yang cerdas, kata Rasul adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling serius mempersiapkannya.
Harta tidak dibawa mati. Semua orang tahu itu. Tetapi melawan rasa “sekke”, rasa berat melepaskan atau kikir—adalah perjuangan besar. Sifat kikir sesungguhnya ada pada semua manusia. Namun pemahaman bisa mengikisnya, mengubahnya menjadi kedermawanan.
Karena sedekah, sejatinya, bukan kehilangan.
Ia adalah menitipkan harta dunia untuk diambil kembali di akhirat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Harta seseorang tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)
Bagaimana jika kita dizalimi? Difitnah. Atau dalam masa banyak cobaan?
Oh, tenang. Sederhana.
Sabar saja kuncinya.
Karena nilai sabarmu bisa ditukarkan dengan pahala yang besar, di-invest di akhirat .... dapat bunga deposito akhirat
Alat AksesVisi