Gambar SEKELUMIT ASIMILASI BUDAYA BERPAKAIAN DALAM ISLAM

Teringat masa kecil dahulu, ketika mukena jamaah perempuan seragam putih bersih. Terlebih saat berjalan menuju tempat shalat Id, pemandangan itu begitu memikat—barisan putih beriring di jalan, laksana kawanan burung bangau yang anggun melayang menuju telaga. Ada kesederhanaan, ada kekhusyukan, dan ada keindahan yang begitu alami.

Kini, seiring derasnya arus asimilasi budaya dan semakin luasnya pergaulan dengan sesama muslimah dari berbagai negeri—terutama saat menunaikan ibadah ke Tanah Suci—selera berpakaian pun turut mengalami perubahan. Keindahan motif-motif ala Turki yang memesona banyak hati. Tak sedikit yang sepulangnya dari sana memboyong mukena bermotif khas tersebut sebagai buah tangan. Perlahan namun pasti, mukena bermotif Turki pun kian mendominasi saf-saf masjid kita. Pasar pun cermat membaca fenomena ini; ragam mukena ala Turki kini begitu mudah dijumpai.

Dari sisi dalil, agama kita memang memerintahkan untuk menutup aurat dengan baik. Adapun warna, motif, dan model pada dasarnya kembali kepada selera masing-masing. Ada yang menyukai model bertingkat dengan renda yang anggun, ada yang bersulam warna-warni, dan ada pula yang tetap setia pada yang polos dan sederhana.

Semua itu bagian dari keindahan dan ekspresi estetika. Hanya saja, tentu tetap perlu menjaga kepantasan agar tidak berlebihan atau terlalu mencolok, apalagi sampai menyerupai busana pengantin tempo dulu. Dalam hal ini, yang perlu dihindari bukan sekadar panjangnya pakaian (isbal), tetapi sikap kesombongan (kibr) yang mungkin menyertainya.

Menarik pula, khususnya di kampung seperti tempat saya berdomisili, para ibu sering menjadikan mukena sebagai bahan obrolan hangat di masjid. Terlebih menjelang Lebaran, ragam model dan motif baru semakin menambah semarak diskusi mereka. Ada saja yang dibicarakan—dan di situlah letak warna kehidupan bermasyarakat kita.

(*)