Gambar Rumah yang Tak Kunjung Selesai

Delapan puluh satu tahun melangkah, kita masih mengeja nama yang sama.
Nama yang tak pernah selesai dicintai:
Indonesia.

Kemerdekaan bukan cuma rantai yang putus, tapi tangan yang tetap mengecat dinding meski catnya sering luntur sebelum kering.

Rumah ini belum sempurna.
Ruang-ruang menganga.
Luka yang lambat sembuh, sering kambuh.
Bernegara adalah kesabaran hidup di rumah reot sambil terus merenovasi setiap waktu.

Negeri ini tak selalu membutuhkan pengabdian yang gemuruh.
Ia dihidupi oleh orang-orang yang bekerja dengan jujur, berbagi tanpa pamrih ketika tak seorang pun melihat.

Negeri-negeri tak hanya dibentuk oleh mereka yang namanya terpahat dalam sejarah.
Tetapi juga oleh manusia-manusia biasa yang setiap hari memilih untuk tidak mengkhianati kebaikan.

Terima kasih kepada tanah, laut, dan rimba, kepada sawah yang memberi makan, kepada sungai yang menghidupi, kepada telapak yang pecah-pecah oleh cangkul, kepada punggung yang membungkuk sebelum subuh selesai.

Semoga kita tak kehilangan harapan ketika perubahan terasa lambat, tak kehilangan cinta ketika kenyataan kerap mengecewakan.

Mencintai Indonesia barangkali sesederhana ini:
Jangan ikut merusak apa yang belum selesai kita bangun, agar anak cucu kelak masih punya tempat yang dapat mereka sebut rumah.

Kepada Tuhan Yang Mahaesa, syukur dipanjatkan atas tanah air yang masih tersisa keindahannya, atas rakyatnya yang masih menyimpan kebaikan, atas kesempatan menjadi bagian dari rumah yang tak pernah selesai kita renovasi, yang tak pernah selesai kita cintai.

Dirgahayu, Indonesia ke-81
(WH 17082026)