Malam itu klinik hampir sepi.
Hanya tersisa suara kipas angin dan langkah kaki perawat yang sesekali melintas di lorong. Saya sedang menyelesaikan catatan medis ketika pintu ruang periksa terbuka perlahan, seolah tangan yang mendorongnya pun masih belum yakin untuk masuk.
Ia perempuan muda.Mengenakan masker.Matanya tidak bisa menyembunyikan apa yang coba disembunyikan oleh seluruh tubuhnya.
"Selamat malam, Dok."Suaranya nyaris seperti berbisik.
"Selamat malam, Dik. Silakan duduk. Ada yang bisa saya bantu?"Ia duduk di ujung kursi. Punggungnya tegak, tapi bahunya menutup ke dalam — bahasa tubuh seseorang yang sedang menahan sesuatu yang berat.
"Anu, Dok... saya keputihan. Gatal sekali."
"Sudah berapa lama?"
"Sudah lama... mungkin setahunan."
"Sudah pernah berobat sebelumnya?"
"Sudah, Dok." Ia menunduk. "Tapi kambuh lagi."
---
Wanita muda itu — sebut saja Rosa — berusia dua puluh tahun.Seorang mahasiswi, belum menikah.
Saya memandangnya sejenak. Ada sesuatu di balik matanya yang tidak bisa dijelaskan oleh keluhan medis mana pun. Bukan sekadar rasa sakit fisik. Ini lebih dalam dari itu.
"Maaf, Dik. Apakah punya pacar?"Ia diam.
"Apakah sudah pernah berhubungan seksual?"Perlahan, kepalanya mengangguk.Sangat perlahan, seolah mengangguk saja sudah membutuhkan seluruh keberaniannya.
"Apakah sering berganti-ganti pasangan?"Kali ini air matanya tidak bisa lagi ditahan.Satu tetes jatuh, lalu disusul yang lain.Ia mengangguk lagi.
Saya menghela napas panjang.
Kemudian saya mempersilakannya berbaring untuk pemeriksaan.
Hasilnya tidak mengejutkan saya sebagai dokter.Tapi tetap saja menyentuh sesuatu di dalam dada saya sebagai manusia.
"Condyloma acuminata" atau Jengger ayam.Salah satu penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi Human Papillomavirus — HPV.
Sebuah penyakit yang tidak datang dengan sendirinya, melainkan selalu membawa cerita panjang di baliknya.
Pemeriksaan selesai.Saya tidak langsung kembali ke meja dokter saya.Saya duduk di sampingnya.
"Dik Rosa..."Saya menggenggam tangannya. Tangannya dingin.
"Pintu taubat masih terbuka."Ia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan.Tangisnya pecah, bukan tangis yang pelan dan tertahan, melainkan tangis yang sepertinya sudah lama menunggu untuk dikeluarkan.
Saya membiarkannya menangis.Terkadang air mata adalah obat yang paling pertama dibutuhkan, jauh sebelum resep apa pun.
"Penyakit ini," kata saya perlahan, "adalah alarm cinta dari Allah. Cara-Nya mengetuk pintu hati kita agar berhenti sebelum melangkah lebih jauh ke arah yang salah. Allah masih sayang kepada hamba-Nya yang mau kembali."
"Saya takut, Dok..." suaranya terdengar dari balik telapak tangannya.
"Saya merasa hidup saya sudah hancur."
"Tidak, Dik." Saya menjawabnya dengan yakin.
"Yang berbahaya bukan kesalahan yang pernah dilakukan. Yang berbahaya adalah ketika seseorang berhenti berharap pada rahmat Allah. Selama masih ada harapan, selalu ada jalan pulang."
Tangisnya mulai mereda. Pelan-pelan, seperti hujan yang reda setelah badai.Dan kemudian ia bercerita.
Ia bercerita tentang kota yang terasa terlalu besar untuk ditinggali seorang diri.Tentang kamar kos sempit, sunyi, dan penuh dengan malam-malam panjang tanpa teman bicara.
Tentang orang tuanya yang jauh di kampung, yang setiap telepon hanya menanyakan nilai kuliah dan uang kiriman, tidak pernah menanyakan apakah ia baik-baik saja, apakah ia kesepian, apakah ada yang membuatnya menangis.
Tentang pergaulan kampus yang awalnya hanya ia ikuti untuk sekadar punya teman.Agar tidak merasa sendirian di kota orang.
Tentang seorang laki-laki yang datang membawa perhatian.Yang pertama kali dalam waktu lama membuat ia merasa ada yang peduli.Yang mengirimi pesan setiap pagi.Yang menemaninya makan siang.Yang terasa seperti rumah di tengah kota yang asing.Kemudian pergi.
Datang lagi yang lain.Pergi lagi.
Begitu terus.Berulang.Hingga ia sendiri tidak lagi tahu di mana batas antara mencari kasih sayang dan kehilangan diri sendiri.
"Saya hanya ingin ada yang peduli sama saya, Dok."Kalimat itu membuat ruangan terasa sunyi.
Saya diam cukup lama.
Betapa banyak anak muda seperti Rosa di luar sana yang sebenarnya tidak sedang mencari kemaksiatan.Mereka hanya mencari perhatian.Mereka hanya mencari tempat bercerita.Mereka hanya mencari rasa dicintai.
Namun ketika cinta dicari di tempat yang salah, yang ditemukan bukan kebahagiaan.Yang ditemukan adalah luka yang jauh lebih dalam dari kesepian yang semula ingin mereka sembuhkan.
Saya kemudian menjelaskan kondisi medisnya dengan bahasa yang sejelas mungkin.
"Dik, penyakit ini bisa diobati. Tapi yang jauh lebih penting adalah menghentikan perilaku yang menjadi pintu masuknya. Karena jika tidak, penyakit bisa berulang, dan membawa komplikasi yang jauh lebih serius di kemudian hari."
Ia mengangguk. Kali ini lebih mantap.
"Saya menyesal, Dok."
"Penyesalan adalah langkah pertama menuju perbaikan, Dik. Jangan sia-siakan perasaan itu."
Sebelum pulang, ia menoleh sekali lagi ke arah saya.
"Terima kasih, Dok. Baru kali ini saya merasa... tidak dihakimi."
Saya tersenyum.
"Dokter juga manusia, Dik. Kami bukan hakim. Kami hanya ingin membantu.
Ia pergi. Langkahnya masih berat, tapi tidak lagi sama seperti saat ia datang.
Setelah Rosa pulang, saya duduk termenung cukup lama di kursi saya.Lembar rekam medisnya masih terbuka di hadapan saya, tapi pikiran saya tidak di sana.
Saya memikirkan berapa banyak Rosa lain yang tidak sempat datang ke klinik. Yang menanggung semuanya sendiri. Yang tidak tahu bahwa penyesalan bukan akhir dari segalanya.
Saya memikirkan media sosial yang setiap hari membisikkan kepada anak-anak muda bahwa pergaulan bebas adalah kebebasan, bahwa batas-batas moral adalah keterbelakangan, bahwa cinta tidak memerlukan komitmen.
Saya memikirkan kamar-kamar kos yang sunyi di seluruh penjuru negeri ini — penuh dengan anak-anak muda yang lapar bukan oleh makanan, melainkan oleh perhatian yang tidak pernah mereka dapatkan di rumah.
Saya memikirkan data yang saya hafal sebagai dokter: bahwa menurut Organisasi Kesehatan Dunia, setiap hari terjadi lebih dari satu juta kasus baru infeksi menular seksual di seluruh dunia. Bahwa pada tahun 2020 saja, diperkirakan terdapat 374 juta infeksi baru dari penyakit seperti gonore, klamidia, sifilis, dan trikomoniasis. Bahwa kelompok yang paling rentan adalah remaja dan dewasa muda.
Angka-angka itu bukan sekadar statistik.
Di balik setiap angka ada seseorang yang menangis malam-malam. Ada orang tua yang tidak tahu. Ada masa depan yang berubah tanpa direncanakan. Ada penyesalan yang tidak tahu harus diceritakan kepada siapa.
Tidak ada anak yang lahir dengan cita-cita menjadi pecandu maksiat.Tidak ada anak yang bercita-cita terkena penyakit menular seksual.Tidak ada anak yang menginginkan hidupnya berakhir dalam penyesalan.
Mereka hanya salah memilih jalan. Dan sering kali, mereka salah memilih jalan karena tidak ada yang menunjukkan jalan yang benar sejak awal.
Karena itu, tugas kita bukan hanya menghakimi. Tugas kita adalah mengingatkan. Merangkul. Mendoakan. Dan jika memungkinkan.... menunjukkan jalan pulang.
Untuk generasi muda yang sedang membaca tulisan ini...
Jangan pernah tertipu oleh kenikmatan sesaat yang meninggalkan penyesalan bertahun-tahun. Kesepian memang menyakitkan — tapi mengobati kesepian dengan cara yang salah hanya akan menghasilkan luka yang lebih dalam. Jagalah kehormatan dirimu, bukan karena orang lain memintamu, tapi karena kamu tahu betapa berharganya dirimu di mata Allah.
Dekatilah Allah sebelum kesepian itu mendorongmu mendekati hal-hal yang kamu tahu tidak seharusnya kamu dekati.
Pilihlah lingkungan yang menjagamu, bukan yang mengajakmu pergi semakin jauh dari dirimu sendiri.
Untuk para orang tua...Uang kiriman tidak bisa menggantikan pelukan.
Pertanyaan tentang nilai tidak bisa menggantikan pertanyaan tentang perasaan.Banyak anak yang tersesat bukan karena tidak punya biaya hidup, tapi karena tidak punya tempat untuk pulang dan bercerita.Jadilah rumah yang selalu bisa diketuk, kapan pun anak-anak kita membutuhkan.
Dan untuk kita semua...Marilah menjaga keluarga dengan iman dan kasih sayang yang nyata.Karena ketika agama hidup di dalam rumah, ketika komunikasi terjalin hangat antara orang tua dan anak, ketika hati selalu terhubung kepada Allah, insya Allah, banyak pintu keburukan yang tertutup sebelum sempat dimasuki.
Malam itu, sebelum saya meninggalkan klinik, saya berdoa untuk Rosa.Untuk kesembuhannya.Untuk perjalanannya pulang kepada dirinya sendiri.Dan untuk semua jiwa-jiwa muda yang sedang mencari rumah di tempat-tempat yang tidak seharusnya.
Karena sesungguhnya, mencegah satu air mata penyesalan jauh lebih mudah daripada menghapusnya setelah ia jatuh.
Dan seberapa jauh pun seseorang tersesat, selama ia masih mau kembali, pintu itu tidak pernah benar-benar tertutup.
#silakan dishare untuk kebaikan generasi kita
Alat AksesVisi