IBARAT lantunan musik, kehidupan memiliki pola dan gerakan yang teratur dan berulang dalam alur waktu. Sangat dinamis dan sering kali melibatkan perpaduan antara suara dan keheningan, seperti itulah kehidupan.
Setiap hari kita menghabiskan jatah umur 24 jam, semua orang memiliki jatah yang sama, apakah orang baik atau jahat, pintar atau bodoh, sehat atau sakit, pejabat atau rakyat biasa semuanya sama dua puluh empat jam.
Meskipun jatah umur sama, namun pikiran, ucapan, tindakan dan akibat yang ditimbulkan berbeda. Karenanya setiap hari mestinya seseorang membuat dan mengukir prestasi atau nilai tambah minimal untuk dirinya sendiri, apalagi jika membawa kemakmuran untuk keluarga, masyarakat, dan bangsa itu merupakan sebuah prestasi.
Tidak seorang pun yang hidup dalam kesibukan secara terus menerus, sama halnya tidak seorang pun yang senggang selamanya. Sibuk dan senggang hanya soal intensitas. Maksudnya ada orang yang kesibukannya lebih padat, sementara yang lain kesenggangannya lebih panjang. Singkatnya adalah keduanya memiliki waktu sibuk dan waktu senggang, satu saat sibuk, lain waktu senggang. Demikian itulah ritme kehidupan.
Tidak usah mengambinghitamkan kesibukan. Yang terpenting, cara kita memanfaatkan waktu senggang. Mereka yang sukses adalah mereka yang bijak memanfaatkan kesenggangan.
Istirahat adalah berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain. Dari jatah 24 jam yang diberikan kepada setiap orang, mereka yang sukses adalah mereka yang menggunakan kesempatan untuk merajut cita dan harapan. Jadilah mereka penyebar manfaat dan senantiasa dikenang, sukses mengalirkan mata air kebaikan bagi masyarakat dan lingkungan.
Durasi waktu yang diberikan dalam kehidupan semuanya sama sehari semalam. Inginkah kita menggunakan kuota waktu untuk membangun hidup sejahtera, mulia, dan penuh berkah? Jawabannya terpulang pada respons kita masing-masing.
Ungkapan klasik menyebutkan “Dalam hidup ini tidak ada orang yang bodoh, yang ada hanya orang yang malas belajar. Buktinya, tidak ada bayi lahir ujuk-ujuk pintar”. “Siapa yang waktu mudahnya habis untuk menenggak pahitnya belajar, di masa tua akan merengkuh manisnya kepandaian”.
Kesuksesan tidak diraih secara instan. Semua butuh proses dan perjuangan. Tidak cukup hanya dengan tetesan keringat dan air mata, bahkan tetesan darah sekali pun. Semua tokoh besar dalam sejarah senantiasa akrab dan berkawan dengan cobaan dan kesulitan.
Kesuksesan tidak lain adalah milik mereka yang mau jungkir balik menjinakkan cobaan dan kesulitan. Sering kali perhatian kita hanya pada prestasi tokoh bersangkutan di masa kini. Kita acuhkan dan mengabaikan proses dan perjuangan mereka di masa lampau. Ini merupakan awal mula salah kaprah dalam memandang kesuksesan.
Kebanyakan kita kurang sabar menjalani proses, hanya tergiur meraih kesuksesan secara instan. Bahkan tidak jarang memandang rendah sebuah proses yang belum menampakkan hasil.
Mereka mengira yang bisa menjadi sarjana, doktor, profesor, pengamat, peneliti, pejabat, menteri, bahkan presiden, hanya anak dari kalangan tertentu. Kalau anak dari rakyat biasa paling mentok, jadi petani, kuli, atau buruh. Tanpa berani bermimpi bahwa mereka juga bisa menjadi manajer atau direktur. Kita sudah puas anak kita tamat SMA, tanpa berani bermimpi bahwa anak kita pun bisa sampai pascasarjana.
Seorang tokoh rujukan dalam ilmu hadis, Muhammad Nashiruddin Al-Albani (1914-1999 M), lahir dan dibesarkan dari keluarga pas-pasan, berprofesi sebagai tukang servis jam. Sejak usia 20 tahun, Al-Albani fokus mengkaji dan mendalami ilmu hadis. Terinspirasi dari tokoh Muhammad Rasyid Ridha dalam majalah Al-Manar, di sela-sela kesibukan harian Al-Albani, dia menghabiskan waktu di perpustakaan Ad-Dhahiriah Damaskus. Hasilnya tidak kurang dari 218 judul karya tulis beliau wariskan menjadi khasanah pemikiran Islam. (*)
Alat AksesVisi