Dunia pendidikan tinggi dewasa ini menghadapi tantangan besar berupa pergeseran orientasi mahasiswa dari kedalaman ilmu menjadi sekadar perburuan nilai formal. Fenomena ini sering kali diperparah oleh banyaknya aktivitas mahasiswa yang tidak memberikan nilai tambah (non-value activities) bagi pertumbuhan intelektual mereka. Menciptakan ketaatan akademik (academic obedience) memerlukan pendekatan multidimensional yang menyentuh akal, jiwa, dan pola interaksi sosial mereka. Dengan merujuk pada pemikiran komprehensif Muhammad Ilyas Ismail, esai ini akan mengkaji pendekatan multidisiplin yang menyentuh aspek kognitif, afektif, dimensi spiritual, serta komunikasi interpersonal, hingga demensi empiris. Sinergi ini dapat dibangun untuk menghasilkan pembelajaran yang berkualitas dan bermakna.
Alat AksesVisi