Setiap Ramadhan, kita senantiasa mengalami pengalaman yang sama, jam di dinding terasa berjalan lebih lambat dari biasanya. Menjelang maghrib, lima menit bisa terasa seperti setengah jam. Perut mulai berdialog dengan pikiran, dan pikiran mulai bernegosiasi dengan kesabaran. Tetapi justru di situlah rahasia puasa: Allah mendidik kita lewat rasa lapar, bukan untuk menyiksa, melainkan untuk menyadarkan.
Puasa membuat manusia kembali menjadi manusia. Orang yang biasanya makan tanpa berpikir, tiba-tiba memahami arti sepotong kurma. Air putih yang setiap hari dianggap biasa, saat berbuka terasa seperti nikmat yang luar biasa. Dari sini lahir rasa syukur. Dan dari syukur, tumbuh kasih sayang kepada sesama.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa salah satu hikmah puasa adalah kasr al-syahwah—mematahkan dominasi nafsu. Nafsu yang paling kuat adalah perut. Jika perut terkendali, maka amarah, kesombongan, dan keegoisan ikut melemah. Karena banyak kezaliman, kata para ulama, justru bermula dari manusia yang terlalu mengikuti keinginannya sendiri.
Nabi Muhammad ﷺ pun mengaitkan puasa dengan akhlak sosial. Beliau mengajarkan: ketika berpuasa, jangan mudah marah. Bahkan jika ada orang memancing emosi, cukup katakan, “Saya sedang berpuasa.” Artinya, puasa bukan sekadar ibadah fisik, tetapi latihan mengendalikan ego di tengah masyarakat.
Para sufi memahami puasa dengan cara yang sangat indah. Mereka mengatakan: “Perut yang kosong seringkali membuka hati yang tertutup.” Ketika tubuh melemah, kesombongan ikut melemah. Saat itulah manusia mudah iba.
Ada kisah jenaka tentang seorang murid sufi yang baru pertama kali menjalani puasa dengan sungguh-sungguh. Menjelang maghrib ia duduk di samping gurunya sambil memandangi jam air (penunjuk waktu tradisional). Setiap beberapa detik ia bertanya:“Guru… apakah ini sudah hampir maghrib?”.“Belum,” jawab sang guru tenang.
Lima menit kemudian ia bertanya lagi.“Guru…sekarang?”. “Belum juga.”
Tak lama kemudian ia berkata dengan wajah sangat serius,“Guru, saya baru mengerti… rupanya orang miskin itu hebat sekali. Mereka kuat menjalani ini setiap hari.”
Sang guru tersenyum, sembari berkata“Itulah pelajaran puasamu hari ini. Engkau belum belajar menahan lapar, tapi engkau sudah belajar menghargai manusia.”
Sang Murid mengangguk, lalu berkata pelan,“Tapi Guru… pelajaran ini akan lebih meresap kalau maghribnya dipercepat sedikit.”
Sang guru tertawa, dan berkata,“Kalau maghrib dipercepat, yang hilang bukan laparmu, tapi hikmahnya.”
Dalam kisah lain, seorang sufi ditanya mengapa ia tetap tersenyum walau berbuka hanya dengan roti keras. Ia menjawab, “Hari ini aku lapar beberapa jam, tetapi ada orang yang lapar seumur hidup. Jika aku masih sempat tersenyum, itu karena Allah mengizinkanku merasakan sedikit dari hidup mereka.”
Di sinilah puasa menjadi jembatan kemanusiaan. Ia membuat orang kaya mengerti yang miskin, yang kuat memahami yang lemah, dan yang kenyang mengingat yang lapar. Maka Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi bulan sosial. Sedekah meningkat, dapur umum bermunculan, dan pintu maaf terbuka.
Akhirnya, tujuan puasa bukanlah sekadar menunggu adzan maghrib, melainkan berubah setelah maghrib. Jika setelah Ramadhan seseorang lebih lembut hatinya, lebih sabar lisannya, dan lebih ringan tangannya menolong orang lain, berarti ia tidak hanya berhasil menahan lapar, ia berhasil menemukan cinta kemanusiaan.
Karena puasa yang sejati bukan yang membuat kita hanya merasa lapar, tetapi yang membuat kita tidak tega melihat orang lain kelaparan.
AllahA’lamMakassar, 22 Februari 2026(*)
Alat AksesVisi