Gambar Ramadan: Ramai yang Menghidupkan, Sunyi yang Menenangkan

Ramadhan bukan hanya menggerakkan jiwa, tetapi juga menggerakkan pasar. Di bulan ini ekonomi berdenyut lebih cepat. Pusat perbelanjaan mulai diserb, pedagang takjil mulai menjamur, perjalanan mudik mulai direncanakan. Masjid-masjid pun ramai, shalat tarawih, tadarus bergema, dan sedekah mengalir. 

Namun di tengah keramaian itu, ada satu pertanyaan yang perlu kita ajukan dengan jujur, apakah hati kita ikut hidup, atau justru tenggelam dalam hiruk-pikuk?Beranikah kita jujur bahwa kita tidak suka, bahkan takut pada kesunyian? Dan lebih cenderung kepada keramaian.

Kita bisa menahan lapar, tetapi belum tentu mampu menahan diri dari kebisingan. Kita sanggup tidak makan seharian, tetapi sulit mematikan gawai satu jam saja. Jangan-jangan yang paling kita hindari bukan rasa lapar, melainkan perjumpaan dengan diri sendiri.

Di balik semarak Ramadhan, kita sedang diundang menuju keheningan batin. Ia memperlambat ritme hidup. Ia menggeser orientasi dari luar ke dalam. Hanya saja di era hari ini, manusia justru alergi pada sepi. Setiap jeda diisi notifikasi. Setiap hening ditambal suara. Akibatnya, kita kehilangan ruang untuk mendengar suara hati.

Secara psikologis, para ahli menyebut bahwa overstimulasi digital membuat manusia sulit fokus dan mudah gelisah. Otak dipaksa menerima arus informasi tanpa jeda. Puasa seharusnya bukan hanya detoksifikasi tubuh, tetapi juga detoksifikasi atensi. Jika tubuh kita diberi waktu istirahat dari makan, maka pikiran kita pun perlu istirahat dari kebisingan.

Dalam tradisi sufistik, keheningan adalah pintu makrifat. Banyak sufi memilih uzlah, menyepi sejenak bukan untuk lari dari dunia, tetapi untuk menjernihkan cara memandang dunia. Karena dalam sunyi, manusia mulai mendengar denyut terdalam jiwanya. Ia menyadari betapa rapuh dirinya. Ia merasakan betapa dekat Tuhannya.

Ramadhan mengajarkan bahwa kualitas tidak selalu lahir dari keramaian. Doa yang paling tulus sering lahir saat air mata jatuh tanpa saksi. Di situlah hubungan vertikal menemukan keintimannya.

Pada edisi Ramadhan ketiga, kita berbicara tentang identitas semu, jabatan, harta, atribut sosial. Hari ini kita menanggalkan satu lapis lagi yaitu kebutuhan untuk selalu terlihat. Dalam sunyi, kita tidak tampil untuk siapa pun. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pujian. Yang ada hanya dialog antara hamba dan Tuhannya.

Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Allah dekat, lebih dekat dari urat leher. Kedekatan itu bukan jarak fisik, tetapi kesadaran batin. Namun kesadaran itu sulit terasa jika hati terus dipenuhi kebisingan dunia. Maka puasa melatih kita untuk memperlambat, meredam, dan merapikan isi dada.

Teosufisme mengajarkan bahwa manusia yang tidak pernah diam akan kehilangan kedalaman. Ia hidup di permukaan. Ia bereaksi, tetapi tidak merefleksi. Ramadhan datang untuk mengembalikan kedalaman itu. Ia mengajak kita berhenti sejenak dari perlombaan dunia, lalu bertanya, ke mana sebenarnya kita berlari?

Hidup perlu ditata ulang layaknya seperti komputer yang diinstal ulang. Amaliah ditingkatkan, aktivitas yang tidak bermanfaat ditinggal. Kurangi komentar yang tidak perlu. Kurangi debat yang melelahkan. Kurangi keinginan untuk selalu benar. Biarkan ada ruang kosong dalam hari kita, ruang untuk merenung, membaca, berzikir, atau sekadar diam dengan penuh kesadaran.

Karena dalam sunyi yang sehat, hati menjadi lembut. Dalam hening yang jernih, pikiran menjadi terang. Dan ketika hati lembut serta pikiran terang, kita lebih mudah memahami diri, menerima perbedaan, dan mengasihi sesama.

Ramadhan bukan sekadar bulan ramai ibadah, tetapi bulan sunyi yang menghidupkan. Jika hari ini kita mampu berdamai dengan keheningan, maka kita sedang melangkah lebih dekat kepada kedalaman diri, dan kepada Dia yang selalu dekat tanpa pernah jauh.

Semoga Ramadhan hari keempat ini menghadirkan sunyi yang menenangkan, bukan sunyi yang menakutkan.

Sungguminasa, 4 Ramadhan 1447 H
(*)