Gambar Ramadan: Antara Lapar Fisik dan Lapar Makna

Kadang memang ada saja sebagian orang yang sulit menahan diri menjelang waktu berbuka. Jarum jam seolah berjalan lebih lambat dari biasanya.

Beberapa tahun lalu, saya pernah mengisi ceramah menjelang berbuka di sebuah tempat. Sebelum mulai, saya sudah mengingatkan jamaah, “Nanti kita berbuka mengikuti waktu di HP saya, karena sudah saya sesuaikan dengan waktu dari RRI atau TVRI.” Saya akan atur ritme ceramah kapan harus mengakhiri.

Beberapa menit sebelum azan Magrib yang sebenarnya, tiba-tiba terdengar suara azan berkumandang dari hp salah seorang yang duduk di bagian tengah.

Beberapa jamaah langsung bergerak cepat. Ada yang meraih gelas, ada yang refleks menyendok kolak, terutama mereka yang duduk paling dekat dengan meja hidangan atau sudah tersedia di atas di meja bundar. 

Saya sempat terdiam sejenak. Kok cepat sekali? Kenapa Hp saya belum memberi indikasi akan datangnya waktu berbuka, atau waktu di hp saya yang keliru.

Ternyata, setelah ditelusuri, suara azan itu bukan penanda waktu berbuka. Itu hanyalah nada dering dari salah seorang jamaah yang kebetulan mendapat panggilan telepon dari temannya. Jadi yang berkumandang bukan azan Magrib, melainkan azan versi “incoming call”. Makanya di Ramadhan ini, mereka yang menggunakan nada dering azan segera diganti.

Dari situ saya belajar, menjelang berbuka bukan hanya perut yang diuji, tapi juga telinga dan refleks tangan. Jadi, sebelum berbuka,  pastikan dulu azannya dari langit, bukan dari nada dering.

Kita mungkin rajin berpuasa, tetapi apakah kita benar-benar berubah? Atau jangan-jangan Ramadhan hanya memindahkan jadwal makan, bukan menggeser cara pandang? Pertanyaan ini terasa menantang, bahkan menggugat. Namun justru di situlah letak kejujuran spiritual. Kita berani menguji diri sendiri.

Data sosial sering menunjukkan paradoks. Di banyak tempat, konsumsi justru meningkat drastis selama Ramadhan, belanja makanan, pakaian, hingga kebutuhan tersier melonjak. Waktu berbuka kadang berubah menjadi ajang balas dendam kuliner. Media sosial penuh dengan hidangan melimpah. Padahal esensi puasa adalah pengendalian, bukan pelampiasan. Ini bukan kritik terhadap nikmatnya rezeki, tetapi refleksi tentang orientasi, apakah Ramadhan mendidik kesederhanaan, atau malah memperhalus kerakusan dalam bentuk baru?

Secara medis, penelitian tentang puasa menunjukkan banyak manfaat, misalnya metabolisme membaik, sensitivitas insulin meningkat, dan sistem pencernaan mendapat waktu istirahat. Tubuh kita ternyata dirancang untuk tidak terus-menerus menerima asupan. Artinya, secara biologis pun puasa adalah proses penyeimbangan. Jika tubuh saja menemukan keseimbangan melalui jeda, bukankah jiwa juga memerlukan jeda dari ambisi dan ambisiusitas?

Dalam perspektif sufistik, lapar bukan tujuan, melainkan pintu. Lapar (bukan kelaparan) melembutkan hati. Orang yang kenyang terus-menerus cenderung keras dan orang yang merasakan lapar lebih mudah berempati. Karena ia tahu rasanya kekurangan. Di sinilah Ramadhan memiliki dimensi sosial yang kuat. Ia menumbuhkan solidaritas, bukan sekadar spiritualitas individual.

Ramadhan mengajarkan bahwa manusia bukan hanya makhluk biologis, tetapi juga makhluk maknawi. Kita bisa saja kenyang secara fisik, tetapi kosong secara batin. Kita bisa berlimpah materi, tetapi miskin ketenangan. Lapar fisik hanya berlangsung beberapa jam, tetapi lapar makna bisa berlangsung seumur hidup.

Dalam Al-Qur'an ditegaskan bahwa tujuan puasa adalah agar kita bertakwa. Takwa bukan sekadar takut, tetapi kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan dalam setiap keputusan. Ia adalah kompas moral yang menjaga manusia tetap lurus meski tak diawasi.

Filsafat etika menyebutkan bahwa kebajikan lahir dari pembiasaan. Puasa selama sebulan adalah pembiasaan intensif untuk menunda kepuasan, mengendalikan dorongan, dan memilih yang lebih tinggi nilainya daripada sekadar keinginan sesaat. Jika latihan ini berhasil, maka setelah Ramadhan pun kita tetap mampu berkata “cukup” ketika dunia menawarkan “lebih”.

Ramadhan hari ketiga ini mengajak kita bertanya, apakah kita hanya menahan lapar, atau juga menahan keserakahan? Apakah kita sekadar memperbaiki pola makan, atau juga memperbaiki pola pikir? Jika puasa tidak membuat kita lebih jujur, lebih sabar, dan lebih peduli, mungkin yang berpuasa hanya tubuh kita, bukan jiwa kita.

Ramadhan bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang proses. Ia tidak menuntut kita menjadi malaikat dalam semalam, tetapi mengajak kita menjadi manusia yang lebih sadar sedikit demi sedikit. Dan pada akhirnya, ketika senja tiba dan kita berbuka dengan sederhana, ada rasa syukur yang sulit dijelaskan, rasa bahwa kita sedang dilatih, dibimbing, dan dicintai.

Sungguminasa, 3 Ramadhan 1447 H
(*)