Mengapa manusia lebih mudah mengaku terluka daripada mengaku bersalah?
Mengapa air mata sering lebih dipercaya daripada kejujuran?
Mengapa suara korban kerap lebih lantang daripada suara kebenaran?
Dan mengapa dalam banyak konflik, yang paling pandai membangun narasi sering menang, meski bukan yang paling benar?
Di sanalah tragedi itu bermula, ketika penderitaan menjadi strategi, ketika luka menjadi alat, ketika status “korban” diproduksi bukan dari realitas, tetapi dari manipulasi persepsi.
Playing victim bukan lagi sekadar sikap psikologis, tetapi telah menjadi budaya sosial, senjata moral, dan instrumen kekuasaan simbolik. Ia mengaburkan batas antara siapa yang dizalimi dan siapa yang menzalimi, antara kebenaran dan kepentingan, antara fakta dan framing.
Ada orang yang benar-benar terluka,dan ada orang yang pandai melukiskan dirinya sebagai korban. Ada yang dizalimi, dan ada yang menciptakan narasi dizalimi. Di titik ini, dunia menjadi kabur, kebenaran tidak lagi diukur dari fakta, tetapi dari simpati. Kejujuran tidak lagi diuji oleh realitas, tetapi oleh respons publik. Yang menang bukan yang benar, tetapi yang paling meyakinkan.
Al-Qur’an sejak awal sudah mengingatkan bahaya distorsi ini:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
"Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di bumi, mereka berkata: Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan."
(QS. Al-Baqarah: 11)
Mereka merusak, tetapi mengaku membangun. Mereka menyakiti, tetapi mengklaim memperjuangkan. Mereka menzalimi, tetapi mengaku dizalimi. Inilah inti playing victim, membungkus kesalahan dengan narasi moral, menutupi dosa dengan simbol kebaikan.
Allah juga mengingatkan:
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
"Janganlah kamu mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya."
(QS. Al-Baqarah: 42)
Playing victim adalah seni mencampuradukkan seeuqtu, sedikit kebenaran dipakai untuk membenarkan banyak kebohongan. Sedikit luka dipakai untuk menutupi banyak dosa. Sedikit penderitaan dijadikan legitimasi untuk melukai orang lain.
Nabi Muhammad SAW. bersabda:
إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ
"Manusia yang paling dibenci Allah adalah yang paling licik dalam berdebat."(HR. Bukhari dan Muslim)
Playing victim sering lahir dari kelicikan debat, bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk memenangkan simpati. Bukan untuk keadilan, tetapi untuk pembenaran diri.
Lebih tajam lagi Rasulullah SAW. mengingatkan:
إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ
"Yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah para pemimpin yang menyesatkan."
(HR. Ahmad)
Pemimpin yang menyesatkan bukan selalu yang zalim terang-terangan, tetapi yang pandai memposisikan diri sebagai korban sambil memproduksi kerusakan. Mereka memimpin dengan narasi penderitaan, bukan dengan keadilan.
Sayyidina Umar bin Khattab RaZ berkata:
مَنْ أَظْهَرَ الشَّكْوَى أَخْفَى الرِّضَا
"Siapa yang sibuk menampakkan keluhan, sering kali menyembunyikan tanggung jawab."
Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:
الْحَقُّ لَا يُعْرَفُ بِالرِّجَالِ، اعْرِفِ الْحَقَّ تَعْرِفْ أَهْلَهُ
"Kebenaran tidak dikenal dari siapa yang menyampaikannya. Kenalilah kebenaran, maka engkau akan tahu siapa yang benar."
Ini adalah antidot playing victim, ukurlah dengan kebenaran, bukan dengan narasi. Imam Al-Ghazali رحمه الله menulis:
كَمْ مِنْ نَفْسٍ تُحْسِنُ الظَّنَّ بِذَاتِهَا وَهِيَ أَشَدُّ النَّاسِ هَلَاكًا
"Betapa banyak jiwa yang merasa dirinya baik, padahal ia termasuk yang paling rusak."
Ibn Taymiyyah berkata:
الْمُظْلِمُ أَحْيَانًا يَتَزَيَّا بِزِيِّ الْمَظْلُومِ
"Sering kali orang zalim tampil dengan pakaian orang yang dizalimi."
Alat AksesVisi