Saya dan keluarga baru saja kembali dari sebuah pesta perkawinan.Dilaksanakan di Majene, ibu kota Afdeling Mandar pada masa kolonial Belanda.Sengaja hadir, sebab saya menganggap perkawinan adalah sebuah reuni.
Jika di kampus ada reuni bersama teman-teman, maka di pesta perkawinan terjadi reuni keluarga dan handai tolan.
Reuni berarti mempertemukan kembali orang-orang yang telah lama berpisah. Reuni itu penting untuk mengakrabkan kembali hubungan kekeluargaan. Sayangnya kondisi badan sudah tidak sefit dulu lagi. Tidak semua aktivitas dapat saya ikuti seperti dahulu.
Beberapa kegiatan penting pun terpaksa saya tinggalkan seperti acara adat penting "mallattigi." Namun dari pengamatan saya secara saksama, perkawinan sekarang memang telah mengalami perubahan.
Dalam pandangan antropologi keluarga sedang terjadi kecenderungan baru:Dari endogami menuju eksogami. Semakin jauh kita menengok ke masa lalu, perkawinan cenderung bersifat endogami, yakni terjadi di lingkungan keluarga atau kelompok sendiri.
Hal itu disebabkan oleh keterbatasan lingkungan sosial, sarana jalan yang belum mamadai, serta rasa takut yang sering diwariskan secara turun-temurun.
Dulu orang sering berkata:“Jangan ke Mamuju, nanti kamu lembek kepalamu.”“Jangan ke Papua, nanti kamu dimakan.”
Masyarakat akhirnya takut pada bayangan yang mereka ciptakan sendiri. Kini sarana transportasi semakin membaik, jalan semakin mulus, dan orang dengan mudah pergi sekolah jauh meninggalkan kampung halaman.
Di kampus terjadi pertemuan antarsuku, antarbudaya, bahkan antarbangsa. Di sanalah bibit-bibit cinta mulai tumbuh. Terjadilah perkawinan antaretnis, seperti cucunda Zahari dengan Muh. Zuhri yang mempersatukan suku Mandar dan suku dari Sulawesi Tenggara.
Keduanya di pertemukan di sebuah kampus bahkan ada pula sahabat yang bertemu seorang Muslimah Prancis ketika kuliah di Kanada. Mereka kemudian menikah dan hidup bahagia hingga kini. Karena itu, kampus bukan hanya tempat mencari ilmu, tetapi juga tempat pertemuan jodoh.
Kecenderungan eksogami kini semakin diminati. Perkawinan eksogami sesungguhnya memiliki banyak sisi positif dan patut disambut dengan baik. Dengan perkawinan seperti itu, keluarga menjadi semakin kaya pengalaman, wawasan, dan pergaulan budaya.
Wassalam,Kompleks GFM, 11 Juni 2026
Alat AksesVisi