Kemarin, sebuah hotel di Kota Makassar menjadi saksi penyampaian nasihat pernikahan.
Pesan kusampaikan tak hanya tertuju pada pengantin baru—melainkan juga bagi pasangan berusia puluhan tahun, bahkan mereka telah menyandang gelar kakek dan nenek.
Pernikahan, pada fase usia apa pun, selalu layak dipanggil kembali maknanya.
Alasannya sederhana sekaligus menggetarkan: angka perceraian di Kota Daeng terlampau tinggi. Mappatasseleng-seleng.
Perceraian rupanya tak mengenal usia, ruang, atau musim. Ia tak gentar pada jabatan, tak tunduk pada deret gelar akademik, bahkan kerap lolos dari pagar simbol kesalehan.
Godaan perpisahan datang tanpa salam; ketika daya tahan melemah, siapa pun bisa tergelincir menuju keputusan pahit. Padahal, pernikahan adalah ibadah setua peradaban—ikatan purba, relasi paling panjang umur sepanjang sejarah.
Namun fase awal, bulan madu, memang hanya sebulan kenikmatan tanpa tara.
Kerap terjadi di kota Daeng ini, menjelang Ramadhan, cinta diakadkan, rindu disahkan, nyameng dilegalkan.
Namun kegembiraan sering dibayangi kekhawatiran: pengantin baru kerap diuji menahan diri saat puasa menuntut disiplin batin.
Suami istri dilarang "gali lobang tutup lobang" di siang hari. Pemmali.
Rasulullah SAW pernah menegur keras sahabat yang tergelincir melanggar kesucian siang Ramadhan. Kaffarat berat dua bulan puasa berturut-turut ditetapkan agar syahwat tak mengalahkan iman.
Pesan itu tegas: pernikahan bukan alasan meremehkan ibadah, melainkan ruang menempa ketakwaan.
Cinta kerap diibaratkan tebu; awalnya manis digigit, sarinya diseruput penuh gairah. Seiring waktu, ampas dianggap tak bernilai, ujung dilupakan. Ada masa ketika “aku cinta kamu” meluncur ringan, lalu pelan berubah menjadi gumam getir: engkau… kucini tai’.
Pernikahan lebih tepat disamakan dengan kapal di samudera luas. Begitu bahtera masuk ke tengah, ombak meninggi, ekonomi mengguncang, dan karakter saling menggesek. Sebagian kapal karam, sebagian lain bertahan karena awak kapal bekerja sebagai satu tubuh, satu arah.
Dalam Islam, pernikahan adalah sunnah yang sakral; dikerjakan menuai pahala, ditinggalkan tanpa dosa. Seorang lelaki memang meraih ganjaran saat menggenapkan separuh agama. Namun ingat, semakin sering ia mencoba "Mattale' Bene", semakin sering pula ia berisiko mencicipi "sapu lidi" istri pertama.
Cambukan cemburu itu penanda bahwa pernikahan bukanlah ruang steril yang hampa dari riak.
Keindahan rumah tangga justru mekar perlahan melalui rajutan luka, tawa, dan tetesan air mata yang tulus. Di sana, kesetiaan bukan lagi sekadar janji, melainkan bukti ketahanan yang teruji.
Waktu menempa cinta menjadikannya lebih dalam, lebih matang, dan kokoh. Kunci rumah tangga bukan sekadar jatuh cinta sekali, lalu berharap abadi. Kuncinya adalah jatuh cinta berulang kali pada orang yang sama. Di sanalah pernikahan menemukan rohnya yang sejati.
Alat AksesVisi