Gowa, 5 Agustus 2026. Awalnya, layar laptop dan HP berbagai fitur di dalamnya tampak seperti sesuatu yang
cukup rumit bagi sebagian guru. Namun, suasana itu perlahan berubah ketika satu
per satu guru mulai mencoba membuat akun, memilih fitur, memasukkan soal,
menambahkan materi, dan mengatur aktivitas pembelajaran melalui Wordwall dan Quizizz.
Sesekali
terdengar percakapan antarguru. Ada yang bertanya cara memasukkan soal, ada
yang mencoba mengatur tampilan, sementara yang lain memperlihatkan hasil
pekerjaannya kepada rekan di sebelahnya. Suasana pelatihan pun berubah menjadi
ruang belajar yang aktif dan penuh rasa ingin tahu.
Itulah
suasana pelatihan media pembelajaran digital yang diikuti 24 guru dari lima SD/MI di Desa Tonasa, Kecamatan Tombolopao, Kabupaten
Gowa, pada 4-5 Agustus 2026, yang dipusatkan di SD Inpres
Maronging. Hari pertama 4 Agustus pelatihan membuat Media Kartu Kata berbantuan
Metode SAS dan Media Ular Tangga Edukatif, dan hari kedua 5 Agustus 2026
dilanjutkan dengan pembuatan Media Wordwall dan Quizizz.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilakukan oleh TIM Dosen dan Mahasiswa Prodi PGMI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari pembelajaran. Bukan sekadar memperkenalkan aplikasi, pelatihan diarahkan agar guru benar-benar mengalami sendiri proses membuat media pembelajaran digital hingga siap digunakan di kelas.

Bukan Sekadar Mendengar, tetapi Langsung Mencoba
Pelatihan
diawali dengan pemberian materi dan penguatan pemahaman mengenai pemanfaatan
media pembelajaran digital oleh Narasumber Dr. Hj. Andi Halimah, M.Pd.
Setelah itu, kegiatan lebih banyak diisi dengan praktik yang didampingi oleh mahasiswa.
Para
guru dipandu membuat akun masing-masing untuk mengaktifkan Wordwall dan Quizizz. Tahap demi tahap mereka mengikuti
proses mulai dari mengenal fitur, memasukkan materi, membuat pertanyaan,
memilih bentuk aktivitas, hingga menyusun media pembelajaran.
Pendekatan
praktik menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut.
Guru
tidak hanya duduk mendengarkan penjelasan narasumber. Mereka langsung memegang
perangkat, mencoba sendiri, bertanya ketika mengalami kesulitan, kemudian
memperbaiki hasil pekerjaannya.
Dari
sinilah proses belajar yang sesungguhnya berlangsung.
Rasa
ragu perlahan berganti menjadi rasa percaya diri ketika guru melihat media yang
dibuatnya mulai terbentuk dan dapat dimainkan atau digunakan sebagaimana
rancangan pembelajaran yang mereka inginkan.
Dari Bahasa Indonesia hingga PPKn
Agar
pelatihan tidak berhenti pada kemampuan teknis menggunakan aplikasi, guru
diarahkan membuat media berdasarkan mata pelajaran yang mereka pilih karena mereka adalah guru kelas Lima mata pelajaran menjadi pilihan peserta, yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, IPS, dan PPKn.
Pilihan
tersebut membuat praktik menjadi lebih kontekstual. Guru tidak sekadar membuat
contoh soal untuk memenuhi tugas pelatihan, tetapi mulai memikirkan bagaimana
media tersebut dapat digunakan untuk membantu peserta didik memahami materi
pembelajaran.
Melalui
Wordwall dan Quizizz, materi pembelajaran dapat dikemas dalam bentuk aktivitas
yang lebih interaktif. Guru dapat menyusun pertanyaan, memberikan latihan, dan
menghadirkan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran yang hanya
mengandalkan penjelasan dan lembar kerja konvensional.
Dari Peserta Pelatihan Menjadi Pembuat Media
Hal
menarik dari kegiatan ini adalah perubahan posisi guru selama pelatihan.
Pada
awal kegiatan, guru hadir sebagai peserta yang belajar mengenal teknologi
pembelajaran. Namun, setelah melalui proses praktik dan pendampingan, mereka
mulai menghasilkan media sendiri.
Setiap
guru diarahkan untuk menghasilkan produk media pembelajaran
berbasis Wordwall dan Quizizz sesuai mata pelajaran dan materi
yang dipilih.
Produk
yang telah dibuat kemudian tidak hanya disimpan sebagai hasil pelatihan. Guru
juga melakukan simulasi penggunaan media
seolah-olah sedang menggunakannya dalam pembelajaran di kelas.
Tahap
simulasi ini menjadi pengalaman penting karena guru dapat melihat secara
langsung bagaimana media yang dibuat akan digunakan oleh peserta didik.
Dengan
demikian, kegiatan tidak berhenti pada kemampuan “tahu menggunakan aplikasi”,
tetapi bergerak menuju kemampuan “mampu membuat dan menggunakan media pembelajaran
secara mandiri.”
“Kami Baru Mendapatkan Pelatihan Seperti Ini” kata Mulyati, S.Pd., salah
seorang guru peserta pelatihan.
Antusiasme
guru terlihat sepanjang kegiatan. Mereka aktif bertanya, mencoba, memperbaiki,
dan menunjukkan hasil pekerjaan kepada pendamping.
Salah seorang peserta Bu Sri mengungkapkan kegembiraannya karena memperoleh pengalaman pelatihan yang selama ini belum pernah mereka dapatkan.
"Kami baru mendapatkan pelatihan seperti ini. Kalau bisa, sesering mungkin mendapatkan pelatihan.”
Pernyataan
sederhana tersebut menggambarkan kebutuhan guru terhadap pengembangan
kompetensi yang bersifat praktis dan berkelanjutan.
Bagi
guru, kemampuan menggunakan teknologi pembelajaran bukan hanya persoalan
mengikuti perkembangan zaman. Lebih dari itu, keterampilan tersebut menjadi
bagian dari upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik dan sesuai
dengan perkembangan peserta didik.
Tidak Berhenti Setelah Pelatihan
Hal
yang lebih penting dari kegiatan tersebut adalah adanya komitmen guru untuk melanjutkan praktik secara mandiri.
Setelah
mendapatkan pengalaman membuat media, guru berkomitmen memperdalam keterampilan
menggunakan Wordwall dan Quizizz. Mereka juga berencana mengembangkan media
untuk berbagai mata pelajaran lain selama materi pembelajarannya sesuai untuk
dikemas menggunakan kedua platform tersebut.
Komitmen
ini menjadi bagian penting dari keberlanjutan program PKM. Sebab, keberhasilan
sebuah pelatihan tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya peserta atau
terlaksananya kegiatan, tetapi juga oleh sejauh mana pengetahuan dan
keterampilan yang diperoleh benar-benar dibawa pulang dan diterapkan.
Dalam
konteks inilah, pelatihan di Desa Tonasa menunjukkan sebuah proses perubahan: guru belajar, guru mencoba, guru menghasilkan, kemudian guru
berkomitmen menerapkan.
Teknologi yang Mendekatkan Guru dengan Pembelajaran
Pelatihan
Wordwall dan Quizizz di Desa Tonasa pada akhirnya bukan hanya cerita tentang
dua aplikasi digital.
Di
balik layar laptop dan perangkat yang digunakan guru, terdapat proses belajar
yang lebih bermakna—tentang keberanian mencoba teknologi baru, kemauan untuk
belajar, dan kepercayaan diri untuk menghasilkan sesuatu secara mandiri.
Bagi
guru yang sebelumnya belum memperoleh pelatihan serupa, pengalaman tersebut
menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih jauh dunia pembelajaran digital.
Bagi
sekolah, keterampilan tersebut dapat menjadi modal untuk memperkaya strategi
pembelajaran.
Sementara
bagi peserta didik, kemampuan guru mengembangkan media digital membuka peluang
hadirnya pembelajaran yang lebih interaktif, variatif, dan dekat dengan
karakteristik generasi yang tumbuh dalam lingkungan teknologi.
Karena itu, dampak PKM di Desa Tonasa tidak hanya
terlihat pada selesainya sebuah kegiatan pelatihan. Dampaknya mulai terlihat
dari bertambahnya kompetensi digital guru, lahirnya
produk media pembelajaran, meningkatnya kepercayaan diri dalam menggunakan
teknologi, serta munculnya komitmen untuk mengimplementasikannya dalam
pembelajaran di kelas.
Dari
sebuah pelatihan dua hari, lahirlah sebuah langkah kecil menuju perubahan
pembelajaran di sekolah-sekolah Desa Tonasa. Dan mungkin,
perubahan itu bermula dari hal yang sederhana: seorang guru yang berani
mengklik, mencoba, salah, memperbaiki, lalu tersenyum ketika media pembelajaran
buatannya akhirnya berhasil digunakan.