Gambar Pelajaran Berharga dari Anak-Anak

Bagi orang dewasa, Ramadhan sering terasa sebagai bulan ibadah, pengendalian diri, dan evaluasi hidup. Namun bagi anak-anak, Ramadhan adalah bulan kegembiraan. Ada sesuatu yang hangat di dalam ingatan kolektif kita: suara beduk menjelang magrib, berlarian ke masjid dengan sarung yang kebesaran, berburu takjil, sahur setengah mengantuk sambil disuapi orang tua, serta rasa bangga ketika berhasil puasa setengah hari.

Keceriaan itu bukan sekadar kenangan romantis. Para ulama memandang pengalaman masa kecil di bulan Ramadhan sebagai pendidikan ruhani yang paling efektif. Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa hati anak bagaikan tanah yang bersih; apa yang ditanam sejak kecil akan tumbuh kuat ketika dewasa. Karena itu, membiasakan anak mencintai Ramadhan lebih penting daripada memaksa mereka menjalankan puasa secara ketat. Tujuannya bukan sekadar menahan lapar, tetapi menumbuhkan mahabbah (cinta) kepada ibadah.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah juga menegaskan, pendidikan iman tidak selalu dimulai dari penjelasan teologis, melainkan dari pengalaman yang menyenangkan. Ketika anak merasakan Ramadhan sebagai bulan yang membahagiakan—banyak berkumpul, berbagi makanan, shalat berjamaah—maka agama akan tertanam sebagai sesuatu yang menenteramkan, bukan menakutkan.

Itulah sebabnya tradisi masyarakat Muslim penuh warna: lampu hias masjid, pawai obor, buka puasa bersama, dan pembagian makanan. Secara fiqih itu bukan kewajiban, tetapi secara psikologis sangat penting. Ia membuat Ramadhan masuk ke hati anak lewat kegembiraan.

Para sufi bahkan melihat anak-anak sebagai guru dalam memahami Ramadhan. Mereka percaya, kedekatan kepada Allah memerlukan hati yang bersih—dan hati anak adalah gambaran paling dekat dengan kesucian itu.

Ada sebuah anekdot sufi yang sering dikisahkan. Suatu hari seorang murid bertanya kepada seoranggurusufi, “Guru, kapan seseorang merasakan manisnya puasa?” Sang guru tidak menjawab. Ia justru mengajak muridnya ke halaman masjid menjelang magrib. Di sana tampak anak-anak berlari, tertawa, dan sesekali melihat matahari sambil memegang kurma.

“Lihat mereka, ”kata sang guru. “Sejak siang mereka menahan lapar, tapi wajahnya justru paling bahagia. Orang dewasa berpuasa dengan tubuhnya, anak-anak berpuasa dengan hatinya. Jika engkau ingin merasakan manisnya Ramadhan, puasalah seperti mereka—bukan hanya menahan makan, tapi menunggu Allah dengan gembira.”

Murid itu terdiam. Ia sadar selama ini ia berpuasa dengan perhitungan pahala, sementara anak-anak berpuasa dengan harapan dan cinta.

Di situlah rahasia Ramadhan: ia bukan hanya bulan menahan diri, melainkan bulan mengembalikan manusia pada fitrahnya. Keceriaan masa kecil sebenarnya adalah pesan spiritual—bahwa ibadah tidak semestinya terasa berat. Allah tidak memanggil manusia dengan ketakutan semata, tetapi juga dengan kasih sayang.

Maka setiap kali Ramadhan datang, sesungguhnya yang kembali bukan hanya bulan suci, melainkan juga kenangan tentang diri kita yang paling jujur: seorang anak kecil yang menunggu azan magrib dengan mata berbinar dan hati penuh harap. Dan mungkin, justru itulah bentuk iman yang paling murni.

Allah A’lam
Makassar, 21 Februari 2026

(*)