Gambar PBAK: Sarat Seremoni Sekarat Fungsi

 "Setelah Anda melakukan hal yang sama selama dua tahun, periksa baik-baik. Setelah lima tahun, lihat dengan curiga. Dan setelah sepuluh tahun, buang dan mulai lagi dari awal." - Alfred Edward Perlman

-----------------

Selama bulan ini dan di awal bulan depan kampus-kampus di Indonesia mengadakan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (disingkat PBAK) untuk mahasiswa baru (maba) mereka. Saya tiba-tiba terpantik menulis di sini tentang itu. Minimal berdasarkan pengamatan dan pengalaman personal terlibat dalam program rutin kampus itu. Semoga jadi pemantik diskusi.

------------------

PBAK adalah program khusus untuk mengenalkan maba pada kehidupan, budaya, nilai-nilai, etika, dan aturan akademik yang berlaku dalam kampus. Idealnya, lewat PBAK diperkenalkan sistem pendidikan perguruan tinggi (PT), seperti kurikulum, metode pengajaran, sistem evaluasi, serta peran dosen dan mahasiswa dalam pembelajaran. Selain itu, maba dikenalkan pada berbagai fasilitas kampus, seperti perpustakaan, laboratorium, pusat layanan mahasiswa, layanan kesehatan, beasiswa, dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

Lebih penting lagi, seperti namanya, PBAK (seharusnya) menjadi forum memperkenalkan kepada maba budaya akademik, termasuk nilai-nilai kebersamaan, toleransi dan kedisiplinan, serta pentingnya menjaga etika/integritas akademik. Juga membekali mereka kesiapan mental menghadapi tantangan akademik, personal, dan sosial di PT.

Sayangnya, dari pengamatan saya, pelaksanaan PBAK di banyak PT di Indonesia masih menunjukkan beberapa hal yang memerlukan pengembangan melalui riset, evaluasi, dan inovasi dari waktu ke waktu.

Pertama, pendekatan atau metode yang digunakan terlalu formal dan monoton. Kegiatan lebih banyak berorientasi pada ceramah monologis. Selain kurang menarik bagi maba, juga tidak efektif. Apalagi jika maba dalam jumlah besar harus duduk berdesak-desakan di satu ruangan besar dalam waktu lama. Ini tentu membosankan dan melelahkan. Maka, sulit berharap PBAK model begini dapat memberi pengalaman akademik yang bermanfaat dan berkesan bagi maba.

Kedua, PBAK umumnya direncanakan dan dilaksanakan secara top-down oleh pihak kampus atau panitia tertentu tanpa melibatkan masukan dari mahasiswa atau alumni. Hal ini membuat program kurang relevan atau tidak sesuai dengan kebutuhan nyata mahasiswa baru dan perkembangan zaman. Di banyak PT, bentuk pelaksanaan PBAK dari tahun ke tahun tidak mengalami perubahan berarti, nyaris seragam.

Ketiga, meskipun bertujuan mengenalkan budaya akademik kepada maba, dalam banyak kasus, aspek pengembangan keterampilan akademik seperti literasi (membaca dan menulis), media digital, aplikasi sistem akademik, pemanfaatan perpustakaan, dan sebagainya kurang diperhatikan dalam PBAK. Begitu juga soft skills seperti kerjasama tim, kepemimpinan, kemampuan adaptasi atau keterampilan komunikasi kurang ditekankan. Padahal semua itu sangat penting untuk keberhasilan mahasiswa dalam kehidupan kampus dan setelah lulus.

Keempat, potensi perlakuan yang kurang etis masih sering terjadi. Masih ada kasus PBAK yang melibatkan kegiatan "perploncoan" atau perlakuan yang tidak etis terhadap maba. Belum lagi kasus eksploitasi finansial (pungli) oleh senior/kakak tingkat mereka. Maba umumnya belum memiliki kemampuan critical thinking dan masih menyimpan memori kolektif tentang situasi PBAK (OSPEK) di masa lalu yg sering disertai tindak kekerasan. Maka, mereka mudah sekali menurut dan dieksploitasi. Walau sudah banyak upaya menghilangkan praktek ini, namun masih ada laporan tentang tekanan psikologis atau fisik selama PBAK.

Kelima, pemahaman dan apresiasi thd keberagaman juga relatif terabaikan selama PBAK. Di beberapa PT, PBAK kurang memperhatikan pentingnya keberagaman dalam konteks budaya, suku, agama, dan pemikiran. Padahal, keberagaman adalah salah satu aspek penting yg harus dipahami oleh mahasiswa dalam kehidupan kampus yg pluralistik.

Keenam, durasi PBAK yg terlalu singkat (umumnya tiga hari) membuatnya kurang komprehensif dlm memberikan pengenalan yg menyeluruh ttg kehidupan kampus. Dalam waktu singkat, maba harus melahap banyak informasi dlm situasi yg tidak begitu nyaman, sehingga efektivitas program tidak optimal. Apalagi jika materi PBAK umumnya disajikan hanya dalam model ceramah monolog, tanpa diskusi interaktif.

Ketujuh, biasanya para pembicara di PBAK adalah para pejabat kampus spt rektor, wakil rektor, kepala biro, dekan, ketua LPM/LP2M, hingga pengurus lembaga kemahasiswaan. Topik ceramah mereka pun umumnya bersifat normatif, spt kebijakan akademik kampus, administrasi dan keuangan, pedoman etik mahasiswa, dan informasi lain yg sebenarnya bisa diakses maba melalui website kampus. Memang sudah ada beberapa PT yg mengundang narasumber dari kalangan pakar khusus ttg keterampilan akademik dan budaya akademik, atau profesional dlm bidang tertentu. Namun, dlm kasus banyak PT, PBAK lebih tepat disebut PPKPLK atau "Peka Pilek": pengenalan pimpinan kampus & pimpinan lembaga kemahasiswaan. Panggung PBAK di bbrp PT lbh mirip panggung kampanye Pilkada. Hehe.

Untuk memperbaiki mekanisme PBAK, selain inovasi & kreativitas terus-menerus, PT juga perlu melakukan benchmarking pada kampus-kampus dunia yg memiliki tradisi panjang & best practices dalam orientasi akademik. Bbrp saran berikut dapat dipertimbangkan:

1. Fokus pada Pengembangan Soft Skills.

PBAK jangan hanya berfokus pada pengenalan lingkungan kampus, tetapi juga pada pengembangan soft skills spt critical thinking, kerjasama tim, komunikasi, kepemimpinan, & pemecahan masalah. PT dapat mengadopsi model pelatihan atau workshop utk mengembangkan keterampilan ini. Misalnya sesi pelatihan interaktif yg melibatkan simulasi kasus atau proyek kelompok utk memperkaya pengalaman PBAK.

2. PBAK Berbasis Minat & Bakat Mahasiswa.

Banyak kampus dunia mengadakan orientasi yg disesuaikan dg minat & bakat maba. PT dapat mengembangkan program PBAK yg memberi ruang bagi maba utk mengeksplorasi minat akademik & non-akademik mereka melalui sesi yg memperkenalkan beragam klub, organisasi, & UKM. PBAK harus dirancang secara fleksibel untuk mengakomodasi kebutuhan mahasiswa dari berbagai latar belakang. Ini termasuk memperhatikan aksesibilitas bagi maba dg kebutuhan khusus. Dg model yg inklusif, PBAK akan lebih efektif dlm membantu semua maba beradaptasi dg lingkungan akademik berbeda.

3. Pendekatan Interaktif dan Partisipatif.

Kampus ternama sering menggunakan pendekatan interaktif dalam orientasi mereka, spt diskusi kelompok, debat, & aktivitas berbasis proyek. PT dapat mengadopsi metode ini utk membuat PBAK lebih menarik & bermanfaat. Mendorong partisipasi aktif maba di forum PBAK juga lbh sesuai dg prinsip pendidikan andragogi, jg dg program kampus merdeka/belajar.

4. Mentoring Mahasiswa

Program mentoring adalah fitur umum di banyak kampus bergengsi. PT dapat memperkenalkan sistem mentoring di mana mahasiswa senior pilihan berperan sbg pendamping maba. Mentor dapat membantu dlm menavigasi kehidupan kampus, memberikan nasihat akademik praktis, & berbagi tips utk adaptasi sosial. Sayangnya, di bbrp PT, mereka hanya diberi peran sbg panitia biasa. Tidak jarang, kating malah mencari kesempatan "jualan" atribut PBAK kepada maba.

5. Pengenalan Multikulturalisme dan Sikap Toleran.

PBAK seharusnya mencakup pengenalan & simulasi keberagaman budaya serta pentingnya membangun sikap toleran dan moderat. PT dapat menambahkan elemen ini dlm PBAK dg mengadakan sesi yg membahas keberagaman, toleransi, & pemahaman lintas budaya serta agama. Ini penting utk membentuk mahasiswa yg berpikiran terbuka & siap berinteraksi dlm lingkungan yg pluralistik. Di beberapa PT, ini sudah jadi materi khusus dalam PBAK.

6. Integrasi Teknologi Mutakhir.

Banyak kampus dunia yg sudah memanfaatkan teknologi dalam orientasi akademik, spt aplikasi khusus orientasi, platform e-learning, atau media sosial utk berkomunikasi dg maba. PT dapat mengadopsi teknologi ini utk membuat PBAK lebih mudah diakses & informatif, misalnya dg menyediakan aplikasi atau portal online yg berisi informasi penting ttg kampus, jadwal kegiatan, & materi PBAK.

7. PBAK dg Kegiatan Sosial atau Pengabdian Masyarakat.

Ini tidak hanya memperkenalkan mahasiswa pada kampus, tetapi jg mengajarkan tanggung jawab sosial. PT dapat mempertimbangkan utk memasukkan elemen kegiatan sosial, spt program bakti sosial, fundraising, atau bersih-bersih lingkungan dlm rangkaian PBAK. Tujuannya, membangun rasa kepedulian & tanggung jawab sosial & ekologis di kalangan maba.

8. Evaluasi Berkelanjutan dan Apresiasi Umpan Balik.

Kampus perlu melakukan evaluasi menyeluruh setelah setiap PBAK utk meningkatkan kualitasnya. PT bisa menerapkan sistem evaluasi yg memungkinkan maba memberikan umpan balik ttg PBAK. Hasil evaluasi ini kemudian digunakan utk memperbaiki program di tahun berikutnya. Survei pendapat maba dapat dilakukan lewat platform digital spt Google Form.

9. Penekanan pada Keseimbangan Hidup.

Banyak universitas di dunia menekankan pentingnya keseimbangan antara kehidupan akademik & kehidupan pribadi bagi maba. PBAK bisa menyertakan sesi yg membahas manajemen waktu, pentingnya menjaga kesehatan mental, & cara menyeimbangkan antara studi, kegiatan ekstrakurikuler, serta kehidupan sosial. Ini membantu mahasiswa baru utk lebih siap dlm menghadapi tantangan kehidupan kampus yg kompleks.

10. Tur Kampus yg Lebih Interaktif.

Selain sekadar memperkenalkan fasilitas kampus secara fisik, tur kampus yg interaktif dapat dilakukan dg menggunakan teknologi augmented reality (AR) atau dg melibatkan mahasiswa senior sebagai pemandu yg memberikan penjelasan mendalam ttg sejarah, fungsi, & nilai penting dari setiap fasilitas. Dg cara ini, mahasiswa baru dapat lebih memahami dan mengapresiasi lingkungan kampus mereka.

11. Perlindungan thd Praktik Tidak Etis.

PT perlu memastikan bhw tidak ada praktik perploncoan, eksploitasi finansial, atau perlakuan tidak etis lainnya selama PBAK. Pengawasan ketat & adanya saluran pelaporan (hotline) yg jelas bagi mahasiswa baru sangat penting utk mencegah & menangani kasus-kasus tersebut. Ini akan menciptakan lingkungan PBAK yg aman & kondusif bagi semua peserta.

12. PBAK Berkelanjutan.

PBAK tidak harus selesai dlm beberapa hari saja. Banyak universitas terkemuka menjalankan program orientasi yg berkelanjutan selama bbrp minggu atau bahkan sepanjang semester pertama. PT dapat mempertimbangkan untuk mengadakan sesi lanjutan PBAK yg mencakup berbagai aspek kehidupan kampus, misalnya orientasi akademik lanjutan, pengembangan karier, atau program peningkatan keterampilan yg diselenggarakan secara bertahap. Bbrp PT memiliki program pesantren khusus utk maba selama setahun.

13. Kerjasama dengan Alumni.

Alumni yg sukses dapat diundang untuk berbagi pengalaman & memberikan motivasi kpd maba. Selain memberikan wawasan berharga bagi maba, ini jg membangun jaringan antara alumni dan mahasiswa baru yg dapat bermanfaat di masa depan. PT bisa mengintegrasikan sesi khusus di PBAK yg berfokus pada peran alumni dlm membantu mahasiswa meraih sukses.

Namun, yg pertama dan utama perlu ditransformasi adalah durasi singkat serta model pelaksanaan PBAK yg terlalu seremonial. Menurut saya, jika memang diperlukan seremoni/upacara khusus di mana pimpinan kampus & para anggota senat/wali amanat harus hadir, serta seluruh maba lintas fakultas dikumpulkan, sebaiknya itu dilakukan hanya pada hari pembukaan atau penutupan sj. Sedangkan hari-hari lainnya sebaiknya dilaksanakan dlm kelompok maba dg jumlah yg ideal untuk proses pembelajaran yg efektif. Tempat pelaksanaannya bisa di dalam ruangan (indoor) seperti ruang kuliah, maupun di luar ruangan (outdoor) spt halaman atau taman kampus, sesuai dg program pelatihan.

Agar itu dapat dilakukan, diperlukan perubahan besar dlm beberapa hal. Secara konkret begini. Setamat SLTA, calon maba biasanya memiliki waktu sekitar dua atau tiga bulan sebelum PBAK dimulai, tanpa kegiatan akademik apa pun. Lagipula, di periode yg sama, mahasiswa senior jg sedang liburan semester (Juni-Juli-Agustus). Yg masih aktif masuk kampus biasanya hanya yg akan ujian akhir atau menyelesaikan skripsi. Bagi camaba yg lulus masuk PT lewat jalur tes awal (SPNB, SPAN-PTKIN), sebaiknya mereka mengikuti PBAK lebih awal. Mereka dibagi ke dlm kelompok pembelajaran kecil sesuai program studi mereka. 

Dengan begitu, program PBAK bisa lebih variatif, menyenangkan, dan efektif. Begitu pula dg camaba yg lulus di jalur UTBK/SN-PTKIN/Mandiri, mereka akan mengikuti PBAK pada angkatan berikutnya. Dg cara ini, penumpukan maba di satu waktu, disertai kemacetan lalu lintas dan krisis ruang parkir, dapat dihindari. Jadi, PBAK dilakukan dlm bbrp gelombang, spt pelaksanaan wisuda sarjana selama ini. Setelah batch terakhir PBAK selesai, barulah diadakan seremoni di mana semua maba dikumpulkan spt selama ini dilakukan. Ini sekaligus menjadi upacara penerimaan resmi oleh rektor dan pembukaan kuliah secara resmi.

Dg menerapkan bbrp strategi di atas, PBAK di PT dapat menjadi lebih efektif, relevan, & bermanfaat, tidak hanya untuk pengenalan kampus tetapi jg untuk pengembangan karakter dan keterampilan mahasiswa baru. Setelah bertahun-tahun, format atau model PBAK di sejumlah besar PT masih begitu-begitu saja. Padahal, zaman terus berubah, kondisi & tuntutan akademik jg semakin beragam & kompleks. 

Btw, apa yg saya tulis di atas sesungguhnya banyak terinspirasi oleh pengalaman & pengamatan saat menjadi mahasiswa (maba dan mala) serta sbg visitor di sejumlah PT di luar nusantara. Selain tentunya pengalaman sebagai nara sumber di PBAK di sejumlah kampus di kawasan timur Indonesia dg materi seperti "Kunci Sukses Belajar di Perguruan Tinggi" dan "Mengembangkan Budaya Literasi dalam Konteks Akademik". (lihat foto2).

-------------

"Kemajuan tidak mungkin dicapai tanpa perubahan, dan mereka yang tidak dapat berubah pikiran tidak dapat mengubah apa pun." - George Bernard Shaw

"Tidak ada yang begitu menyakitkan bagi pikiran manusia selain perubahan besar dan tiba-tiba." - Mary Wollstonecraft Shelley