Menjelang Maghrib, Samata dan Tamangapa berubah menjadi ruang tunggu. Jalanan melambat. Wajah-wajah tampak lebih sabar dari biasanya, mungkin karena tenaga telah menipis. Di trotoar, berbagai hidangan takjil berjejer dengan tawaran menarik, seperti menawarkan janji tentang kebahagiaan yang sebentar lagi akan dirasakan. Kita menyebutnya ngabuburit, yang mungkin artinya adalah sore yang menggantung di antara lapar dan azan magrib. Tapi sesungguhnya, apa yang kita tunggu?
Puasa selalu dimulai dengan niat. Dan niat, seperti yang pernah kita ceritakan dalam tulisan terdahulu, tidak pernah benar-benar diam. Ia bisa jernih di pagi hari, lalu keruh menjelang senja. Kita berkata: ini karena Allah. Kita menahan diri karena perintah-Nya. Kita bertahan karena ada yang lebih tinggi dari sekadar rasa haus. Namun ketika waktu berbuka mendekat, orientasi itu perlahan diuji. Perut mulai berbicara lebih keras daripada hati.
Ngabuburit sering menjadi cara kita mengalihkan perhatian dari lapar. Kita berjalan-jalan, berburu takjil, duduk bersama teman, atau menatap layar yang tak pernah kenyang. Kita mengisi waktu, atau mungkin justru menghabiskannya. Di sana, puasa berada di sebuah persimpangan kecil yang tak kasatmata: apakah tetap sebagai ibadah? ataukah bergeser hanya menuntut kebiasaan biologis?
Puasa tentu bukan hanya soal menahan. Ia adalah keputusan. Setiap detiknya adalah kesediaan untuk tetap berada dalam garis yang telah kita pilih sejak fajar. Menjelang Maghrib, garis itu terasa lebih tipis. Di situlah makna puasa diuji, bukan pada pagi yang penuh tekad, melainkan pada sore yang hampir selesai.
Di hari kelima dan seterusnya ini, barangkali kita perlu bertanya dengan pelan: ketika azan nanti terdengar, apa yang membuat kita bahagia? Apakah semata karena air yang menyentuh tenggorokan yang kering? Atau karena kita merasa telah menyelesaikan satu hari dalam ketaatan?
Dalam puasa, minimal ada dua jenis menunggu.Pertama; Menunggu sebagai jeda, dan lapar sebagai gangguan yang harus segera berakhir.Kedua; menunggu sebagai kesadaran bahwa kita sedang berada dalam perjalanan menuju sesuatu yang lebih besar dari sekadar makan.Ngabuburit bisa jatuh pada yang pertama. Tetapi ia juga bisa menjadi yang kedua, jika hati kita tetap terarah.
Puasa karena Allah berarti Allah hadir bahkan dalam detik-detik yang paling singkat. Dalam langkah sore yang pelan. Dalam duduk yang diam. Dalam doa yang mungkin hanya berbisik. Jika waktu menjelang Maghrib diisi dengan keluhan, kita sedang menunggu dengan tubuh. Jika ia diisi dengan dzikir, kita sedang menunggu dengan jiwa.
Mungkin yang perlu kita ubah bukan aktivitasnya, tetapi pusat gravitasinya. Kita boleh berjalan, boleh berbincang, boleh tersenyum. Tetapi di balik semua itu, ada kesadaran yang dijaga: aku berpuasa untuk-Mu. Bahkan ketika aroma makanan menggoda, bahkan ketika jam terasa lebih lambat dari biasanya.
Ngabuburit akhirnya adalah tentang menjaga arah. Ia adalah perjalanan pulang, yang mesti disadari oleh oleh hati yang terus mengingat untuk siapa ia bertahan.
Dan ketika Maghrib tiba, semoga yang kita rasakan bukan hanya lega, tetapi juga syukur. Bukan hanya karena lapar telah usai, melainkan karena kita diberi kesempatan, sehari lagi, berpuasa demi ketaatan kepada Allah Swt.
(*)
Alat AksesVisi