Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…Gema takbir pagi ini, Sabtu 21 Maret 2026, mengalun lembut menembus relung jiwa, menandai tibanya hari kemenangan yang telah lama dinanti.
Setelah sebulan penuh kita ditempa dalam “Pesantren Ramadan” menahan lapar, mengendalikan diri, melatih kesabaran, dan memperhalus akhlak, kini kita berdiri di gerbang Syawal dengan hati yang lebih bening.
Inilah saatnya membuka lembaran baru, saling merangkul dalam keikhlasan, memaafkan tanpa syarat, dan melepas beban masa lalu yang mungkin pernah mengendap. Kita kembali pada fitrah, pada kesucian jiwa yang menjadi tujuan dari setiap ibadah yang kita jalani.
Di pagi yang penuh berkah ini, mari kita jaga cahaya Ramadan agar tetap menyala dalam langkah-langkah kehidupan ke depan, dalam shalat yang lebih terjaga, dalam lisan yang lebih santun, dan dalam hati yang lebih lapang.
Lebaran bukan sekadar perayaan, melainkan momentum untuk meneguhkan komitmen menjadi pribadi yang lebih baik. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga setiap langkah kita setelah ini senantiasa berada dalam ridha-Nya.
Namun, di balik suasana kemenangan yang hangat, dunia di luar sana tetap bergerak dengan dinamika yang tak selalu sejalan dengan kedamaian hari ini. Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan meluncurkan serangan ke fasilitas gas alam cair di Ras Laffan, Qatar, yang memicu sedikitnya tiga titik kebakaran pada Kamis, 19 Maret 2026.
Aksi ini disebut sebagai respons atas serangan sehari sebelumnya terhadap ladang gas South Pars di Iran, salah satu sumber energi terbesar dunia, sehingga mempertegas eskalasi konflik energi yang berpotensi mengguncang stabilitas kawasan dan pasar global.
Di tengah situasi itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kembali mengemukakan ambisi strategis pembangunan jaringan pipa minyak dan gas dari Timur Tengah menuju pelabuhan Israel, melintasi Semenanjung Arab.
Gagasan ini dipandang sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada jalur energi rawan konflik seperti Selat Hormuz. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa energi kini bukan sekadar kebutuhan ekonomi, melainkan telah menjelma menjadi instrumen geopolitik yang menentukan arah ketegangan kawasan.
Sementara itu, di dalam negeri, suasana Lebaran juga menyimpan kisah pilu. Duka mendalam menyelimuti hati Tahlani (67), warga Pemalang, Jawa Tengah, yang kehilangan lima anggota keluarga sekaligus dalam kecelakaan maut di Tol Trans-Jawa ruas Tegal–Batang.
Anak, menantu, dan tiga cucunya berpulang dalam satu peristiwa tragis, menjadikan hari raya yang seharusnya penuh suka cita berubah menjadi hamparan kehilangan yang tak terucapkan. Kisah ini menjadi pengingat bahwa di tengah gegap gempita Lebaran, ada air mata yang jatuh diam-diam, memohon kekuatan dari langit.
Di berbagai daerah, gema takbir juga hadir dalam nuansa yang beragam. Sejak pagi, jemaah memadati lapangan untuk menunaikan Salat Idulfitri dengan khidmat. Sebagian umat telah lebih dahulu merayakan Lebaran pada 20 Maret 2026 mengikuti penetapan Muhammadiyah, sementara pemerintah menetapkan 1 Syawal pada 21 Maret 2026. Perbedaan ini tidak mengurangi kekhusyukan ibadah, justru menjadi cermin kedewasaan umat dalam menjaga toleransi dan saling menghormati.
Ke depan, tantangan lain pun telah menanti. Musim kemarau tahun ini diprediksi menyerupai kondisi 2023, dipengaruhi fenomena El Niño dan Indian Ocean Dipole positif (IOD+) yang berpotensi menurunkan curah hujan secara signifikan, terutama di Pulau Jawa pada Juni hingga Agustus.
Ancaman kekeringan, krisis air bersih, hingga gangguan ketahanan pangan menjadi pengingat bahwa setelah Ramadan, manusia tetap diuji dalam bentuk yang berbeda bukan lagi lapar yang dipilih, melainkan kesulitan yang harus dihadapi bersama.
Langit Ramadan kembali menyisakan satu cerita lama yang tak pernah benar-benar usang. Perbedaan penetapan Idulfitri antara pemerintah dan Muhammadiyah kembali terjadi, sebagaimana beberapa kali dalam sejarah.
Perbedaan ini berakar dari metode yang digunakan, hisab dan rukyat, yang masing-masing memiliki landasan kuat. Namun pada akhirnya, keduanya bermuara pada tujuan yang sama: meraih kemenangan dengan keyakinan yang diyakini paling sahih.
Sementara itu, di tengah langit yang masih menyimpan luka konflik, warga Gaza tetap menapakkan iman mereka dengan penuh keteguhan. Ketika akses ke dalam Masjid Al-Aqsa ditutup oleh otoritas Israel, mereka tak surut langkah. Pelataran masjid menjadi saksi bisu sujud-sujud panjang, doa-doa yang lirih namun menggema kuat, seakan menembus batas-batas yang dibangun oleh kekuasaan. Di atas sajadah seadanya, di bawah langit terbuka, mereka merajut harapan, memohon kedamaian di tanah yang tak pernah benar-benar sepi dari ujian.
Dari seluruh mozaik ini, kita belajar bahwa kehidupan tidak pernah berdiri dalam satu warna. Ada bahagia, ada duka, ada harapan, dan ada kecemasan, semuanya berpadu dalam perjalanan manusia. Lebaran mengajarkan kita untuk tetap menyalakan cahaya iman, bahkan ketika dunia di sekitar terasa redup.
Sampai di sini dahulu kebersamaan kita. Selamat menikmati hangatnya ketupat Lebaran bersama keluarga tercinta. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.
Pantun Penutup:Pergi berlayar ke Pulau Seribu,Angin sepoi menemani perahu,Usai Ramadan hati pun bersatu,Salah dan khilaf luruh di waktu.
Jalan-jalan ke tepi taman,Singgah sejenak memetik melati,Lebaran tiba penuh kedamaian,Mohon maaf setulus hati.
Sabtu, 21 Maret 2026
Alat AksesVisi