Pembaca setia Mozaik Kehidupan, hari ini kita menamatkan penanggalan 31 Maret 2026, sebuah garis akhir yang terasa singkat namun sarat makna.
Insya Allah, esok pagi ketika mentari kembali terbit di ufuk timur, sebagian wajah akan merekah dengan senyum lega; para purnabakti menyambut hadirnya hak yang kembali mengisi rekening mereka, menjadi penopang sederhana bagi keberlanjutan hidup yang terus berjalan.
Di ambang pergantian waktu, saat Maret perlahan menutup lembarannya, April hadir seperti halaman baru yang masih bersih, menunggu untuk ditulisi dengan kisah yang lebih bermakna.
Ia datang tanpa suara, namun membawa pesan yang dalam: bahwa setiap langkah ke depan selalu menyediakan ruang untuk memperbaiki, melanjutkan, dan memulai kembali dengan niat yang lebih jernih.
April bukan sekadar pergantian bulan, melainkan ruang untuk menata ulang harapan. Apa yang sempat tertunda kini diberi kesempatan untuk disempurnakan, yang pernah goyah perlahan dikuatkan kembali, dan yang telah baik semoga tetap terjaga dalam istiqamah yang sederhana namun konsisten.
Di sanalah kita belajar, bahwa hidup bukan semata tentang keberhasilan besar, melainkan tentang kesungguhan untuk terus melangkah.
Menyambut April berarti menyalakan kembali keyakinan dalam diri, bahwa hari-hari ke depan akan lebih ramah bagi mereka yang bersabar, lebih terbuka bagi yang berikhtiar, dan lebih bermakna bagi yang tidak lelah bersyukur.
Semoga April menjadi ruang tumbuh bagi hati yang ingin tenang, langkah yang ingin pasti, dan harapan yang ingin bersemi kembali. Sebagai pembuka hari yang baru, teriring sebuah pantun sederhana:
Bulan baru, tanggal pun baru,Langkah lama mari diperbarui,Harapan tumbuh di waktu yang syahdu,April datang membawa energi.
Kemarin, penulis menerima telepon dari Risqi Chairul Anwar. Dengan suara penuh semangat, ia menyampaikan kabar penugasan di salah satu instansi di Kabupaten Jeneponto.
Kabar itu terasa hangat, bukan sekadar tentang amanah baru yang diembannya, tetapi juga karena jejak kedekatan yang menyertainya. Kakek dan nenek Risqi adalah tetangga lama kami di Jalan Melati No. 2, Tanah Grogot, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, sebuah ikatan yang kini seolah kembali dipertemukan oleh waktu.
Orang tua Risqi pun mengabarkan hal yang sama, seakan menegaskan bahwa silaturahmi yang terjaga tak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin meredup sejenak, namun akan kembali menyala oleh kita, atau oleh generasi yang melanjutkan.
Sebab pada akhirnya, tetangga bukan sekadar mereka yang tinggal berdekatan, melainkan keluarga terdekat yang Tuhan hadirkan dalam kehidupan.
Rapat Pengurus Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Sulawesi Selatan berlangsung di Sekretariat LLI Sulsel, Jalan Hertasning, Kompleks Perumahan Yasmin, Makassar, dan dihadiri oleh jajaran pengurus harian, termasuk kehadiran Ibu Dra.Hj.Farida Muhdin, mantan Kepala PSBR Bulukumba.
Pertemuan ini digelar dalam rangka mematangkan sejumlah agenda penting, di antaranya pelaksanaan kegiatan Halal Bihalal, rencana Zoom Meeting bersama Pengurus LLI Pusat, serta perayaan ulang tahun bagi anggota yang lahir pada bulan Maret dan April.
Semula, Zoom Meeting dijadwalkan berlangsung pada 8 April 2026, namun setelah dilakukan konfirmasi ulang dengan Sekretaris Jenderal LLI Pusat yang tengah menunaikan ibadah umrah, disepakati untuk menunggu informasi lanjutan setelah beliau kembali ke tanah air.
Hal serupa juga disampaikan oleh Panglima Tagana Indonesia, Andi Hanindito, yang memilih menanti keputusan resmi dari Sekjen LLI. Dalam rapat tersebut, para pengurus juga menyepakati bahwa pelaksanaan Zoom Meeting yang dirangkaikan dengan kegiatan Halal Bihalal akan dipusatkan di Lantai II Hotel Dalton Makassar.
Koordinasi teknis kegiatan dipercayakan kepada Ketua Panitia, Bapak Siswantoro, bersama Sekretaris Panitia, Dr. Rusli Razak, guna memastikan seluruh rangkaian acara berjalan dengan tertib, khidmat, dan lancar.Moment tersebut dimanfaatkan oleh Irawati untuk minta maaf kepada para pengurus LLI Sulsel dan selanjutnya siap mengabdi sebagai driver andalan LLI Sulsel.
Usai pertemuan di Sekretariat LLI Sulawesi Selatan, Penulis melanjutkan agenda ke Rumah Makan Mbak Daeng untuk memenuhi undangan Bapak Yusri Maliang, mantan Ketua Shelter Warga Parangtambung.
Dalam suasana penuh keakraban, turut hadir Kepala Bidang PP DP3A serta mantan Ketua Shelter Warga Kelurahan Bontoduri, Bapak Irham. Pertemuan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus mempererat sinergi antarpegiat sosial di tengah suasana yang hangat dan bersahaja.
Usai menunaikan salat Asar di Masjid Besar Al-Abrar, langkah kembali berlanjut dengan menghadiri prosesi Mappacci putri dari Imam Masjid Besar Al-Abrar, Munawarah Mutiara Lahamuddin, S.AK., M.E., yang akrab disapa Daeng Kennang.
Prosesi sakral ini menjadi bagian dari rangkaian menjelang pernikahannya dengan Muhammad Habib Maulana yang akan dilangsungkan di Hotel MaxOne Resort, Jalan Taman Makam Pahlawan Makassar.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Masjid Besar Al-Abrar, H. Hilal Kadir, S.E., Daeng Lau, turut membersamai dan memberikan daun pacci sebagai simbol doa restu dan harapan akan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
Dinamika politik nasional juga mengemuka. Sekretaris Jenderal Partai NasDem menyampaikan bahwa keputusan final terkait Pergantian Antar Waktu (PAW) Rusdi Masse akan ditentukan dalam rapat pekan depan.
Proses ini ditegaskan sebagai bagian dari mekanisme internal yang dijalankan secara hati-hati, dengan mempertimbangkan aspek politik dan administratif, demi menjaga soliditas partai serta tetap berada dalam koridor hukum yang berlaku.
Sementara itu, dalam lanskap global, laporan intelijen menyoroti perubahan peta kekuatan militer dunia. Disebutkan bahwa dalam beberapa aspek, teknologi persenjataan Amerika Serikat mulai mendapat tantangan dari Iran, khususnya dalam pengembangan rudal balistik, drone tempur, dan strategi perang asimetris.
Meski demikian, banyak pihak tetap memandang Amerika Serikat memiliki keunggulan signifikan di berbagai sektor strategis, sehingga dinamika ini perlu disikapi secara proporsional.
Dari isu global, suara solidaritas kemanusiaan pun menguat. Dukungan terhadap petisi yang menyerukan Indonesia keluar dari Dewan Perdamaian Gaza terus mengalir.
Gelombang ini mencerminkan keprihatinan mendalam atas situasi yang belum menunjukkan keadilan bagi rakyat sipil. Petisi tersebut menjadi simbol dorongan moral agar Indonesia mengambil sikap yang lebih tegas, selaras dengan amanat konstitusi dan nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah derasnya arus modernisasi, buroncong tetap bertahan sebagai simbol keteguhan cita rasa rakyat. Kue sederhana berbahan tepung, kelapa, dan gula ini bukan sekadar pengganjal lapar, tetapi juga penanda identitas budaya masyarakat Makassar.
Aroma buroncong yang dipanggang di sudut kota hingga lorong kampung terus menghidupkan kenangan lintas generasi. Kebertahanannya bukan tanpa tantangan. Gempuran kuliner modern kerap menggeser perhatian generasi muda, namun buroncong justru menemukan kekuatannya pada kesederhanaan dan kedekatannya dengan rakyat.
Ia hidup dari tangan pedagang kecil yang setia menjaga resep turun-temurun, serta dari kerinduan akan rasa autentik. Dalam diam, buroncong menolak punah, menjadi bukti bahwa tradisi yang berakar kuat akan selalu menemukan jalannya.
Sampai di sini dahulu jumpa kita. Insya Allah, bila tak ada aral melintang, Mozaik Kehidupan akan kembali hadir menyapa Anda dengan hati yang riang gembira.
Sebagai penutup, teriring pantun sederhana:Hujan jatuh berintik-rintik,Jatuh ke tanah membawa arti,Jika hidup terus berbaik-baik,Insya Allah damai menghampiri.
Salam Presisi,Syakhruddin TaganaSelasa, 31 Maret 2026
Alat AksesVisi