Rabu, 30 September 2026 bukan sekadar pergantian angka pada kalender. Tanggal ini dalam sejarah Indonesia selalu mengingatkan kita pada peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) dan pembunuhan sejumlah perwira Angkatan Darat yang kemudian diikuti pergolakan politik besar.
Peristiwa itu menjadi salah satu titik paling kelam dan menentukan dalam perjalanan sejarah bangsa. Al-Qur’an mengajarkan agar sejarah tidak hanya dikenang, tetapi dijadikan ibrah. Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18: “Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
Pesannya relevan: bangsa yang besar tidak boleh melupakan sejarah, tetapi juga tidak boleh terjebak dalam dendam. Dari tragedi masa lalu, kita belajar menjaga persatuan, menghormati kehidupan manusia, menolak kekerasan dan menyelesaikan perbedaan melalui jalan yang beradab.
30 September 1965 kemudian menjadi pintu menuju perubahan besar: terjadi penangkapan dan pembunuhan terhadap sejumlah jenderal, pergantian kekuasaan politik, serta konflik sosial yang menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar pada periode sesudahnya.
Detail mengenai siapa yang paling bertanggung jawab dan rangkaian peristiwa sesudahnya masih menjadi bahan kajian sejarah. Karena itu, mengenang 30 September sebaiknya dilakukan dengan kepala dingin: mencari kebenaran sejarah, menghormati para korban, dan memastikan tragedi serupa tidak terulang.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda:
Burung merpati terbang beriring,
Hinggap sebentar di atas menara.
Tiga puluh September menjadi pengingat penting,
Jangan kekerasan kembali melanda negara.
Orang bijak berkata; Ada saatnya seorang manusia yang pernah berdiri gagah memimpin sebuah negeri, tak kuasa menyembunyikan air mata ketika harus melepas orang yang dicintainya.
Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, terlihat menangis tersedu saat mengantarkan istrinya, Dr. Siti Hasmah Mohamad Ali, ke peristirahatan terakhir. Dalam kondisi duduk di kursi roda dengan selang oksigen terpasang, Mahathir tetap bertahan mengikuti prosesi pemakaman.
Sesekali ia meminta tisu untuk menyeka air mata, sementara keluarga berusaha menenangkan dirinya. Di hadapan kematian, jabatan, kekuasaan dan segala kemegahan dunia seakan kehilangan artiyang tersisa hanyalah cinta, kenangan dan rasa kehilangan.
Siti Hasmah dimakamkan secara kenegaraan di Makam Pahlawan Nasional, Precinct 20, Putrajaya, Senin sore waktu setempat. Peti jenazah yang diselimuti bendera Malaysia diusung personel Angkatan Bersenjata Malaysia, disaksikan ratusan pelayat yang datang memberikan penghormatan terakhir.
Sebelumnya, jenazah disemayamkan di Masjid As-Syarif, Seri Kembangan untuk disalatkan. MoKa mencatat satu pesan sederhana dari suasana duka itu: sehebat apa pun manusia menjalani kehidupan, pada akhirnya kita semua akan berhadapan dengan perpisahan. Yang membuat seseorang tetap hidup dalam ingatan bukan jabatan yang pernah disandang, melainkan kasih yang pernah diberikan.
Sementara itu dari balik tembok penjara, ternyata kemewahan masih bisa menemukan jalannya. Dugaan adanya narapidana yang membayar agar dapat tinggal di hunian layaknya rumah mewah di Lapas Cibinong menjadi tamparan keras bagi wajah pembinaan pemasyarakatan.
Jeruji besi semestinya menjadi batas yang tegas antara hukuman dan fasilitas istimewa. Jika uang dapat membeli kenyamanan di balik penjara, maka keadilan bukan lagi soal lamanya masa pidana, melainkan soal siapa yang memiliki kemampuan membayar.
Kasus ini mengingatkan kita bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hotel, apalagi tempat yang menyediakan layanan eksklusif bagi mereka yang berkantong tebal.
Pengawasan harus berjalan, aturan harus ditegakkan, dan setiap dugaan pungutan atau perlakuan khusus perlu diperiksa secara transparan. Sebab, penjara sejatinya bukan sekadar tempat mengurung tubuh, tetapi ruang untuk membangun kesadaran dan memperbaiki perilaku.
Ketika kemewahan bisa dibeli di balik jeruji, pertanyaan yang tersisa sederhana tetapi menggigit: siapa sebenarnya yang sedang menjalani hukuman, narapidana, atau justru hukum itu sendiri?
Tetap Waspada; Influenza kembali menunjukkan taringnya. Kementerian Kesehatan mencatat kasus influenza meningkat sejak September 2026, sebuah pengingat bahwa penyakit yang kerap dianggap “flu biasa” tetap perlu diwaspadai, terutama ketika menyerang anak-anak.
Di tengah aktivitas sekolah, ruang bermain, dan interaksi keluarga yang padat, virus mudah berpindah melalui percikan batuk, bersin maupun kontak dengan permukaan yang terkontaminasi.
Maka, menjaga anak bukan sekadar memberi obat ketika demam datang, tetapi membangun kebiasaan sehat sejak dini: rajin mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, menjaga kebersihan lingkungan, cukup istirahat, makan bergizi, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit.
MoKa mencatat satu pesan sederhana: jangan menunggu influenza menjadi berat baru peduli. Anak adalah masa depan, dan menjaga kesehatannya hari ini adalah cara kita menjaga masa depan tetap bernapas sehat.
Disisi lain; Kabar duka datang dari Makassar, Ibu Ferdy Sambo dikabarkan telah mangkat dan untuk sementara disemayamkan di Panaikang, sebelum perjalanan terakhirnya dilanjutkan menuju Batusitanduk, Luwu, untuk dimakamkan di tanah kelahirannya.
Kepergian seorang ibu selalu meninggalkan ruang sunyi bagi keluarga, sebuah kehilangan yang tidak cukup diukur dengan kata-kata, sebab di balik seorang ibu ada doa, kasih sayang, dan perjalanan panjang kehidupan yang menyertai anak-anaknya.
Dari Makassar menuju Luwu, perjalanan jenazah itu menjadi bagian dari penghormatan terakhir keluarga kepada almarhumah. Kematian mengingatkan kita bahwa pada akhirnya setiap manusia akan kembali kepada Sang Pencipta, meninggalkan nama, kenangan, dan amal yang pernah ditanam semasa hidup.
Semoga almarhumah mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT, diampuni segala khilafnya, diterima seluruh amal kebajikannya, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan menghadapi suasana duka.
Akhirnya dapat terlaksana ; Dalam rangka memperingati ulang tahun Sahabat Nakes Nusantara, sebuah kepedulian kembali diwujudkan melalui program Sunat Gratis untuk 100 anak usia 5–15 tahun dengan metode premium. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 4 Oktober dan Minggu, 11 Oktober 2026.
Bukan sekadar sunat, program ini ingin menanamkan keberanian sejak dini. Anak-anak yang mengikuti kegiatan akan mendapatkan snack dan uang apresiasi sebagai bentuk penghargaan atas keberanian mereka.
Sebuah langkah kecil, tetapi memiliki makna besar: mengajarkan anak bahwa keberanian adalah bagian dari proses tumbuh dan menjadi pribadi yang percaya diri.
Pendaftaran dapat dilakukan di Kantor Pusat Sahabat Nakes Nusantara, Jl. Goa Ria Ruko No. 36C, Laikang, Kecamatan Biringkanaya, melalui Ns. Arny di nomor 0853 9525 3787, atau di Jl. Lanraki No. 37, pojok sebelum Masjid Nurul Iman, melalui Ns. Hasan di nomor 0813 4353 8623.
Karena kuotanya terbatas hanya 100 anak, kesempatan ini tentu tidak datang dua kali. Bagi para orang tua, inilah momentum menghadirkan pengalaman kesehatan sekaligus pendidikan keberanian bagi buah hati. Sehat, berani, percaya diri bekal sederhana untuk menjemput masa depan yang lebih baik.
Pembaca setia Mozaik Kehidupan (MoKa) yang kami hormati, akhirnya kita tiba di penghujung September 2026. Lembar demi lembar kehidupan telah kita lalui, membawa cerita, pengalaman, suka dan duka yang menjadi bagian dari perjalanan waktu.
Sejarah pun mengajarkan kepada kita bahwa setiap masa memiliki catatan, termasuk kisah kelam 30 September di masa silam yang kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa.
Namun, hidup tidak boleh berhenti pada kenangan. Masa lalu adalah cermin untuk belajar, sedangkan hari esok adalah kesempatan untuk memperbaiki langkah.
Kini, kita menyambut 1 Oktober 2026 dengan semangat baru, hati yang lebih lapang dan tekad untuk berkarya lebih baik.
Allah SWT mengingatkan kita dalam QS. Al-Hasyr ayat 18: “Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
Ayat ini menjadi tuntunan agar setiap pergantian hari tidak sekadar pergantian angka dalam kalender, tetapi juga menjadi momentum melakukan introspeksi, memperbaiki kekurangan dan menanam kebaikan.
Selamat menyambut Oktober 2026. Teruslah berkarya, berbuat baik dan menebarkan manfaat. Semoga sukses selalu menyertai langkah kita. Salam hangat dari MoKa.
Pantun Penutup:
Jalan-jalan ke Pasar Sentral,
Membeli kain bersama saudara.
September berlalu meninggalkan kenangan,
Oktober datang membawa semangat berkarya.
Syakhruddin Tagana