Gambar Mozaik Kehidupan:

Hari Selasa seharusnya menjadi hari untuk melangkah lebih ringan. Hari ketika roda kehidupan kembali berputar, ketika tukang ojek menyalakan motornya, pedagang membuka lapaknya, pekerja mengejar waktu dan anak-anak berangkat menuntut ilmu.

Tetapi di Makassar, beberapa hari terakhir, cerita tentang BBM justru membuat dada sesak. Antrean kendaraan memanjang. Warga menunggu dengan sabar.

Ada yang datang sejak pagi, ada yang harus menahan panas, bahkan ada yang mungkin kehilangan waktu mencari nafkah hanya karena harus menunggu beberapa liter bahan bakar.

Bagi sebagian orang, BBM mungkin hanya angka di mesin pengisian. Tetapi bagi tukang ojek, BBM adalah urat nadi kehidupan.

Motor tanpa BBM tak akan bergerak. Motor yang tak bergerak berarti tidak ada penumpang yang diantar, tidak ada uang yang dibawa pulang, dan tidak ada kebutuhan keluarga yang bisa dibeli.

Karena itu, ketika muncul dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi dengan menggunakan kapal tanker, rasanya sulit untuk tidak merasa geram.

Di satu sisi rakyat mengantre untuk mendapatkan beberapa liter. Di sisi lain, ada pihak yang diduga memainkan BBM subsidi dalam jumlah besar.

Kalau benar demikian, sungguh menyakitkan. Bukan sekadar karena BBM itu barang subsidi.

Tetapi karena subsidi pada hakikatnya adalah uang dan perhatian negara yang diperuntukkan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Sebagaimana pantun berikut:
Yang dirugikan adalah rakyat kecil.
Yang dirugikan adalah sopir angkot.
Yang dirugikan adalah nelayan.
Yang dirugikan adalah pedagang kecil.

Sementara itu, Hari ini, 14 September 2026, kita memperingati Hari Kunjung Perpustakaan Nasional dengan tema “Buku: Merawat Ingatan, Menggugah Kesadaran.”

Buku bukan sekadar kumpulan halaman dan kata, tetapi tempat manusia menyimpan jejak sejarah, ilmu, pengalaman, dan peradaban.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kita justru semakin membutuhkan kemampuan untuk membaca dengan jernih, memilah informasi, menganalisis, mengkritisi, dan mengambil hikmah sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Hari Kunjung Perpustakaan bukan sekadar ajakan memasuki gedung perpustakaan, tetapi momentum untuk menghidupkan kembali budaya literasi.

Gerakan ini harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga, kemudian tumbuh melalui sekolah, kampus, taman baca, komunitas, dan berbagai ruang masyarakat.

Sebab tantangan kita hari ini bukan lagi semata-mata kekurangan informasi, melainkan menghadapi “pandemi nirliterasi” ketika informasi begitu melimpah, tetapi kemampuan memahami dan menyaringnya masih terbatas.

Maka hari ini, mari kembali bersahabat dengan buku. Kunjungilah perpustakaan, bacalah buku yang belum pernah disentuh, dan jika memiliki buku yang telah selesai dibaca, salurkan kepada mereka yang membutuhkan.

Satu buku mungkin hanya sebuah benda bagi kita, tetapi bagi seorang anak, ia bisa menjadi jendela menuju masa depan.

Karena buku merawat ingatan agar sejarah tidak hilang, sekaligus menggugah kesadaran agar manusia mampu berpikir, bersikap, dan bertindak lebih bijaksana.

Selamat Hari Kunjung Perpustakaan Nasional 2026. Mari membaca, memahami, dan mengubah pengetahuan menjadi kebaikan.

Selanjutnya, Ada pemandangan yang belakangan ini begitu mudah ditemukan: kendaraan mengular di depan SPBU.

Motor berjejer, mobil berhimpitan, sementara wajah-wajah lelah menunggu giliran. Ada yang hendak bekerja, mengantar anak, mencari penumpang, mengangkut barang—semuanya membutuhkan BBM.

Karena itu, ketika Menteri Dalam Negeri (Mendagri) mendesak pemerintah daerah di Sulawesi Selatan menambah stok BBM, pesan yang sesungguhnya sangat sederhana: jangan biarkan rakyat terlalu lama berdiri dalam antrean.

Pemerintah tidak cukup hanya meminta masyarakat memahami keadaan. Rakyat juga berhak mendapatkan pelayanan yang membuat hidup mereka lebih mudah.

Sebab bagi pengemudi ojek, pedagang kecil, sopir angkutan, nelayan dan pekerja harian, BBM bukan sekadar angka di layar pompa bensin.

BBM adalah dapur yang harus tetap mengepul. Ketika BBM sulit diperoleh, pendapatan ikut tersendat. Ketika antrean mengular, waktu untuk bekerja ikut hilang.

Maka, persoalannya bukan semata-mata PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) atau bukan PJJ. Yang lebih mendesak adalah bagaimana stok tersedia, distribusi berjalan lancar, dan penyalahgunaan BBM bersubsidi dihentikan.

Jangan rakyat yang terus-menerus diminta bersabar, sementara mereka yang bermain di belakang layar justru menikmati keuntungan.

Rakyat tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin membeli BBM secara wajar, dengan harga yang semestinya, tanpa harus kehilangan separuh hari di dalam antrean.

Pemerintah hadir bukan untuk menjelaskan panjangnya antrean, tetapi untuk memendekkannya.

Dan di sinilah keberpihakan diuji: apakah kita membiarkan rakyat terus menunggu, atau bergerak sekarang juga untuk memberikan solusi?

Antrean panjang jangan dianggap biasa, karena di dalamnya ada perut yang harus diisi.

 Disisi lain, Langit di atas Masjidilharam seakan menumpahkan seluruh kerinduannya kepada Baitullah. Hujan deras mengguyur kawasan suci itu saat azan Magrib berkumandang.

Air hujan membasahi halaman dan lantai Masjidilharam, sementara jutaan doa tetap terangkat dalam suasana yang begitu syahdu.

Di tengah derasnya hujan, para jamaah tetap khusyuk menunaikan salat. Ada yang berlari kecil mencari tempat berteduh, ada pula yang memilih tetap berdiri.

Membiarkan tubuhnya basah oleh air hujan, seolah tak ingin kehilangan satu detik pun berada di hadapan Ka’bah.

Pemandangan itu mengajarkan sebuah keheningan: ketika hujan turun di tempat suci, manusia terasa begitu kecil di hadapan kebesaran Allah.

Air yang jatuh dari langit bukan sekadar hujan, tetapi seperti pesan lembut bahwa rahmat Allah dapat hadir kapan saja, bahkan di tengah derasnya air yang membasahi bumi.

Semoga siapa pun yang melihat pemandangan ini kelak mendapat kesempatan menjadi tamu Allah, menginjakkan kaki di Tanah Suci, bersujud di Masjidilharam, dan merasakan sendiri betapa damainya hati ketika doa dipanjatkan di hadapan Ka’bah.

Sebagaimana ungkapan dalam doanya:
Ya Allah, panggil kami menjadi tamu-Mu.
Mudahkan langkah kami menuju Baitullah.
Dan izinkan kami bersujud di Tanah Suci
Sebelum mata ini terpejam untuk selamanya. Aamiin.

Sampai disi jumpa kita, Terima kasih atas segala perhatian dan sampai jumpa pada edisi Moka berikutnya.

Salam Moka : Syakhruddin Tagana