Jumat kembali menyapa. Hari yang oleh banyak umat Islam dinantikan sebagai waktu untuk memperbanyak doa, membaca Al-Kahfi, bershalawat, bersedekah dan memperbaiki hubungan dengan sesama.
Sebab hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang kita miliki, tetapi juga tentang seberapa banyak kebaikan yang mampu kita tinggalkan.
Catatan sejarah; 4 September dalam lembar sejarah ternyata menyimpan banyak cerita. Tahun 1781, kota Los Angeles didirikan oleh 44 pemukim Spanyol.
Tahun 1888, George Eastman memperoleh paten kamera film gulung dan mendaftarkan merek Kodak sebuah langkah yang kemudian mengubah cara manusia mengabadikan kenangan.
Pada 4 September 1972, perenang Amerika Serikat Mark Spitz mencatat sejarah dengan meraih tujuh medali emas dalam Olimpiade Munich.
Sementara pada 1998, Google didirikan oleh Larry Page dan Sergey Brin, yang saat itu merupakan mahasiswa doktoral Stanford.
Dua peristiwa ini mengajarkan satu hal: keberhasilan besar sering kali bermula dari langkah kecil, latihan panjang, dan keberanian mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan.
Maka, Jumat ini jangan hanya menjadi pergantian hari dalam kalender. Jadikan ia kesempatan untuk berhenti sejenak, menengok perjalanan, memperbaiki kesalahan, dan menambah amal kebaikan.
Sebab waktu tidak pernah kembali. Yang tersisa hanyalah jejak, apakah kita meninggalkan luka, atau justru meninggalkan manfaat.
Sebuah pantun pembuka untuk Anda;
Jumat datang membawa berkah,
Langit cerah hati pun tenang.
Mari bersyukur kepada Allah,
Semoga hidup dipenuhi sayang.
Ada wajah-wajah baru hari ini. Ada langkah yang masih mencari arah, tetapi menyimpan harapan besar untuk masa depan. Mereka adalah mahasiswa baru, yang untuk pertama kalinya menapakkan kaki di lingkungan akademik UIN Alauddin Makassar.
Kamis, 3 September 2026, suasana Masjid Agung Kampus UIN Alauddin Makassar, Jalan H. Yasin Limpo, Samata, Gowa, terasa berbeda.
Para mahasiswa baru mengikuti rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang berlangsung tertib, sekaligus dirangkaikan dengan kuliah umum dan orasi ilmiah.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Transformasi Strategi Dakwah: Merawat Tradisi dan Kedaulatan Akademis di Era Digital.”
Tema ini terasa begitu dekat dengan kehidupan mahasiswa hari ini. Sebab, dakwah tidak lagi hanya berlangsung dari mimbar ke mimbar, tetapi juga hadir di layar gawai, media sosial, ruang digital, dan berbagai platform komunikasi yang setiap hari menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.
Dalam kesempatan itu, orasi ilmiah disampaikan oleh Prof. Dr. H. Ustads Ali Mukhtar Ngabalin, M.Si., alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang kini aktif sebagai pengurus DPP Golkar di Jakarta.
Kehadirannya menjadi bagian dari pesan bahwa kampus bukan sekadar tempat mengejar gelar, tetapi ruang untuk membentuk cara berpikir, memperluas wawasan, sekaligus mempersiapkan generasi yang mampu membaca perubahan zaman.
Bagi mahasiswa baru, PBAK bukan sekadar kegiatan seremonial untuk mengenal gedung, dosen, organisasi, dan lingkungan kampus. Lebih jauh dari itu, PBAK adalah pintu masuk menuju dunia akademik.
Di sinilah mahasiswa mulai belajar bahwa kebebasan berpikir harus berjalan bersama tanggung jawab, kebebasan berbicara harus disertai etika, dan kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan menyaring informasi.
Era digital menghadirkan peluang yang luar biasa. Dalam hitungan detik, seorang mahasiswa dapat membaca berbagai referensi dari seluruh dunia.
Tetapi pada saat yang sama, dunia digital juga menyimpan jebakan: informasi palsu, ujaran kebencian, provokasi, hingga budaya ikut-ikutan tanpa melakukan verifikasi.
Karena itu, mahasiswa baru UIN Alauddin diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pengendali teknologi.
Jadikan media sosial sebagai ruang berbagi pengetahuan, menyampaikan gagasan, memperkuat nilai-nilai keislaman, dan menghadirkan dakwah yang menyejukkan.
Sebab, kampus adalah tempat bertemunya tradisi dan transformasi.
Tradisi akademik harus tetap dirawat, tetapi cara menyampaikannya mesti mampu mengikuti perkembangan zaman.
Dakwah pun demikian. Nilai dan pesannya boleh tetap kokoh, sementara metode dan medianya terus berkembang.
Maka kepada para Maba, selamat datang di kampus bermartabat. Jangan takut bermimpi, jangan malu bertanya, dan jangan cepat puas dengan apa yang sudah diketahui.
Kuliah bukan hanya tentang mendapatkan ijazah. Kuliah adalah perjalanan menemukan siapa diri kita, untuk apa ilmu diperoleh, dan kepada siapa ilmu itu kelak diabdikan.
Selamat datang, mahasiswa baru UIN Alauddin Makassar. Hari ini kalian memasuki gerbang kampus.
Kelak, kampus akan menjadi bagian dari cerita panjang kehidupan kalian. Dan MoKa percaya, dari masjid kampus inilah, sebagian perjalanan itu dimula.
Kabar baik datang dari jajaran Kementerian Sosial Republik Indonesia. Ibu Masryani Mansur, SE., MM., telah resmi dilantik sebagai Direktur PSKB Kemensos di Jakarta.
Amanah baru ini tentu bukan sekadar perubahan jabatan, tetapi sebuah kepercayaan besar untuk mengawal pelayanan sosial yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, khususnya mereka yang berada dalam kondisi rentan dan membutuhkan perhatian negara.
Bagi insan pekerja sosial, nama dan jabatan hanyalah bagian dari perjalanan pengabdian. Yang lebih penting adalah bagaimana amanah tersebut diterjemahkan menjadi kerja nyata, pelayanan yang manusiawi, serta kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Selamat menjalankan amanah kepada Ibu Masryani Mansur, SE., MM, Srikandi asal Pinrang yang akrab disapa Ibu Cece, yang sedang berkiprah di Jalan Salemba Raya Jakarta Pusat.
Atas nama Tagana Kampus UIN Alauddin Makassar mengucapkan selamat dan semoga jabatan baru ini, membawa kekuatan untuk terus menghadirkan pelayanan sosial yang cepat, tepat, dan bermartabat bagi mereka yang membutuhkan.
Pemerintah memberikan ruang lebih besar bagi pemuda Suku Dayak, khususnya yang berasal dari wilayah pedalaman, untuk mengabdi sebagai prajurit TNI.
Kebijakan ini bukan semata-mata memberikan keistimewaan berdasarkan suku, melainkan bentuk penyesuaian terhadap kondisi masyarakat pedalaman yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pendidikan, fasilitas, maupun kesempatan mengikuti proses rekrutmen secara optimal.
Presiden Prabowo Subianto meminta agar persyaratan penerimaan disesuaikan sehingga putra-putri Dayak pedalaman tidak kehilangan kesempatan hanya karena persoalan tertentu, seperti tinggi badan atau ciri khas adat.
Pemerintah juga melihat pentingnya keterlibatan masyarakat Dayak dalam menjaga wilayah pedalaman, hutan, serta lingkungan di Kalimantan.
Dengan demikian, kelonggaran tersebut diharapkan menjadi jembatan agar masyarakat adat semakin dekat dengan institusi pertahanan negara, tanpa menghilangkan standar kemampuan dan kesiapan sebagai prajurit.
Pada akhirnya, pesan kebijakan ini adalah memberikan kesempatan yang lebih adil kepada seluruh anak bangsa untuk mengabdi kepada Indonesia.
Bukan soal siapa yang diberi keistimewaan, tetapi bagaimana negara hadir hingga ke pelosok, menghargai kearifan masyarakat adat, sekaligus mengajak mereka menjadi bagian dari kekuatan pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ada kalanya seorang pemimpin harus turun dari perahu, bukan karena perahunya karam, tetapi karena perjalanan organisasi membutuhkan suasana yang lebih tenang.
Itulah yang kini terjadi di tubuh Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Kabupaten Gowa. Ketua Kwarcab Gowa, Sitti Husniah Talenrang, yang juga Bupati Gowa, harus menghadapi keputusan Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan.
Melalui SK Kwarda Sulsel Nomor 036 Tahun 2026 tertanggal 31 Agustus 2026, kepengurusan Kwarcab Gowa ditetapkan dalam status quo, setelah muncul aspirasi dari 16 dari 18 Kwartir Ranting (Kwarran) terkait disharmonisasi dalam tubuh organisasi.
Untuk sementara, Kwarda Sulsel menunjuk Jamaris sebagai carateker Ketua Kwarcab Gowa, didampingi empat pengurus lainnya.
Masa tugas sementara ini diarahkan untuk menjaga roda organisasi tetap berjalan, memulihkan komunikasi internal, serta mencari jalan keluar melalui mekanisme organisasi.
Yang menarik, beberapa pekan sebelumnya Husniah masih melepas 92 anggota kontingen Pramuka Gowa menuju Jambore Nasional XII di Cibubur. Saat itu ia berbicara tentang kebanggaan, karakter dan nama baik Gowa. Kini, panggungnya berubah menjadi ujian organisasi.
Moka mencatat satu pelajaran sederhana: dalam organisasi, jabatan boleh datang dan pergi, tetapi pembinaan generasi muda jangan sampai ikut berhenti.
Pramuka bukan milik seorang ketua, bukan pula milik pengurus tertentu. Ia adalah rumah besar tempat anak-anak bangsa belajar disiplin, persaudaraan, pengabdian dan kepemimpinan.
Semoga badai organisasi ini segera reda. Sebab di balik seragam cokelat dan setangan leher itu, ada ribuan anak muda Gowa yang sedang belajar tentang arti kebersamaan.
Ketika para pemimpin berselisih, jangan biarkan masa depan generasi muda ikut kehilangan arah.
Pembaca setia Moka, Sampai di sini jumpa kita hari ini. Moka mohon pamit sejenak, seraya mengucapkan selamat menunaikan salat Jumat yang penuh berkah.
Semoga setiap langkah menuju rumah Allah menjadi amal kebaikan, setiap doa mendapat tempat di sisi-Nya, dan khutbah yang kita dengarkan menjadi pengingat untuk terus memperbaiki diri.
Besok pagi, Moka akan kembali menyapa dan menghiasi gawai Anda dengan aneka informasi, cerita, dan peristiwa yang layak untuk diketahui.
Sebab hidup selalu menghadirkan mozaik kehidupan, ada suka, ada duka, ada jabatan, ada pula saatnya kita harus belajar menerima sebuah keputusan.
Sebelum berpisah, sebuah pantun penutup:
Ketika jabatan di Pramuka dicopot,
Janganlah hati larut dalam kecewa.
Jabatan hanyalah amanah sesaat,
Pengabdian tetap hidup sepanjang masa.

Salam Literasi : Syakhruddin Tagana