Sabtu datang dengan wajah yang berbeda. Setelah lima hari bergelut dengan pekerjaan, kesibukan dan berbagai persoalan kehidupan, hari ini seolah mengajak kita untuk menarik napas lebih panjang.
Ada yang memilih tetap bekerja, ada yang memanfaatkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga, ada pula yang sekadar duduk menikmati secangkir kopi sambil memandang pagi yang perlahan bergerak menuju siang.
Sabtu bukan sekadar nama sebuah hari. Ia adalah kesempatan untuk menyadari bahwa hidup tidak selamanya harus berlari.
Ada waktunya kita berhenti sejenak, menengok perjalanan yang telah dilalui, menghitung apa yang sudah dikerjakan dan menerima dengan lapang apa yang belum sempat diselesaikan.
Bagi sebagian orang, Sabtu adalah hari untuk bepergian. Bagi yang lain, cukup berada di rumah, bercengkerama dengan anak dan cucu, atau sekadar menikmati suasana halaman.
Kebahagiaan ternyata tidak selalu membutuhkan sesuatu yang mahal. Terkadang, kebahagiaan justru hadir dari hal-hal sederhana yang selama ini luput kita syukuri.
Sebab usia mengajarkan satu hal: waktu yang berlalu tidak pernah kembali. Uang yang hilang mungkin dapat dicari, kesempatan yang terlewat mungkin suatu saat datang kembali, tetapi waktu yang telah pergi tidak akan pernah mengetuk pintu untuk kedua kalinya.
Maka, Sabtu pagi ini, mari kita nikmati hidup dengan sederhana. Jangan terlalu sibuk mengejar apa yang belum dimiliki hingga lupa mensyukuri apa yang sudah berada dalam genggaman.
Dan ketika matahari perlahan meninggi, semoga kita semakin memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi tentang seberapa banyak kebaikan yang sempat kita tinggalkan.
Semoga hari ini tubuh mendapatkan kesempatan beristirahat, hati memperoleh ketenangan, keluarga merasakan kehangatan, dan jiwa semakin dekat kepada Sang Pencipta.
Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat, melainkan perjalanan untuk menjadi manusia yang paling banyak memberi arti.
Sebuah pantun pembuka untuk anda nikmati;
Pergi pagi membeli jamu,
Singgah sebentar di tepi taman.
Sabtu hadir menyapa kalbu,
Mari bersyukur sepanjang zaman.
Sementara itu, Ketegangan antara Iran dan Israel kembali memanas. Iran melontarkan pernyataan keras dengan menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai pihak yang akan mereka “kirim ke neraka”.
Pernyataan bernada ancaman itu mencerminkan betapa dalamnya permusuhan kedua negara, di tengah rangkaian konflik dan serangan yang terus mengguncang kawasan Timur Tengah.
Iran menegaskan bahwa ancaman terhadap negaranya tidak akan dijawab dengan diam, melainkan dengan perlawanan.
Namun, di balik perang kata-kata tersebut, tersimpan kekhawatiran yang jauh lebih besar: konflik Iran-Israel berpotensi berkembang menjadi perang terbuka dengan dampak yang melampaui batas kedua negara.
Ketegangan di Timur Tengah bukan hanya menyangkut rudal dan kekuatan militer, tetapi juga keselamatan warga sipil, stabilitas kawasan, hingga keamanan energi dan perdagangan dunia.
Ketika bahasa diplomasi mulai digantikan oleh ancaman, dunia kembali diingatkan bahwa satu percikan kecil di Timur Tengah dapat berubah menjadi kobaran api yang sulit dipadamkan.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, Kota Makassar mencatat 218 kasus kebakaran. Angka ini menjadi peringatan serius bagi seluruh warga, terlebih kasus kebakaran menunjukkan peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.
Dari ratusan kejadian tersebut, empat orang dilaporkan meninggal dunia, enam lainnya mengalami luka-luka, sementara 463 kepala keluarga terdampak.
Kerugian material pun tidak sedikit, diperkirakan mencapai sekitar Rp11,09 miliar. Di tengah cuaca panas dan kondisi kemarau, api menjadi semakin mudah menjalar, terutama ketika berhadapan dengan lingkungan yang kering dan angin yang cukup kencang.
Menariknya, pembakaran sampah dan alang-alang menjadi penyebab terbanyak, mencapai 88 kasus, disusul korsleting listrik sebanyak 31 kasus serta persoalan kompor atau kebocoran gas sebanyak 15 kasus.
Data ini kembali mengingatkan bahwa pencegahan kebakaran sesungguhnya dimulai dari rumah dan lingkungan kita sendiri.
Jangan membakar sampah sembarangan, periksa instalasi listrik, pastikan kompor dan tabung gas dalam kondisi aman, serta jangan meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.
218 kebakaran bukan sekadar angka, tetapi 218 peringatan agar kita lebih peduli, lebih waspada, dan tidak memberi kesempatan kepada si jago merah untuk mengambil apa yang kita cintai.
Sebuah peristiwa, Amuk massa kembali terjadi di kawasan Tamajene, Kota Makassar. Peristiwa yang berlangsung pada Kamis dini hari itu bermula ketika warga mengamankan seorang remaja berinisial AD, 18 tahun, yang diduga terlibat dalam aksi penyerangan terhadap warga.
Situasi kemudian berubah menjadi tegang ketika massa melampiaskan kemarahan dengan menghakimi remaja tersebut.
Polisi yang datang untuk mengevakuasi dan mengamankannya pun ikut menjadi sasaran amukan massa. AD mengalami sejumlah luka pada bagian tubuhnya dan selanjutnya mendapat penanganan.
Tamajene sendiri berada di kawasan Jalan Urip Sumoharjo, Lorong Tamajene, Kelurahan Karuwisi Utara, Kecamatan Panakkukang, Makassar.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena menunjukkan betapa mudahnya situasi berubah menjadi keributan ketika kemarahan warga tidak terkendali.
Apa pun persoalan yang terjadi, tindakan main hakim sendiri tentu bukan jalan keluar. Hukum harus tetap menjadi panglima, sementara keamanan lingkungan membutuhkan ketenangan, kewaspadaan dan kerja sama antara masyarakat dengan aparat agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Disi lain, Dedi Mulyadi kini bukan sekadar nama yang ramai di media sosial. Elektabilitasnya yang melejit menunjukkan adanya perubahan selera politik masyarakat.
Ia hadir dengan gaya yang sederhana, blusukan, berbicara langsung dengan rakyat dan menampilkan persoalan sehari-hari sebagai panggung kerjanya.
Di tengah masyarakat yang semakin kritis dan mudah bosan dengan retorika politik, sosok yang dianggap dekat, nyata dan bekerja ternyata memiliki daya tarik tersendiri.
Dedi sedang menikmati momentum sebagai figur alternatif yang mampu merebut perhatian publik.
Sebaliknya, Prabowo menghadapi situasi yang berbeda. Sebagai presiden, ia tidak lagi hanya dinilai dari pidato, citra atau popularitas, tetapi dari harga yang dibayar rakyat, kebijakan yang dirasakan dan hasil pemerintahan yang terlihat.
Ketika persoalan ekonomi dan kebutuhan hidup menjadi perhatian masyarakat, beban politik seorang petahana pun semakin berat.
Maka, melejitnya Dedi dan menurunnya Prabowo bukan sekadar soal angka survei, tetapi bisa menjadi cermin perubahan harapan publik.
Pertanyaannya kemudian: apakah ini hanya gelombang sesaat, ataukah tanda bahwa peta politik menuju 2029 mulai bergerak?
Terbungkus Dalam Sunyi Di Roda Pesawat; Deru mesin pesawat telah lama berhenti, penumpang pun turun membawa koper dan cerita perjalanan masing-masing.
Namun, di balik badan pesawat yang baru tiba di KLIA2 dari Tokyo, tersimpan sebuah kisah yang membuat petugas terdiam.
Bau tak sedap yang tercium dari ruang roda pesawat membawa mereka pada sebuah penemuan mengerikan—sesosok jenazah pria muda ditemukan dalam ruang sempit dan gelap, tempat yang seharusnya hanya menjadi bagian dari mesin penerbangan.
Diperkirakan berusia 17 hingga 25 tahun, lelaki itu diduga telah meninggal lebih dari tiga hari. Tanpa identitas, tanpa suara, tanpa sepucuk pesan pun yang dapat menjelaskan siapa dirinya.
Kini pertanyaan demi pertanyaan menggantung di udara. Siapakah dia? Dari mana ia datang? Dan mengapa perjalanan hidupnya berakhir di ruang roda sebuah pesawat?
Tidak ada yang tahu. Polisi Malaysia masih menyelidiki, sementara jenazah dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan forensik.
Barangkali di suatu tempat, ada keluarga yang sedang menunggu kepulangannya menanti ketukan pintu yang tak pernah terdengar, menunggu telepon yang tak kunjung berdering.
Pesawat itu membawa banyak orang menuju tujuan mereka, tetapi seorang anak manusia justru ditemukan tanpa tujuan, tanpa nama, dan tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.
Sebuah perjalanan yang berakhir dalam sunyi, meninggalkan misteri dan mungkin, air mata bagi mereka yang kehilangan.
Pembaca MoKa yang setia, sampai di sini jumpa kita hari ini. Selamat bermalam Minggu, nikmati malam dengan keluarga dan orang-orang tercinta.
Insya Allah, esok hari MoKa akan kembali hadir, menemani pagi Anda dengan berbagai informasi dan kisah kehidupan yang layak untuk Anda ketahui.
Sebuah pantun penutup untuk Anda:
Bunga mekar di tepi landasan,
Gugur kelopak saat pesawat mendarat.
Perjalanan dari Tokyo tak berujung pelukan,
Di KLIA, kau beristirahat selamanya.

Salam Literasi : Syakhruddin Tagana