Gambar Mozaik Kehidupan:

Merah Putih telah berkibar, lagu Indonesia Raya telah menggema. Namun, kemerdekaan tidak berhenti ketika upacara selesai.

Sehari setelah bangsa Indonesia memperingati HUT Kemerdekaan ke-81, Selasa, 18 Agustus 2026, mengajak kita kembali kepada sejarah.

Sebab, tepat 18 Agustus 1945, sehari setelah Proklamasi, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengesahkan UUD 1945 serta menetapkan Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Artinya, perjuangan para pendiri bangsa bukan hanya merebut kemerdekaan, tetapi juga menata negara yang baru lahir.

Dari situlah kita belajar bahwa kemerdekaan harus diisi dengan persatuan, keadilan, kepedulian dan tanggung jawab.

Merah Putih bukan sekadar warna pada tiang bendera, tetapi simbol pengorbanan panjang para pejuang yang rela kehilangan harta, tenaga, bahkan nyawa.

Aceh sedang tidak baik-baik saja. Di tengah suasana peringatan kemerdekaan, Aceh justru diliputi ketegangan setelah kericuhan di Banda Aceh pada 15 Agustus terkait persoalan Bendera Bulan Bintang.

Pemerintah Aceh dan DPRA kemudian sepakat berkonsultasi dengan pemerintah pusat untuk memperoleh kepastian hukum.

Aceh memiliki sejarah panjang perjuangan dan kini telah lebih dari dua dekade menjalani masa damai.

Karena itu, setiap persoalan hendaknya diselesaikan melalui dialog, bukan dengan kekerasan.

Jusuf Kalla juga mengingatkan bahwa 21 tahun perdamaian Aceh seharusnya menjadi momentum memperkuat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.

Maka, 18 Agustus bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah pengingat bahwa setelah merdeka, pekerjaan bangsa justru semakin panjang: menjaga persatuan, menghormati perbedaan, merawat perdamaian dan memastikan kemerdekaan benar-benar dirasakan seluruh rakyat.

Sebuah pantun pembuka untuk Anda nikmati;
Pergi berjuang membawa bambu,
Bambu runcing di tengah medan.
Jangan biarkan bangsa berseteru,
Damai dijaga, teguhkan persatuan.

Ketua DPW Partai Perindo Sulsel, DR. H. Abdul Hayat, bertindak sebagai inspektur upacara bendera dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-81.

Upacara yang diikuti pengurus dan kader Partai Perindo Sulsel bersama pengurus serta anggota Lembaga Lansia Indonesia (LLI) Sulsel tersebut, dipimpin Komandan Upacara Sekretaris DPW Partai Perindo Sulsel, Gunawan.

Rangkaian kegiatan diawali pengibaran Sang Merah Putih, pembacaan teks Proklamasi dan Pancasila, serta doa yang dipimpin H. Syakhruddin DN, yang juga Sekretaris LLI Provinsi Sulsel.

Dalam sambutan seragam Gubernur Sulsel yang dibacakannya, Abdul Hayat menyampaikan bahwa di usia 81 tahun kemerdekaan, Indonesia telah mencatat berbagai kemajuan dan prestasi pembangunan.

Salah satunya di sektor pertanian yang dinilai telah mencapai swasembada pangan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Gubernur Sulsel juga mengajak masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban, memelihara lingkungan, serta memperkuat kebersamaan agar pembangunan dapat berjalan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara adil dan berdaulat.

Usai upacara, suasana kemerdekaan dilanjutkan dengan sajian berbagai kuliner dan minuman hasil UMKM serta sejumlah pertandingan yang diikuti kader Partai Perindo dan anggota LLI Sulsel.

Hayat menyampaikan terima kasih kepada seluruh kader dan masyarakat yang telah berpartisipasi menyemarakkan HUT Kemerdekaan RI ke-81.

Sebagai pimpinan Partai Perindo Sulsel sekaligus Pembina LLI Sulsel, ia mengajak seluruh kader, simpatisan dan anggota LLI menjaga persatuan serta kebersamaan, agar kemerdekaan yang diperjuangkan para pahlawan dapat terus dinikmati dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Sementara itu, delapan pendaki yang merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-81 di kawasan Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, mengalami kondisi hipotermia dan kram akibat cuaca dingin serta kelelahan selama berada di pegunungan.

Kondisi tersebut membuat mereka membutuhkan pertolongan untuk dapat kembali ke tempat yang lebih aman.

Tim SAR kemudian bergerak melakukan evakuasi terhadap para pendaki tersebut. Proses penyelamatan dilakukan dengan memperhatikan kondisi fisik korban dan medan pegunungan yang cukup berat.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi para pendaki agar mempersiapkan perlengkapan, kondisi fisik, serta mengantisipasi perubahan cuaca sebelum melakukan pendakian, termasuk saat merayakan momentum kemerdekaan di alam terbuka.

Disisi lain, Menteri Sosial (Mensos) menyiapkan tali asih bagi keluarga korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian pemerintah sekaligus upaya meringankan beban keluarga yang kehilangan anggota keluarganya dalam bencana tersebut.

Selain tali asih bagi ahli waris korban meninggal, pemerintah melalui Kementerian Sosial terus melakukan penanganan terhadap warga terdampak gempa. Bantuan dan dukungan diharapkan dapat segera diterima masyarakat, terutama mereka yang kehilangan tempat tinggal maupun anggota keluarga akibat bencana.

Kehadiran pemerintah di tengah suasana duka diharapkan memberikan penguatan bagi keluarga korban. Bencana memang meninggalkan luka dan kehilangan, namun kepedulian serta bantuan bersama menjadi bagian penting dalam proses pemulihan masyarakat NTT.

Sampai di sini jumpa kita. Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Semoga semangat kemerdekaan senantiasa menguatkan persatuan, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan kehidupan yang lebih damai dan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, keberkahan, serta perlindungan-Nya kepada kita semua, sebuah pantun penutup untuk Anda:
Merah putih berkibar megah,
Di langit biru penuh cahaya.
Dirgahayu Indonesia tercinta,
Semoga merdeka, damai, sejahtera selamanya.

Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81! Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Salam Literasi : Syakhruddin Tagana