Setiap orang mendambakan apa saja yang diucapkan atau dilakukan dapat dikategorikan sebagai kebajikan. Laki-laki atau perempuan, berapa pun usianya, apa pun profesinya bukanlah masalah. Asal saja perkataan dan perbuatannya itu membawa manfaat bagi dirinya dan orang lain. Seorang karyawan setiap pagi menyapa atasannya, “assalamu ‘alaikum, selamat pagi”.
Atasannya tidak pernah menjawab, lalu teman karyawan itu berkata: kenapa selalu memberi salam kepada atasan kita, dia tidak pernah menjawab salammu. Karyawan itu berkata: saya memberi salam kepada atasan kita, karena ajaran agama memerintahkan untuk saling mendoakan, saya tidak peduli apakah atasan kita menjawab atau tidak. Karyawan tersebut telah melakukan kebajikan dengan tulus, karena ia berbuat kebaikan tanpa menunggu respons atau reaksi dari perbuatan baik yang dilakukannya.
Seorang istri yang meladeni suaminya setelah sang suami kembali dari bekerja, bukan karena ia takut suaminya akan marah, atau ia meladeni karena ingin memperoleh uang. Tapi ia meladeni semata-mata karena cinta kepada suaminya, maka istri tersebut ikhlas melakukan kebajikan.
Jika Anda menolong seseorang karena Anda mengetahui bahwa menolong kepada sesama adalah sesuatu yang diperintahkan Allah, maka Anda melakukan kebajikan yang didasari keikhlasan. Namun, bila Anda menghentikan bantuan karena orang yang Anda bantu tidak berterima kasih, bahkan menceritakan keburukan Anda kepada orang lain. Maka Anda tidak ikhlas melakukan kebajik
Ketika seseorang menuntut upah dari suatu pekerjaan, karena ia sadar bahwa menuntut hak setelah melaksanakan kewajiban adalah perintah agama, maka orang tersebut ikhlas. Bahkan agama mengajarkan bahwa orang yang melaksanakan kewajiban, tapi tidak menuntut hak adalah orang lemah. Sedangkan yang senantiasa menuntut hak, tapi tidak melaksanakan kewajiban adalah tercela.
Keikhlasan selalu dikaitkan dengan perbuatan yang dilakukan dengan maksud mencari keredaan Allah. Agama menyebutnya dengan “lillahi robb al-‘alamin” (karena dan untuk Allah). Perhatikan motif yang menggerakkan perilaku Anda. Bila Anda melakukan sesuatu karena ingin menjalankan perintah Allah, tidak tergantung bagaimanapun reaksi orang kepada Anda.
Atau Anda memberikan bantuan kepada orang yang kesusahan, meskipun ia tidak berterima kasih. Anda benar-benar ikhlas. Allah menyebutkan orang-orang yang ikhlas ketika mereka berkata, “Sesungguhnya kami memberikan makanan kepada kalian karena Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dan terima kasih” (QS. Al-Insan/76: 9).
Dalam kehidupan ini semua orang rugi, kecuali yang beramal. Semua orang yang beramal rugi, kecuali yang ikhlas. Karena makna ikhlas selain membersihkan juga bermakna menyelamatkan. Dalam riwayat disebutkan bahwa: “Ketika malaikat menggiring para ahli neraka, Tuhan berfirman: Jangan bakar tangannya, karena tangan itu dulu pernah diangkat waktu berdoa.
Jangan bakar kakinya, karena kaki itu dulu pernah dilangkahkan ke masjid untuk beribadah. Malaikat berkata: Apa yang menyebabkan kalian celaka?, penghuni neraka itu pun menjawab: Kami dahulu beramal bukan karena Allah”. Semua yang dilakukan akan bernilai sebagai kebajikan apabila memenuhi dua syarat. Pertama, perbuatan itu dilakukan karena Allah. Kedua, perbuatan itu tidak bertentangan dengan syariat Islam. Karena itu kebajikan tidak terbatas jumlah dan jenisnya, dapat dilakukan siapa saja dan di mana saja.
Mereka yang diberi rezeki oleh Allah, dapat saja melakukan kebajikan dengan hartanya. mereka yang diberi ilmu, dapat berbuat kebajikan dengan ilmunya. Mereka yang diberi tenaga, dapat melakukan kebajikan dengan tenaganya. Kalau pun semuanya sudah terbatas, maka ungkapan berikut ini patut jadi perhatian: “Kalau tidak bisa membersihkan, jangan mengotori. Kalau tidak bisa memuji, jangan mencaci. Kalau tidak bisa menjaga ketertiban, jangan buat keributan”. (*)
Alat AksesVisi