Setiap orang selalu mencari kebahagiaan di berbagai tempat dan waktu. Namun, kebahagiaan yang dicari gagal dijumpai.
Demikian pula sering kali kita menghindari segala sesuatu yang membawa penderitaan, namun derita dengan berbagai bentuknya tetap saja menemui meskipun kita berusaha bersembunyi dan menghindarinya. Karena setiap saat kita menuntut untuk dicintai, namun tidak pernah berusaha untuk mencintai.
Begitu pula setiap waktu kita menuntut untuk dipahami, namun tidak berusaha untuk memahami orang lain. Akibatnya kegagalan demi kegagalan, penderitaan demi penderitaan datang silih berganti menemui kita.
Ada berbagai hal yang sering kali mengganggu ketenteraman jiwa sese-orang misalnya kegelisahan, keresahan, dan stres yang berkepanjangan. Pada awalnya berasal dari perbuatan kita yang sering mementingkan diri sendiri, orang lain berperilaku seperti yang kita kehendaki, bahkan kehidupan ini kita inginkan berjalan seperti kemauan kita.
Akhirnya kita sangat menderita apabila sesuatu yang kita inginkan tidak terlaksana, karena yang kita pikirkan adalah keinginan-keinginan ego kita. Menghilangkan ego membutuhkan latihan-latihan di antaranya dengan melakukan penghikmatan kepada sesama.
Dengan berkhidmat, seseorang tidak akan mementingkan diri sendiri; berkhidmat juga akan meruntuhkan kesombongan seseorang; dan yang terpenting adalah bahwa dengan berkhidmat kita belajar mencintai.
Salah satu kecenderungan manusia modern adalah keinginan untuk selalu dicintai. Berbagai cara yang ditempuh untuk menarik perhatian orang lain, pada akhirnya berujung agar kita dicintai.
Seorang istri berupaya untuk dicintai oleh suaminya, demikian pula sebaliknya. Namun di antara sekian banyak pasangan suami-istri yang gagal untuk saling mencintai, karena masing-masing pihak hanya berusaha untuk dicintai dan tidak berusaha untuk belajar mencintai.
Demikian halnya dengan sesama makhluk, Tuhan berfirman dalam sebuah hadis qudsi, “Semua makhluk adalah keluarga-Ku. Dan di antara makhluk-makhluk itu yang paling Aku cintai adalah mereka yang paling santun dan sayang terhadap hamba-hamba-Ku yang lain, serta senang memenuhi keperluan mereka”.
Bersikap santun dan memenuhi keperluan terhadap sesama merupakan perilaku yang sangat dicintai Tuhan. Nabi Muhammad saw berpesan bahwa setiap penghikmatan kita kepada orang lain dapat dihitung sebagai sedekah.
Nabi juga menyebutkan bahwa menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di tengah jalan dan memenuhi keperluan orang yang kesusahan dihitung sebagai sedekah. Semua jenis penghikmatan kita terhadap sesama manusia dihitung Tuhan sebagai sedekah.
Jalan dan cara seperti inilah yang dapat mendekatkan seseorang kepada Tuhan. Dalam kajian teologi dikenal bahwa jalan untuk mengenal Tuhan melalui akal dan wahyu. Hal ini melahirkan perdebatan di kalangan para teolog.
Di antara mereka ada yang berpandangan bahwa manusia dapat mengetahui Tuhan melalui akal meskipun tanpa wahyu. Sedang yang lain berpendapat bahwa manusia tidak dapat mengetahui Tuhan tanpa tuntunan wahyu.
Perdebatan tentang hal ini melahirkan berjilid-jilid buku untuk membahasnya. Akhirnya mereka berkesimpulan bahwa meskipun dengan akal manusia dapat mengetahui Tuhan, namun jalannya panjang dan berliku. Sedang jalan pintas mengetahui Tuhan adalah melalui tuntunan wahyu.
Mereka yang bergelut di dunia tasawuf tidak asing dengan ungkapan, “Banyak jalan untuk mendekati Tuhan, sebanyak nspas para pencari Tuhan. Namun, jalan yang paling dekat kepada-Nya adalah dengan membahagiakan orang lain”.
Tasawuf adalah ilmu yang ditekuni untuk belajar mencintai Tuhan. Sebelum belajar mencintai Tuhan yang terlalu abstrak, maka terlebih dahulu belajarlah mencintai hamba-hambaNya.
Pada masa lalu, guru tasawuf ketika didatangi orang-orang untuk belajar tasawuf kepadanya, sang guru senantiasa bertanya apakah kamu mempunyai istri? Belajarlah kamu mencintai istrimu sebelum kamu belajar mencintai Tuhanmu.
Alat AksesVisi