Gambar Membangun Integritas

Integritas adalah kualitas, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kejujuran. Apabila dikaitkan dengan karakter, maka integritas dimaknakan sebagai kejujuran dan kebenaran dari tindakan seseorang, lawan dari integritas adalah hipokrit atau kemunafikan.

Generasi berintegritas adalah kelompok usia muda atau generasi masa depan yang memiliki kepribadian jujur, konsisten keterpaduan antara perkataan dan perbuatan, menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moral dalam kehidupan sehari-hari.

Akhir-akhir ini kata integritas sering kali muncul dalam pergaulan sosial misalnya seseorang yang akan dilantik untuk suatu jabatan atau posisi tertentu sering kali didahului dengan penandatanganan fakta integritas. Integritas juga diartikan sebagai suatu konsep yang berkaitan dengan konsistensi dalam tindakan, nilai, metode dan prinsip dalam berbagai hal yang dihasilkan.

Singkat kata orang yang berintegritas berarti memiliki pribadi jujur dan karakter kuat. Karakteristik generasi berintegritas tercermin pada empat hal; jujur dan transparan, konsisten, bertanggungjawab, dan anti penyelewengan.

Orang yang memiliki integritas dapat dilihat dari berbagai aspek kehidupan yang dilaluinya, antara lain: Tidak mementingkan diri sendiri; memiliki kekuatan moral di tengah serbuan godaan yang mengelilinginya; integritas dibangun di atas dasar kedisiplinan; mampu bersabar ketika hidupnya tidak berjalan mulus; teguh mempertahankan nilai tertentu demi menjaga komitmen meskipun berisiko mencampakkan dirinya.

Membangun generasi berintegritas di Indonesia saat ini dapat dilakukan dengan cara: Pertama, Pendidikan karakter sejak dini. Kedua, Penguatan literasi digital.

Pendidikan karakter sejak dini melalui pola pendidikan berkelanjutan dengan konsep: Pertama, usia 0 sampai 7 tahun, berikan kasih sayang. Kedua, usia 7 sampai 14 tahun tanamkan disiplin. Ketiga, usia 14 sampai 21 tahun perlakukan sebagai sahabat. Dengan pola seperti ini, akan melahirkan generasi yang tidak mencari kasih sayang di luar rumah, mereka pun akan terbuka mengutarakan persoalan yang mereka hadapi termasuk masalah cinta mereka terhadap seseorang yang sering dipandang tabu untuk dipercakapkan kepada orang tua mereka.

Riwayat menuturkan, ketika Yusuf Alaihisalam dijatuhkan oleh saudara-saudaranya di sebuah sumur, Pada hari ketiga Malaikat Jibril datang menjumpainya dan berkata: Yusuf siapa yang menjatuhkanmu ke dalam sumur? Yusuf ‘Alaihisalam menjawab saudara-saudaraku sebapak mereka iri karena keberadaanku di sisi bapakku.

Jibril berkata: "inginkah kamu keluar dari sumur ini?"

"Tentu jawab," Yusuf.

Jibril kemudian mengajari doa yang di dalam doa itu ada selawat kepada Muhammad saw. Berkat doa yang diajarkan oleh Jibril itu akhirnya Yusuf Alaihisalam keluar dari sumur.

Beberapa puluh tahun kemudian Yusuf menjadi penguasa di Mesir. Ketika Yusuf menjadi Menteri Logistik di Mesir, dia senantiasa berpuasa hanya berselang sehari kemudian berpuasa lagi pada hari berikutnya.

Masyarakat Mesir pada saat mengetahui hal itu bertanya kepada Yusuf, kenapa engkau melakukan hal yang menyusahkan dirimu, bukankah kesempatan dan kekuasaan ada di tanganmu untuk menggunakan logistik sesuai dengan kebutuhanmu.

Yusuf hanya menjawab singkat: "saya takut kenyang, karena saya khawatir akan melupakan orang-orang yang lapar."

Melalui riwayat seperti ini, Yusuf hendak memberi pelajaran bahwa melalui puasa yakni menahan diri dari keinginan yang berlebihan akan menghindarkan pelakunya dari sifat mementingkan diri sendiri.

Dengan metode ini juga dapat membangun integritas dan kejujuran. Integritas dan kejujuran memiliki relevansi dengan menahan diri dari keinginan yang berlebihan menghadapi serbuan hedonisme dalam kehidupan, meniscayakan dimilikinya kekuatan moral bagi siapa saja yang ingin terbebas dari jebakan kehidupan duniawi yang sangat sementara. (*)