“Malam minggu kita ke mana, Kek?”Tanya cucu di beranda senja,Saat angin membawa aroma hujanDan suara azan turun perlahan dari langit kota.
Sang Kakek tersenyum tipis,Senyum yang menyimpan banyak musim.“Sudahlah, Cu…Kini kaki Kakek tak lagi pandai berjalan jauh.Biarlah malam ini di rumah saja,Temani Nenekmu minum teh hangat.Namun mata sang cucu masih berbinar.“Kalau dulu…Waktu Kakek muda bersama Nenek bagaimana?”
Kakek tertawa kecil,Seakan kenangan lama mengetuk kembali pintu usia.“Dulu, Nak…Malam minggu adalah pesta sederhana.
Kakek membonceng NenekNaik sepeda Simking kesayangan,Sepeda paling gagah di zamannya.”Kami menuju Pantai Losari,
Mengejar lampu-lampu kotaDan debur ombak yang bernyanyi di bibir pantai.
Nenekmu duduk malu-malu di jok belakang,Sementara rambutnya menari diterpa angin laut.Kami duduk di bangku panjang Losari,Memandang kapal-kapal kecilDan bulan yang jatuh di permukaan air.
Tak ada kopi mahal,Tak ada swafoto dan telepon pintar,Tetapi hati terasa penuh bahagia.Lalu menjelang larut kami pulang,Mengayuh sepeda pelan-pelanMelewati jalan yang sunyi dan lampu temaram.
Esok paginya,Nenekmu tetap bangun lebih awal,Menyapu halaman rumahSambil bersenandung kecil penuh cinta.
Cucu itu pun tersenyum haru.Malam minggu ternyata bukan soal pergi jauh,Melainkan tentang kenanganYang tetap hidup meski rambut telah memutih.
Dan di sudut rumah sederhana itu,Sang Kakek menggenggam tangan Neneknya perlahan—Sementara malam terus berjalanMembawa cinta tua yang tak pernah selesai.
Makassar, 23 Mei 2026Kenangan Masa Silam by.Syakhruddin Tagana
Alat AksesVisi