Ungkapan penutup dalam Surah Al-Qadr ayat 5, “Salāmun hiya ḥattā maṭla‘ al-fajr” (Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar), merupakan pernyataan Al-Qur’an yang memiliki kedalaman makna spiritual yang sangat luas. Secara lahiriah ayat ini menggambarkan bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang dipenuhi kedamaian, keberkahan, dan keselamatan hingga datangnya fajar. Namun dalam perspektif sufistik, ayat ini tidak hanya dipahami sebagai keadaan kosmis semata, tetapi juga sebagai simbol perjalanan spiritual manusia menuju kedamaian batin yang sejati.¹
Dalam tafsir para ulama, kata _Salam_ mengandung makna keselamatan, kedamaian, dan terbebas dari segala bentuk keburukan. Al-Qurtubi menjelaskan bahwa malam tersebut disebut malam keselamatan karena pada saat itu para malaikat turun membawa rahmat dan doa keselamatan bagi orang-orang yang beribadah kepada Allah.² Dengan demikian, suasana spiritual pada malam itu dipenuhi oleh limpahan rahmat Ilahi yang menyelimuti bumi hingga terbitnya fajar.
Dalam perspektif tasawuf, kata salām juga dipahami sebagai keadaan batin yang mencapai ketenangan spiritual (sakinah). Para sufi memandang bahwa kedamaian yang disebut dalam ayat ini bukan hanya keadaan eksternal, tetapi juga keadaan hati yang terbebas dari kegelisahan duniawi. Ketika seorang hamba sepenuhnya tenggelam dalam ibadah dan mengingat Allah, maka ia merasakan kedamaian yang berasal dari kedekatan dengan Tuhan.
Imam Al-Qusyairi dalam tafsir sufistiknya menjelaskan bahwa salām pada malam Lailatul Qadar merupakan simbol turunnya cahaya ilahi ke dalam hati manusia. Cahaya tersebut membersihkan jiwa dari kegelapan hawa nafsu dan membuka jalan menuju kesadaran spiritual yang lebih tinggi.³ Dengan demikian, kedamaian pada malam itu merupakan manifestasi dari rahmat Allah yang menyentuh dimensi terdalam jiwa manusia.
Sementara itu, Ibn ‘Arabi memandang bahwa kedamaian dalam ayat tersebut merupakan tanda hadirnya realitas ilahi dalam pengalaman spiritual manusia. Dalam perspektif metafisika tasawuf, ketika hati seorang hamba dipenuhi dengan zikir dan kesadaran ilahi, maka seluruh dimensi keberadaannya menjadi damai. Keadaan ini mencerminkan harmoni antara manusia dan Tuhan yang tercapai melalui ibadah dan kontemplasi spiritual.⁴
Ungkapan “ḥattā maṭla‘ al-fajr” (hingga terbit fajar) juga memiliki makna simbolik dalam tradisi sufistik. Fajar dipahami sebagai simbol pencerahan spiritual setelah melewati kegelapan malam. Malam melambangkan perjalanan batin yang penuh pencarian, sedangkan fajar melambangkan munculnya cahaya pengetahuan dan kesadaran ilahi dalam hati seorang hamba.
Jalaluddin Rumi menggambarkan perjalanan spiritual manusia seperti malam panjang yang dipenuhi pencarian terhadap cahaya Tuhan. Ketika hati mencapai kesadaran ilahi, maka muncullah “fajar spiritual” yang menerangi jiwa dengan pengetahuan dan kedamaian. Dalam konteks ini, Lailatul Qadar menjadi metafora bagi momen ketika cahaya ilahi menyinari hati manusia setelah proses pencarian yang panjang.
Para sufi juga memandang bahwa kedamaian yang berlangsung hingga fajar menunjukkan bahwa rahmat Allah pada malam tersebut bersifat kontinu dan melimpah. Setiap detik dari malam itu dipenuhi oleh peluang spiritual yang dapat mengubah kehidupan seorang mukmin. Oleh karena itu, ibadah pada malam Lailatul Qadar bukan sekadar ritual, tetapi juga proses transformasi batin yang mendalam.
Menurut Ibn Rajab al-Hanbali, kedamaian pada malam Lailatul Qadar terjadi karena pada malam tersebut tidak ada gangguan setan terhadap orang-orang yang beribadah dengan penuh keikhlasan.⁵ Hal ini menjadikan malam tersebut sebagai ruang spiritual yang sangat kondusif bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam perspektif eksistensial tasawuf, ayat ini mengajarkan bahwa kedamaian sejati lahir dari hubungan yang harmonis antara manusia dan Tuhan. Ketika hati manusia dipenuhi dengan kesadaran ilahi, maka segala kegelisahan duniawi akan sirna dan digantikan oleh ketenangan spiritual.
Dengan demikian, ungkapan _“Salāmun hiya ḥattā maṭla‘ al-fajr_ ” tidak hanya menggambarkan keadaan kosmis pada malam Lailatul Qadar, tetapi juga menyimpan makna sufistik yang mendalam tentang perjalanan spiritual manusia. Ayat ini mengajarkan bahwa kedamaian sejati berasal dari kedekatan dengan Allah dan dapat dirasakan oleh hati yang dipenuhi dengan zikir, ibadah, dan kesadaran ilahi hingga terbitnya “fajar” pencerahan spiritual dalam kehidupan manusia.
Catatan Kaki1) Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Qadr: 5.2) Abu Abdullah Al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964), jilid 20, hlm. 137.3) Abdul Karim Al-Qusyairi, Lathaif al-Isyarat (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2007), jilid 3, hlm. 512.4) Ibn ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah (Beirut: Dar al-Sadir), jilid 2, hlm. 384.5) Ibn Rajab al-Hanbali, Lathaif al-Ma’arif (Beirut: Dar Ibn Hazm, 2004), hlm. 193.
Alat AksesVisi